Michael Saputra: Success and Failure in Building Startups is Part of Career Path

After experiencing ups and downs in his career, Michael Saputra, who was the founder of food delivery service startup Klik-Eat and fast food startup Black Garlic, is now COO at PasarPolis.

With extensive experience working in the Indonesian startup since 2012, Michael is currently reluctant to (re)build a new startup and prefers to work at an established startup such as PasarPolis.

He shared stories of success and failure during his time in the industry.

Corporate working is not enough

Michael Saputra with Black Garlic team / DailySocial

In early days of his return from studies in the United States, he had worked in the corporate ecosystem. The atmosphere and the existing routine were not quite match with Michael’s passion. Along with his friend, Willy Haryanto, and other Co-Founders, he started Klik-Eat in early 2012.

Klik-Eat is a food delivery service to provide a solution for those who want to avoid traffic, but still available to enjoy the delicious food from their favorite restaurants.

“My first experience when I started building Klik-Eat was how the company could scale-up. It’s still very limited in resources and the ecosystem we had before, but we were able to run a business,” Michael said.

In addition to its core food delivery business, Klik-Eat has expanded by releasing the online catering service Papa Bento. Klik-Eat had received an award by representing Indonesia in the 2012 Echelon. Klik-Eat covers delivery in the Jakarta, Tangerang, and Bandung areas.

The success of Kik-Eat attracted a Japanese company. In 2014, the largest food delivery service in Japan, Yume no Machi Souzou Iinkai (currently referred to as Yume no Machi) increased its shareholding in Klik-Eat delivery service from 19% to a majority (above 50%).

Klik-Eat has rebranded to Foodspot and directly owned by the Japan team. Michael Saputra and Willy Haryanto, the two surviving co-founders, left the company and founded a new startup called Black Garlic.

Similar to Klik-Eat, Black Garlic offers ready-to-eat products and ingredients directly delivered by its internal team. They work closely with William Wongso Kuliner’s team — with Olivia Wongso as the company’s Chief Product Officer.

The brand-new concept of online catering made it difficult at that time for Black Garlic to develop and be accepted by the community. Eventually, the company had to shut down the service in 2017.

“I have never had any regrets with the Black Garlic shutdown. […] It seems that what we are offering is too early. It might be different if we developed that today, when the situation and conditions [of the food delivery ecosystem] were supportive,” Michael said.

After Black Garlic, Michael joined the car sharing platform with a special automated system for Jakarta residents, Hipcar. The company was founded by Leo Tanady and debuted in 2015 as the first car sharing transportation service in Indonesia. Michael, as the COO considered the Hipcar services have great potential.

“I always have passion in technology. I can see with Hipcar something good could be created with the concept of car rental using other people. At that time I believed in the concept and decided to join Hipcar,” said Michael.

After two years with Hipcar, Michael decided to join Xiaomi Indonesia as THE Head of Operations. He had only been working for 6 months before returned to the startup industry and joined the insurtech startup PasarPolis.

Being an investor is not his passion

Pasar Polis’ COO Michael Saputra with CEO Cleosent Randing / Source

With his experience on building two startups, Michael currently has no desire to build a new startup. He devoted his current time to develop PasarPolis. He wants to grow the company and make it profitable.

“I am not the type of person who likes to do side projects. When I am involved in one thing, I will focus 100%. It is my ideal strategy in order to be successful, to focus only on one area,” Michael said.

His current position as PasarPolis’ COO is expected to balance other C-levels in the company. Michael really appreciate the founder and CEO of PasarPolis, Cleosent Randing. He said, it is already difficult to build a startup with a co-founder, especially when you do it independently. It takes a strong motivation and vision to be able to build and survive.

When most serial entrepreneurs have “changed quadrants” to become investors, Michael said that he was not interested in following this step. Positioning himself as a builder, not as a visionary, Michael is more motivated in building a startup into a big company and growing positively. However, he opens up to new technologies and trends, and keeps an eye on what investors are currently paying attention to.

“Being asked if I’m interested in becoming a full time investor, the answer is no. It’s not my passion as an investor, I’m more interested in operations and not really into predicting the next big thing,” Michael said.

He said, the process of establishing a startup in previous time and the current era is very different. Before the today’s startup ecosystem developed, the business focus was to present a platform that could sell products from offline to online. Meanwhile, more startups are now looking to complete niche and specific solutions for the wider community.

What startup founders do today is even more challenging and risky than in 2012.

“From the investor’s point of view, I also see that more investors are coming in, offering large capital to startups. The money and the stake are different from investors in the past,” Michael said.


Original article is in Indonesian, translated by Kristin Siagian

Michael Saputra: Kesuksesan dan Kegagalan Membangun Startup adalah Bagian Perjalanan Karier

Setelah mengalami pasang surut perjalanan karier, Michael Saputra yang sempat menjadi pendiri startup layanan pengantaran makanan Klik-Eat dan startup bahan makanan siap saji Black Garlic kini menjadi COO di PasarPolis.

Telah memiliki pengalaman berkecimpung di dunia startup Indonesia sejak tahun 2012, Michael enggan untuk (kembali) membangun startup baru dan lebih memilih bekerja di startup mapan seperti PasarPolis.

Ia berbagi kisah kesuksesan dan kegagalan yang dijalaninya selama menjadi berada di industri.

Tidak puas bekerja di korporasi

Michael Saputra bersama tim Black Garlic / DailySocial

Di awal kembali dari studi di Amerika Serikat, ia sempat bekerja di ekosistem korporasi. Suasana dan rutinitas yang ada ternyata tidak cukup sesuai dengan passion seorang Michael. Bersama temannya, Willy Haryanto, dan Co-Founder lainnya, di awal tahun 2012 ia mendirikan Klik-Eat.

Klik-Eat merupakan layanan pengantaran makanan yang mencoba memberikan solusi bagi mereka yang tidak ingin terjebak kemacetan, tapi tetap bisa merasakan nikmatnya makanan dari restoran-restoran favorit.

“Pengalaman saya saat mulai membangun Klik-Eat dulu adalah bagaimana perusahaan bisa scale-up. Memang masih sangat terbatas sumber daya dan ekosistem yang dimiliki dulu, namun kami mampu menjalankan bisnis,” kata Michael.

Selain bisnis inti pengantaran makanan, Klik-Eat juga melebarkan sayapnya dengan merilis layanan katering online Papa Bento. Salah satu penghargaan yang diperoleh Klik-Eat adalah menjadi wakil Indonesia di ajang Echelon 2012. Klik-Eat melayani pengantaran di kawasan Jakarta, Tangerang, dan Bandung.

Kesuksesan Kik-Eat dilirik perusahaan asal Jepang. Di tahun 2014, layanan pengantaran makanan terbesar di Jepang, Yume no Machi Souzou Iinkai (selanjutnya disebut Yume no Machi) mengumumkan peningkatan kepemilikan saham layanan pengantaran Klik-Eat dari 19% menjadi mayoritas (di atas 50%).

Klik-Eat kemdian berubah nama menjadi foodspot dan dipegang langsung oleh tim dari Jepang. Michael Saputra dan Willy Haryanto, dua co-founder yang masih bertahan, meninggalkan perusahaan dan mendirikan startup baru bernama Black Garlic.

Hampir serupa dengan Klik-Eat, Black Garlic menawarkan produk dan bahan makanan siap saji yang diantar langsung oleh tim internal. Mereka bekerja sama dengan tim William Wongso Kuliner — dengan Olivia Wongso menjadi Chief Product Officer perusahaan.

Masih barunya konsep online catering saat itu menyulitkan Black Garlic untuk berkembang dan diterima masyarakat. Pada akhirnya perusahaan harus menutup layanan pada tahun 2017.

“Saya tidak pernah memiliki rasa penyesalan dengan ditutupnya Black Garlic. [..] Nampaknya apa yang kami tawarkan masih terlalu early. Berbeda mungkin jika kami hadir saat ini, ketika situasi dan kondisi [ekosistem pengantaran makanan] telah mendukung,” kata Michael.

Setelah Black Garlic, Michael bergabung di platform car sharing dengan sistem otomatis khusus untuk warga Jakarta, Hipcar. Didirikan oleh Leo Tanady, Hipcar hadir di tahun 2015 sebagai layanan transportasi car sharing pertama di Indonesia. Sebagai COO, Michael melihat layanan yang ditawarkan Hipcar berpotensi menjadi besar.

“Sejak dulu passion saya selalu di ruang teknologi. Saya melihat dengan Hipcar bisa diciptakan sesuatu yang bagus dengan konsep rental mobil memanfaatkan orang lain. Saat itu saya percaya konsep tersebut dan memutuskan untuk berabung dengan Hipcar,” kata Michael.

Setelah dua tahun bergabung dengan Hipcar, Michael memutuskan untuk bergabung dengan Xiaomi Indonesia sebagai Head of Operation. Hanya bekerja di sana selama 6 bulan, Michael kembali ke industri startup dan bergabung ke startup insurtech PasarPolis.

Tidak tertarik menjadi investor

COO Michael Saputra dengan CEO PasarPolis Cleosent Randing / Source

Setelah berkiprah mengembangkan dua startup, saat ini Michael belum memiliki keinginan membangun startup baru. Pengalaman yang dimiliki saat ini dicurahkan untuk mengembangkan PasarPolis. Ia ingin membesarkan perusahaan dan menjadikannya profitable.

“Saya buka tipe orang yang gemar melakukan side project. Ketika saya terlibat dalam satu hal, saya akan fokus 100%. Idealnya memang harus seperti itu agar bisa sukses, yaitu fokus di satu area,” tutup Michael.

Posisinya sebagai COO PasarPolis saat ini diharapkan bisa melengkapi jajaran C-level lainnya di perusahaan. Michael memberikan apresiasi ke pendiri dan CEO PasarPolis, Cleosent Randing. Menurutnya, sangat sulit membangun startup bersama co-founder, apalagi mendirikan startup secara independen. Diperlukan motivasi dan visi yang kuat untuk bisa membangun dan bertahan.

Ketika kebanyakan serial entrepreneur banyak yang “pindah kuadran” menjadi investor, Michael menyatakan tidak tertarik mengikuti langkah tersebut. Memosisikan dirinya sebagai builder, bukan sebagai visionary, Michael lebih tertarik membangun startup menjadi perusahaan yang besar dan tumbuh secara positif. Namun demikian, dirinya terus membuka wawasan terhadap teknologi dan tren yang baru, serta terus menyimak apa yang menjadi perhatian investor saat ini.

“Jika ditanya apakah saya tertarik untuk menjadi full time investor, jawabannya tidak. Bukan menjadi passion saya sebagai investor, saya lebih tertarik kepada operasional dan tidak terlalu menyukai untuk memprediksi the next big thing,” kata Michael.

Menurutnya, proses mendirikan startup dahulu dan sekarang sangat berbeda. Sebelum ekosistem startup berkembang seperti saat ini, fokus bisnis adalah bagaimana bisa menghadirkan platform yang bisa menjual produk dari offline ke online. Sementara saat ini makin banyak startup yang ingin menyelesaikan solusi yang niche dan spesifik untuk masyarakat luas.

Apa yang dilakukan pendiri startup saat ini semakin besar tantangan dan risikonya dibandingkan tahun 2012 lalu.

“Dari sisi investor saya juga melihat makin banyak investor yang masuk menawarkan kapital yang besar kepada startup. The money and the stake sudah berbeda dari investor saat dulu,” kata Michael.

BlackGarlic Konfirmasi Penutupan Layanan

Layanan on-demand bahan siap masak BlackGarlic mengumumkan penutupan layanannya per 15 Juli mendatang. Pasca tanggal tersebut, layanan BlackGarlic Express, yang menjual bumbu masak dan bahan makanan siap saji, bakal diambil alih tim William Wongso Kuliner sebagai pengembang produk ini. Tim BlackGarlic akan beroperasi hingga 19 Juli mendatang.

Informasi ini ironisnya muncul ketika role model layanan ini di Amerika Serikat, Blue Apron, justru sedang mempersiapkan diri untuk go public di bursa saham. Secara implisit, model bisnis seperti ini belum mampu untuk menopang kelangsungan hidup startup yang umurnya hampir mencapai dua tahun ini, meskipun mereka telah melayani 80 ribu porsi makanan dengan hampir 1000 menu dan 10 ribu konsumen yang berbeda.

BlackGarlic didirikan oleh tim yang sukses mengembangkan layanan pengantaran makanan on-demand Klik-Eat, yang kemudian diakuisisi layanan Jepang Yume no Machi. Mereka bekerja sama dengan tim William Wongso Kuliner, dengan Olivia Wongso menjadi Chief Product Officer BlackGarlic.

Dalam pernyataannya, Co-Founder dan CEO BlackGarlic Michael Saputra menyebutkan, ” Keberhasilan saya di startup sebelumnya ternyata tidak menjamin perjalanan ini akan sukses. Walaupun kita semua tahu bahwa tidak semua bisnis akan berhasil, tetapi pengalaman saya menutup bisnis yang sudah 2 tahun saya rintis bersama co-founders saya, dengan semua jatuh bangun, air mata dan jerih payah tetap sangat menyakitkan.”

Meskipun demikian Michael memastikan bahwa kegagalan ini membawa pengalaman yang sangat banyak dibandingkan kesuksesan dia sebelumnya.

Tidak ada informasi terbuka soal jumlah investasi yang dihimpun BlackGarlic selama beroperasi, tetapi Skystar Capital dan Convergence Ventures adalah jajaran investor yang telah menginvestasikan dananya ke layanan ini.

Dalam wawancara dengan DailySocial sekitar 4 bulan yang lalu, Michael mengatakan fokusnya tahun ini adalah loyalitas konsumen dan mereka menghadirkan paket berlangganan mingguan dan memperbarui situs. Sayang cita-cita tersebut kandas dan layanan ini harus ditutup.

Semoga penutupan ini bukan menjadi akhir kiprah Michael dan tim pengembang BlackGarlic dalam mewarnai ekosistem startup teknologi Indonesia.

DScussion #75: Black Garlic dan Komitmen Sebagai Layanan On Demand Bahan Siap Masak

Berangkat dari konsep subscription dan bahan makanan siap masak untuk ibu rumah tangga, Michael Saputra dan mitranya mendirikan Black Garlic. Menyasar target pasar di kawasan Jabodetabek, Black Garlic terus menerima feedback pelanggan untuk menambah dan memperbaiki layanan yang diberikan.

Simak wawancara DailySocial dengan Michael Saputra selengkapnya berikut ini.

Black Garlic Hadirkan Paket Berlangganan Mingguan dan Perbarui Situs

Startup yang menghadirkan catering online dengan menu sehat dan rekomendasi dari chef ternama masih terbilang sedikit jumlahnya. Salah satu brand yang terbilang eksis di segmen ini adalah Black Garlic. Setelah secara resmi menghadirkan paket berlangganan pertengahan tahun 2016 lalu, awal tahun 2017 ini Black Garlic memperbarui situs dan mobile site yang lebih user-friendly untuk kenyamanan pengguna melakukan pemesanan.

“Hingga kini kami telah memiliki seribu pelanggan aktif setiap minggunya yang kerap memesan paket pilihan di Black Garlic. Secara demografi kebanyakan pelanggan setia kami adalah ibu rumah tangga berumur 26-40 tahun. Kebanyakan dari mereka tidak bisa atau tidak mahir memasak dan ingin menyuguhkan makanan sehat dan lezat bagi suami dan anak di rumah,” kata CEO Black Garlic Michael Saputra kepada DailySocial.

Perubahan lain yang juga dilakukan Black Garlic adalah meniadakan sistem pesanan satuan sehingga sistem pemesanan menjadi sepenuhnya berlangganan mingguan. Box bahan makanan dijadwalkan untuk dikirim tiap minggu ke rumah pelanggan.

Black Garlic mengklaim pilihan baru tersebut membuat harga lebih murah dan tanpa komitmen. Selain itu untuk pelanggan yang enggan berlangganan dengan Black Garlic selanjutnya bisa menghentikan program berlangganan kapan saja.

“Black Garlic membuat kegiatan memasak untuk keluarga semakin mudah dan menyenangkan. Bahan makanan dikemas dan ditakar sesuai porsi, disertai panduan cara masak yang membuat siapa saja bisa masak. Format berlangganan mingguan ini telah terbukti sukses dan sangat digemari pelanggan kami karena sesuai dengan kebutuhan keluarganya,” kata Michael.

Fokus ke customer retention

Sejak berdiri tahun 2015 lalu, hingga kini Black Garlic sudah melayani lebih dari 16 ribu rumah tangga di Jabodetabek, dan terus berkomitmen agar semua kalangan bisa memasak tanpa harus direpotkan dengan pembelian bahan. Masih akan terus fokus kepada wilayah Jabodetabek, Black Garlic akan meningkatkan brand awareness dan customer retention.

“Target kami selanjutnya adalah untuk terus berinovasi dalam kualitas dan jumlah produk yang kami tawarkan setiap minggunya kepada pelanggan kami. Ke depannya kami juga akan memperluas kerja sama kami dengan para chef dan brand di seluruh Indonesia untuk memajukan gerakan kembali memasak di rumah,” tutup Michael.

Luncurkan Program Berlangganan, BlackGarlic Berharap Jaring 20 Ribu Pengguna Aktif

Setahun sudahBlack Garlic resmi berdiri. Di umur yang masih mudanya ini, fokus utama kini masih terpaku bagaimana caranya bisa mendapatkan pengguna aktif sebanyak-banyaknya. Sejak September lalu BlackGarlic memperkenalkan layanan terbarunya yakni program berlangganan.

Kepada DailySocial, Michael Saputra selaku CEO dan Founder BlackGarlic menerangkan mendapatkan pelanggan baru adalah tantangan terbesar perusahaan. Michael menyebutkan program berlangganan ini ditargetkan dapat menjaring 20 ribu pelanggan sampai dua tahun mendatang.

Selain itu, pihaknya juga akan menambah cakupan wilayah operasi. Kota yang akan disasar dalam waktu dekat adalah Bandung. Sementara ini, Black Garlic baru beroperasi di kawasan Jabodetabek.

Tak hanya itu, BlackGarlic juga akan menempuh jalur pemasaran secara offline. Kebanyakan konsumen BlackGarlic adalah kalangan ibu rumah tangga yang belum terlalu memahami berbelanja secara online.

“Tantangan terbesarnya adalah akuisisi konsumen baru. Harus ada penyesuaian marketing channel. Jadinya kami juga banyak mengadakan kegiatan secara offline. Ini fokus utama kami,” terangnya.

BlackGarlic juga akan gencar menjalin kemitraaan dengan perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) untuk joint marketing. Rencananya, tahun depan BlackGarlic akan meluncurkan aplikasi smartphone untuk Android.

Sepanjang tahun ini, sambung Michael, BlackGarlic telah mengembangkan menu. Kini tersedia 11 varian menu yang akan selalu diperbarui tiap minggunya, untuk sarapan, makan siang, malam, menu bekal anak, hingga pencuci mulut. Untuk skema pemesanannya, konsumen bisa memanfaatkan fitur berlangganan secara harian atau mingguan.

Mereka bisa dengan leluasa memilih jumlah menu dan porsi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bila konsumen memesan selama satu pekan, akan mendapat satu boks yang isinya berbagai macam menu sesuai pesanan mereka. Tersedia juga instruksi memasak yang mudah diaplikasikan dan siap santap kurang dari 30 menit.

Michael memberikan jaminan seluruh porsi makanan yang disediakan sudah memenuhi takaran untuk satu resep, sehingga tidak ada sisa makanan yang terbuang. “Sejak pertama kali berdiri, ada banyak penambahan produk. Awalnya kami masih berupa layanan untuk makan malam saja dengan model a la carte, sekarang sudah banyak menu lebih variatif.”

Dia menerangkan, seluruh proses pemilihan menu, hingga pengemasan dilakukan oleh tim Black Garlic. Sementara, untuk pengirimannya dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Salah satu perusahaan logistik yang sudah menjadi mitra BlackGarlic adalah NinjaExpress.

Untuk pengadaan bahan makanan, BlackGarlic bekerja sama dengan supplier spesifik. Misalnya, daging ayam membeli ke salah satu anak usaha Japfa, untuk sayuran membeli langsung ke petani di Lembang, Bandung.

“Untuk pengadaan bahan, kami spesifik bekerja sama dengan supplier yang memang khusus menyediakan bahan-bahan tertentu.”

Kompetitor yang head to head dengan BlackGarlic untuk layanan seperti ini adalah Berry Kitchen. Startup tersebut memiliki menu layanan Ready to Cook, sama seperti produk utama yang dimiliki oleh BlackGarlic.

Dalam perkembangannya untuk memperluas fasilitas produksi perusahaan dan meningkatkan upaya pemasaran, BlackGarlic telah mendapatkan investasi awal dari Skystar Capital dan Convergence Ventures pada Januari lalu.

Ketika Pendiri Memutuskan Menjual Startup-nya

Akuisisi dan merger perusahaan pada dasarnya adalah hal yang lumrah terjadi dalam dunia bisnis. Pun begitu, terkadang terlewat juga pertanyaan mengapa keputusan untuk menjual startup diambil pendiri bahkan ketika startup yang dibangun berada di jalur yang tepat. Meski ada beragam pendapat, namun kami mencoba untuk melihat dari sudut pandang pemain lokal yang pernah menjual startup-nya seperti Jason Lamuda (Co-Founder Disdus), Andry Suhaili (Founder PriceArea), dan Michael Saputra (Co-Founder Klik-Eat).

Skema akusisi dan merger memang terlihat mudah untuk dilakukan di atas permukaan, namun pada kenyataanya ada banyak hal perlu dipertimbangkan oleh pendiri ketika akan mengambil keputusan ini. Bukan hanya sekedar memiliki kesamaan visi, ingin perusahaan terselamatkan, ada kata sepakat, dan selesai begitu saja.

Apa yang harus ditanyakan kepada diri sendiri sebelum menjual startup?

Jason, yang sebelumnya membangun Disdus dan kini membangun Berrybenka, mengatakan, “Di saat ada offer untuk diakuisisi, harus ada pertimbangan seorang founder sebagai ‘management of the company’ dan sebagai ‘shareholder of the company’. Ini adalah dua hal yang berbeda dan belum tentu objektifnya sama.”

[Baca juga: Keputusan Mengambil Uang Tunai atau Saham Ketika Menjual Startup]

Lebih jauh, Jason juga menyampaikan lima hal yang harus dipikirkan oleh pendiri disaat akan mengambil keputusan untuk menjual startup-nya, yaitu:

  1. Apakah lebih baik bagi perusahaan untuk stay independent atau diakuisisi sekarang? Jika stay independent, financial gain-nya apa? ROI (Return of Investment) untuk shareholder berapa?
  2. Berapa likuiditas / cashout untuk akuisisi?
  3. Berapa lama lock-up­ period untuk continue menjadi manajemen setelah akuisisi?
  4. Apakah pendiri mau / bersedia untuk bekerja sama untuk acquirer?
  5. Apakah shareholders lainnya akan setuju? Berapa ROI mereka?

Pertimbangan peluang pribadi dan perusahaan

Setali tiga uang, Andry yang kini tetap membangun PriceArea setelah diakusisi Yello juga menyuarakan hal yang tidak jauh berbeda. Andry mengatakan bahwa pada dasarnya kesepakan akuisisi dan merger bisa terjadi karena memang ada benefit untuk pribadi dan perusahaan.

“Dari sisi pribadi, ini seperti peluang emas untuk loncat ke pencapaian karier yang lebih tinggi. Bisa lebih cepat belajar dan juga mengalami dan memperluas networking. Faktor lainnya juga dari segi keuangan yang saya terima, karena mencairkan saham,” ujar Andry.

Andry menambahkan, “Dari sisi perusahaan, saya melihat peluang untuk mendapatkan direct access ke resource yang mungkin sulit saya capai jika [hanya] berjalan bersama investor. Resources yang saya maksud adalah, Know-how, Teknologi, Keuangan, Manajemen, dan lainnya. Waktu itu saya juga berpikir kalau bergabung dengan tim yang jauh lebih kuat pasti bisa mengakselerasi growth yang saya inginkan, lebih cepat ketimbang bila saya lakukan sendiri.”

Andry juga menceritakan bahwa sebelum diakuisisi waktunya lebih banyak tersita untuk kegiatan fund raising ke VC demi mengangkat nilai perusahaan dan mencari modal kerja. Kini, setelah proses akuisisi, pihaknya bisa lebih fokus dalam membangun perusahaan (produk dan tim) bekerja sama secara langsung dengan tim internal dari parent company.

In the end, startup is a business that need return value

Pandangan yang tak jauh berbeda juga disampaikan oleh Michael yang sebelumnya membangun Klik-Eat dan kini membangun Black Garlic. Menurut Michael, sudah menjadi tugas seorang pendiri atau CEO untuk memberikan nilai balik terbaik kepada shareholder perusahaan, karena membangun startup adalah bisnis.

Michael mengatakan, “Startup itu bisnis, dan seperti bisnis lainnya, dia perlu menghasilkan pemasukan atau nilai balik investasi terbaik untuk para shareholder. Sebagai CEO [atau pendiri], sudah jadi tugas saya untuk memberikannya. Jadi ketika ini berkaitan dengan menjual startup, proses pengambilan keputusan utama harus diarahkan untuk menjawab pertanyaan itu. […] Jika penawaran tidak merefleksikan nilai perusahaan dan perusahaan bisa menghasilkan nilai yang lebih baik di masa depan, tidak perlu menjualnya.”

[Baca juga: 5 Kesalahan yang Kerap Dilakukan Entrepreneur Saat Menjual Startup]

“Tentu pada kenyataannya tidak akan sesederhana itu karena yang namanya buyout offer itu ada banyak macamnya, dari jenis buyout-nya (all cash, all stock, combination of them, etc) sampai terms lainnya seperti payout tranches, future performance based payment, etc. That’s where the water becomes muddy and experience is needed,” ujar Michael lebih jauh.

Ketika keputusan untuk menjual startup harus diambil, alasan ataupun latar belakangnya akan kembali kepada masing-masing individu pendiri. Ada yang menjual startup karena dia sudah merasa cukup dan ingin beristirahat, ada juga yang ingin mengakselerasi pertumbuhannya seperti Andry, dan tak jarang juga yang memulai sebuah lembaran baru seperti yang dilakukan oleh Jason dan Michael. Toh pada akhirnya startup adalah bisnis dengan merger dan akusisi yang menjadi bagian jalan ceritanya.

Layanan Pengantaran Bahan Makanan Siap Masak Black Garlic Targetkan Perolehan Seed Funding Akhir Tahun Ini

Black Garlic ingin memperoleh keuntungan first mover di segmen pengantaran bahan makan siap masak / DailySocial

Segar setelah mengundurkan dari Klik-eat, Michael Saputra dan Willy Haryanto tak membuang-buang waktu dan langsung mendirikan startup baru Black Garlic sejak 2 Juli lalu. Black Garlic menyediakan layanan preplan home meal kit delivery, atau pengantaran bahan-bahan makanan siap masak. Mereka menggandeng Olivia Wongso, anak ahli kuliner William Wongso sebagai salah satu co-founder. William Wongso sendiri terlibat di Black Garlic sebagai advisor.

Continue reading Layanan Pengantaran Bahan Makanan Siap Masak Black Garlic Targetkan Perolehan Seed Funding Akhir Tahun Ini

Yume no Machi Souzou linkai Acquires Klik-Eat

shutterstock_196323110

Yume no Machi Souzou linkai (shortened to Yume no Machi), the largest food delivery server in Japan, has just increased its possession of Klik-Eat’s shares to 55,6% from 19%. This makes the collaboration of Yume no Machi, IMJ Investment Partners, and a Japan-based private investor, according to the information we’ve obtained, control 80% of Klik-Eat’s shares. This new acquisition, however, doesn’t change Klik-Eat’s structure, as Michael Saputra and Willy Haryanto, Klik-Eat’s co-founders, still in the lead.

Continue reading Yume no Machi Souzou linkai Acquires Klik-Eat

Yume no Machi Souzou Iinkai Akuisisi Klik-Eat

Layanan pengantaran makanan terbesar di Jepang Yume no Machi Souzou Iinkai (selanjutnya disebut Yume no Machi) mengumumkan peningkatan kepemilikan saham layanan pengantaran Klik-Eat dari 19% menjadi 55,6%. Menurut informasi yang kami terima, Yume no Machi bersama dengan IMJ Investment Partners dan sebuah private investor yang berbasis di Jepang secara total menguasai 80% saham Klik-Eat. co-founder Klik-Eat Michael Saputra dan Willy Haryanto akan tetap memimpin perusahaan hasil akuisisi.

Continue reading Yume no Machi Souzou Iinkai Akuisisi Klik-Eat