Layanan KTA Online Tunaiku Incar Penyaluran Lebih Dari Rp1 Triliun Sepanjang 2018

Layanan KTA online Bank Amar “Tunaiku” mengincar realisasi penyaluran pinjaman lebih dari Rp1 triliun sepanjang tahun ini untuk 100 ribu nasabah di seluruh Indonesia.

Target yang dipasang ini sebenarnya hampir melampaui bila dilihat dari pencapaian yang diklaim perusahaan sebesar Rp700 miliar untuk 70 ribu nasabah hingga pertengahan Mei 2018. Pertumbuhan bisnis secara keseluruhan di Tunaiku tumbuh rerata 30% per kuartalnya.

“Tahun ini kami memasuki usia ke-4. Misi kami adalah memberikan kredit untuk orang yang benar-benar butuh, bukan sekadar untuk kebutuhan konsumtif,” terang CEO Tunaiku Vishal Tulsian kepada DailySocial.

Pihaknya akan terus memperbaiki kualitas pelayanan agar proses pengajuan semakin seamless dan ramah bagi nasabah baru baik di situs desktop maupun aplikasi. Pun demikian, dari segi kualitas credit scoring untuk percepat penyaluran dana, sekaligus menekan kredit macet agar tidak tinggi.

Produk pinjaman pribadi seperti Tunaiku memiliki tantangan tersendiri dalam penyalurannya. Perusahaan harus memastikan tujuan penggunaannya harus tepat, bukan untuk kebutuhan konsumtif. Untuk itu kualitas saat melakukan credit scoring harus bagus karena risikonya besar.

“Tim data scientist kami membangun algoritma credit scoring yang canggih sehingga kami cukup memanfaatkan web footprint untuk bantu kami dalam menilai kualitas calon nasabah.”

Untuk pengajuan pinjaman di Tunaiku, calon nasabah dapat mengajukan mulai Rp2 juta-Rp20 juta dengan tenor 6-20 bulan, berbekal KTP saja. Besaran bunga yang diberlakukan adalah 3% per bulan (flat), berlaku untuk seluruh nasabah.

Mayoritas nasabah Tunaiku berlokasi di Jabodetabek dan Surabaya (kantor pusat Bank Amar). Bila digabung porsi dari dua lokasi tersebut mencapai 70% dari total nasabah. Tunaiku juga hadir di Sidoarjo dan Gresik. Sumbangsih dari Tunaiku masih menyumbang kurang dari 30% terhadap total portofolio bisnis KTA di Bank Amar.

Persaingan dengan fintech lending lainnya

Sebagai salah satu pionir layanan fintech lending di Indonesia, Vishal mengaku, pihaknya mengalami perjalanan yang panjang hingga akhirnya kini masyarakat mulai mengenal industri fintech. Lantaran pada waktu itu belum ada aturan yang mengatur bisnis fintech, terutama lending online.

“Kami turut berpartisipasi dengan regulator untuk membuat aturan soal lending. Sebab pada saat kami menghadirkan Tunaiku, fintech belum dikenal sama sekali.”

Lain dulu lain sekarang, sudah banyak pemain fintech lending yang beroperasi di Indonesia. Vishal mengaku pihaknya tidak khawatir dengan hal tersebut, sebab secara model bisnis, Tunaiku berada di posisi tengah-tengah. Antara fintech yang memberikan pinjaman dengan bunga harian dan fintech yang memberikan pinjaman untuk UKM.

Menurutnya, untuk menghadirkan layanan seperti Tunaiku memiliki tantangan, salah satunya KTA tergolong pinjaman tanpa jaminan sehingga risikonya besar. Memang, memberikan bunga harian yang tinggi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan.

Cara tersebut justru dinilai jadi tidak membantu nasabah karena cicilannya yang memberatkan. Untuk itu diputuskan untuk memberlakukan bunga flat untuk semua jenis nasabah, kendati mereka memiliki reputasi kredit yang kurang bagus.

“Tidak ada fintech yang beri pinjaman KTA dengan tenor antara 6-20 bulan, itu posisi kami. Inilah yang membedakan kami dengan fintech lending lainnya.”

Tambah kemitraan dengan Investree

Vishal, yang juga merupakan Managing Director Bank Amar, menambahkan saat ini perusahaan telah menambah kemitraan dengan Investree dengan menjadi lender dari kalangan institusi untuk para pengusaha UMKM.

Upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan target pertumbuhan kredit Bank Amar, khususnya kredit produktif. Sebelum teken kemitraan dengan Investree, sebelumnya Bank Amar juga menjadi lender untuk Amartha dan Mekar.

“Penandatanganan ini adalah bukti kami kepada pemerintah yang menyatakan bahwa ke depannya inovasi digital akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan sektor UMKM, serta mampu memberikan dorongan finansial bagi masyarakat yang underserved,” pungkas Vishal.

Platform Fintech Bank Amar “Tunaiku” Kini Terintegrasi dengan Sistem Dukcapil, Permudah Verifikasi Nasabah

Bank Amar kini telah bergabung ke dalam salah satu perusahaan yang telah mendapat izin dari Dirjen Dukcapil (Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil) untuk mengakses data kependudukan dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis. Lewat kesempatan ini, Bank Amar akan manfaatkan akses untuk percepat mekanisme validasi data nasabah yang selama ini masih dilakukan secara manual.

“Dengan Dukcapil ini, mekanisme validasi akan semakin akurat dari sisi kecepatan dan ketepatannya. Kami juga bisa mitigasi risiko dengan mengkalkulasi kemungkinan gagal bayar,” ucap Direktur Utama Bank Amar Indonesia Tuk Yulianto, pekan lalu (23/3).

Dia melanjutkan, dampak lainnya bagi bank adalah proses penyaluran kredit maupun operasional bakal lebih termitigasi dengan baik. Begitu pula terkait potensi terjadinya kejahatan perbankan atau fraud yang memanfaatkan KTP palsu.

Salah satu produk fintech andalan Bank Amar, Tunaiku, bakal menjadi amunisi yang paling tepat untuk implementasi dari integrasi data ke Dukcapil. Menurutnya, proses pengambilan keputusan akan jauh tiga kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

“Paling tidak dalam fase pencocokan identitas ini akan sangat terbantu sekali. Ketika tidak jelas, bisa langsung d- drop. Waktu kita akan 50% lebih efisien,”

Dia mencontohkan untuk proses pengajuan kredit di Tunaiku, sebelumnya bisa memakan waktu hingga 24 jam hingga dana cair. Namun, dengan integrasi data proses tersebut akan terpangkas menjadi sekitar enam jam.

Diklaim berdasarkan kinerja hingga Februari 2018, secara konsolidasi baik bisnis konvensional maupun lini digital telah menyalurkan kredit sekitar Rp500 miliar.

Selain Bank Amar, dalam kesempatan yang sama Dukcapil juga menandatangani kerja sama dengan delapan lembaga keuangan lainnya, yaitu BRI Agro, Central Santosa Finance, MNC Bank, BNI Syariah, Mitra Dana Top Finance, Shakti Top Finance, Mega Auto Finance, dan Mega Central Finance.

Menurunkan kredit bermasalah

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menambahkan dampak dari integrasi data dengan Dukcapil, perbankan dapat memperoleh efisiensi dari tiga aspek, yaitu waktu, biaya, dan proses. Menurutnya, dulu bank butuh waktu lama untuk mencari dan mengumpulkan data calon nasabah seperti alamat dan aset.

Lewat data yang telah terintegrasi ini, hal-hal tersebut bisa dipangkas dan bank bisa bisa memperoleh peluang bisnis baru. Secara tidak langsung, integrasi data akan perkecil potensi terjadinya kredit bermasalah.

Firman bilang, kualitas kredit bergantung pada analisisnya. Nah, kualitas analisa ditentukan oleh kualitas kredit. “Jadi saling melengkapi antara kualitas sumber daya manusia dan teknologi,” terangnya.

Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh menuturkan kerja sama dengan 9 lembaga keuangan ini adalah tindak lanjut atas nota kesepahaman antara Mendagri dengan OJK pada 2014 untuk kerja sama pemanfaatan nomor induk kependudukan (NIK), data kependudukan, dan KTP elektronik.

Zudan bilang, kerja sama ini juga akan berikan dampak positif bagi Kemendagri dalam melengkapi basis data kependudukan mengenai transaksi keuangan. Dalam teknisnya, administrator yang ditunjuk oleh lembaga yang bekerja sama akan mendapat password untuk mengakses data kependudukan. Data pribadi, tidak boleh disebar luaskan dan hanya bisa digunakan untuk kepentingan yang bersangkutan.

“Kami telah bekerja sama dengan 973 lemabga jasa keuangan, diharapkan dapat turut menekan peluang pembuatan KTP palsu. Dengan penggunaan sistem data informasi yang telah terjamin akurasinya, celah terjadinya kejahatan financial dengan KTP palsu bisa terhindari,” pungkas Zudan.

Dari data Dukcapil, sebanyak 97,4% penduduk Indonesia telah melakukan perekaman KTP elektronik dari total 262 juta penduduk. Zudan juga meminta pihak lembaga keuangan untuk bantu sosialisasi dan mewajibkan nasabahnya menggunakan KTP elektronik.