Dagangan Secures 163.7 Billion Rupiah Series A Funding, Intensifying Penetration to Tier 3 & 4 Cities

Social commerce startup Dagangan announced its series A funding worth of $11.5 million or equivalent to 163.7 billion Rupiah. The round was led by Monk’s Hill Ventures with the participation of MMS Group, K3 Ventures, Spiral Ventures, and Plug and Play.

Previously, the startup that was founded in 2019 announced a pre-series A funding with an undisclosed value from CyberAgent Capital, Spiral Ventures, 500 Startups, and Bluebird Group in June 2021.

Dagangan’s Co-Founder & CEO, Ryan Manafe revealed to DailySocial, the company has achieved revenue record in mid-2020, the trend continues today. It is suspected that various restrictions during the pandemic has resulted in the demand for daily needs online are rising.

Unlike in urban areas, people in rural areas have their own challenges in getting their daily needs online. “The situation is getting worse as accessibility issues that persist in rural areas, where retailers have to bear the cost of inefficient logistics for commuting to and from the city. Dagangan aims to address these issues and is now on the right track,” Ryan said.

He continued, “Our vision is to enable 100 million people in underserved rural areas to have easy access to quality daily necessities at affordable prices.”

The fresh money is to be used to develop private-label local products such as frozen foods, groceries, and household appliances. In addition, they will continue product development and add new features including paylater. Access to logistics services will also be sharpened, while talent acquisition efforts and partnership expansion will be enhanced.

Dagangan will intensify expansion in tier 3-4 cities and villages in Java, Sumatra, and Kalimantan.

Business challenges

To date, there are some challenges remain by the company as it started to reach tier 3-4 cities and villages. Among them is user acquisition with low technology adaptation. Education is highly needed, therefore, they are accustomed to using applications and making purchases online. The next effort was to intensify user acquisition activities offline.

“However, we are indirectly helped by social distancing awareness and user willingness to learn and adapt [to digital services]. In the future we plan to reduce the offline acquisitions by gradually switching to digital acquisitions,” Ryan said.

Another challenge is the dependence on local approaches. Therefore, companies need to build strong local teams in each area and establish partnerships.

Problem also arise on the limited logistics infrastructure. With limited infrastructure in rural areas, both suppliers and consumers face the challenge of selling and buying products. Even as e-commerce services increase, the magnitude of logistics costs is difficult to avoid. Dagangan implements Hub-and-Spoke to help solve this problem.

“This also gives us a challenge as we have to keep opening new hubs in various regions. We plan to expand our business not only to other regions, but also to other channels, such as selling our private-label products through e-commerce and export services,” Ryan added.

One of the Dagangan’s focus this year is to develop private-label products. There are many local products with great potential, but only available for the area or focused on tourists (eg bakpia in Yogyakarta). Some of these products are getting exported, but are not widely available even in Java. For people in big cities, they may be able to easily buy these products through e-commerce services, but rural markets remain underserved due to expensive logistics costs.

“This is where Dagangan comes in handy. We want to empower these products, especially those in high demand and most of the not-widely-recognized products (eg honey, brown sugar, local snacks) through our private-label products. beneficial for stakeholders, but can also increase profitability,” Ryan said.

Social commerce outsite big cities

Various social commerce startups focus on markets in rural areas. The concept offered is considered more relevant, because in general, social commerce helps empower the surrounding community as part of the business, for example becoming a reseller.

Another startup in the vertical is Super. Recently received its series B funding of IDR 405 billion in April 2021, they have operated in 17 koa in East Java. The company utilizes a hyperlocal logistics platform to distribute consumer goods to agents in less than 24 hours after ordering. Super works with thousands of agents to distribute thousands to millions of necessities every month. Most of these agents are women.

In addition, there are RateS, Evermos, KitaBeli, and others. The size of the market is tempting. According to Bain & Co. data, in 2020 the total GMV for online trading businesses in Indonesia has reached $47 billion. Although the majority come from e-commerce or online marketplaces, social commerce services have no small contribution, which is around $12 billion.


Original article is in Indonesian, translated by Kristin Siagian

Application Information Will Show Up Here

Dagangan Kantongi Pendanaan Seri A 163,7 Miliar Rupiah, Gencarkan Penetrasi ke Kota Tier-3 dan 4

Startup social commerce Dagangan mengumumkan telah mendapatkan pendanaan seri A senilai $11, 5 juta atau setara 163,7 miliar Rupiah. Putaran ini dipimpin oleh Monk’s Hill Ventures dengan keterlibatan MMS Group, K3 Ventures, Spiral Ventures, dan Plug and Play.

Sebelumnya, startup yang berdiri sejak tahun 2019 tersebut mengumumkan pendanaan pra-seri A dengan nilai dirahasiakan dari CyberAgent Capital, Spiral Ventures, 500 Startups, dan Bluebird Group pada Juni 2021 lalu.

Kepada DailySocial.id, Co-Founder & CEO Dagangan Ryan Manafe mengungkapkan, perusahaan mencatatkan rekor pendapatan pada pertengahan tahun 2020, trennya berlanjut sampai saat ini. Hal ini ditengarai adanya berbagai pembatasan selama pandemi, menjadikan opsi pemenuhan kebutuhan sehar-hari secara online makin diminati.

Berbeda dengan orang yang tinggal di perkotaan, masyarakat di pedesaan memiliki tantangan tersendiri untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara online. “Kondisi tersebut diperburuk dengan masalah aksesibilitas yang berlangsung di daerah pedesaan, di mana pengecer harus menanggung biaya logistik yang tidak efisien untuk perjalanan pulang-pergi ke kota. Dagangan mencoba mengatasi persoalan tersebut dan saat ini telah berada di lintasan yang benar,” ujar Ryan.

Ia melanjutkan, “Visi kami menjadikan 100 juta orang di pedesaan yang kurang terlayani bisa memiliki akses mudah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari berkualitas dengan harga terjangkau.”

Dana segar yang didapat rencananya juga akan digunakan untuk mengembangkan produk lokal private-label seperti makanan beku, bahan makanan, dan peralatan rumah tangga. Selain itu mereka akan melanjutkan pengembangan produk dan menambah fitur baru termasuk paylater. Akses ke layanan logistik juga akan dipertajam, sembari upaya akuisisi talenta dan perluasan kemitraan.

Dagangan akan memperluas  ekspansi di kota dan desa tier 3-4 di wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Tantangan bisnis

Hingga saat ini masih ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh perusahaan saat mulai menjangkau kota dan desa tier 3-4. Di antaranya adalah akuisisi pengguna dengan adaptasi teknologi yang rendah. Dibutuhkan edukasi agar mereka terbiasa untuk menggunakan aplikasi dan melakukan pembelian secara online. Upaya yang kemudian dilakukan adalah menggencarkan kegiatan akuisisi pengguna secara offline.

“Namun secara tidak langsung kami terbantu social distancing awareness serta kemauan pengguna untuk belajar dan beradaptasi [dengan layanan digital]. Ke depannya kami berencana untuk mengurangi porsi akuisisi offline dengan secara bertahap beralih untuk akuisisi secara digital,” kata Ryan.

Tantangan lainnya yang juga masih dihadapi adalah ketergantungan pada pendekatan lokal. Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun tim lokal yang kuat di setiap area dan menjalin kemitraan.

Persoalan lain adalah terbatasnya infrastruktur logistik. Dengan infrastruktur yang terbatas di daerah pedesaan, baik pemasok dan konsumen menghadapi tantangan menjual dan membeli produk. Bahkan ketika layanan e-commerce meningkat, besarnya biaya logistik sulit untuk dihindari. Dagangan mengimplementasikan Hub-and-Spoke untuk membantu memecahkan masalah ini.

“Ini juga memberi kami tantangan karena kami harus tetap membuka hub baru di berbagai daerah. Kami berencana untuk memperluas bisnis kami tidak hanya ke daerah lain, tetapi juga ke kanal lain, seperti menjual produk private-label kami melalui layanan e-commerce dan ekspor,” kata Ryan.

Salah satu fokus bisnis Dagangan tahun ini yang ingin dikembangkan adalah produk private-label. Terdapat banyak produk lokal dengan potensi besar, tetapi biasanya hanya tersedia untuk kawasan tersebut atau terfokus untuk wisatawan (misalnya bakpia di Yogyakarta). Beberapa dari produk tersebut ada yang kemudian diekspor, tetapi tidak tersedia secara luas bahkan di pulau Jawa. Bagi masyarakat di kota besar, mereka mungkin dapat dengan mudah membeli produk tersebut melalui layanan e-commerce, namun pasar pedesaan tetap kurang terlayani karena biaya logistik yang mahal.

“Di sinilah Dagangan datang untuk membantu. Kami ingin memberdayakan produk-produk ini, terutama yang memiliki permintaan tinggi dan kebanyakan produk yang belum dikenali secara luas (misalnya madu, gula merah, makanan ringan lokal) melalui produk private-label kami. Ini tidak hanya bermanfaat bagi para stakeholder, tetapi juga dapat meningkatkan profitabilitas,” kata Ryan.

Social commerce di luar kota besar

Berbagai startup social commerce fokus menggarap pasar di pedesaan. Konsep yang ditawarkan dinilai lebih relevan, karena pada umumnya social commerce turut memberdayakan masyarakat sekitar sebagai bagian dari bisnis, misalnya menjadi reseller.

Startup lain yang turut bermain di vertikal tersebut adalah Super. Baru mendapatkan pendanaan seri B 405 miliar Rupiah pada April 2021 lalu, mereka telah beroperasi di 17 koa di Jawa Timur. Perusahaan memanfaatkan platform logistik hyperlocal untuk mendistribusikan barang kebutuhan konsumen ke agen-agen dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pemesanan. Super bekerja sama dengan ribuan agen untuk mendistribusikan ribuan sampai jutaan barang kebutuhan setiap bulannya. Kebanyakan para agen tersebut adalah perempuan.

Selain itu masih ada RateS, Evermos, KitaBeli, dan lain-lain. Ukuran pasarnya memang menggiurkan. Menurut data Bain & Co., pada tahun 2020 total GMV untuk bisnis perdagangan online di Indonesia telah mencapai angka $47 miliar. Kendati mayoritas datang dari e-commerce atau online marketplace, layanan social commerce memiliki sumbangsih yang tidak kecil, yakni sekitar $12 miliar.

Application Information Will Show Up Here