Ingin Tontonan Netflix jadi Lebih Jernih? Ini Dia Cara Mengatur Resolusinya!

Bagi penikmat Film, tentunya sudah tidak asing dengan Netflix yang memudahkan Anda untuk menonton film dari manapun dan kapanpun, tapi seringkali permasalahan dalam menonton Netflix adalah Anda bingung untuk mengubah kualitas video yang anda tonton, berikut ini cara mengatur kualitas video di Netflix yang bisa Anda ikuti

Cara Mengatur Kualitas Video Netflix di HP

  • Bukalah Netflix di perangkat Anda.
    cara mengatur kualitas video netflix
     
  • Masukan email dan password Anda untuk masuk ke akun.
    cara mengatur kualitas video netflix
     
  • Setelah masuk, klik kanan atas pojok layar Anda.cara mengatur kualitas video netflix
  • Selanjutnya carilah App Settings dan klik.
    cara mengatur kualitas video netflix
  • Anda kemudian akan melihat Video Playback dan tekanlah.
    cara mengatur kualitas video netflix
  • Selanjutnya dalam Netflix Anda hanya bisa memilih Wifi Only, Save Data, Maximum Data ataupun Otomatis. Dimana dengan anda menekan Save Data, resolusi anda akan di bawah SD, Sedangkan pada Maximum data akan membawa resolusi tontonan anda menjadi HD maupun Ultra HD.
  • Tekanlah salah satu yang menurut Anda nyaman untuk dinikmati.

Cara Mengatur Kualitas Video Netflix di PC

  • Bukalah Browser dan kunjungi halaman Netflix.
  • Masukan Email dan Password Anda untuk masuk ke akun.
    cara mengatur kualitas video netflix
     
  • Di Sebelah kanan atas layar anda, anda bisa mengklik profil anda.cara mengatur kualitas video netflix
  • Kliklah Accountcara mengatur kualitas video netflix
  • Selanjutnya dalam Netflix Anda hanya bisa memilih Wifi Only, Save Data, Maximum Data ataupun Otomatis. Dimana dengan anda menekan Save Data, resolusi anda akan di bawah SD, Sedangkan pada Maximum data akan membawa resolusi tontonan anda menjadi HD maupun Ultra HD.
  • Pilihlah salah satu yang nyaman untuk anda gunakan.

Selesai, itu dia cara mengatur resolusi tontonan anda di Netflix, tak perlu bingung, resolusi film Netflix pada dasarnya sudah diatur secara otomatis agar tontonan Anda menjadi yang paling baik untuk digunakan ketika  menggunakannya. Selamat menonton!

Berikut ini video cara mengatur resolusi di Netflix yang bisa anda ikuti.

 

Gambar Header Pixabay

Cara Berlangganan Netflix, Nonton Film Box Office dari Rumah

Karena kendala Pandemi, seringkali aksi untuk menonton film di Bioskop kini terganggu. Namun sejak perkembangan teknologi, ada berbagai platform streaming film yang kini bisa menjadi solusi untuk anda yang ingin menonton film yang beragam, ini dia cara berlangganan Netflix untuk anda yang hobi menonton film.

Cara Berlangganan Netflix

Untuk Netflix sendiri, anda bebas mengatur pendaftaran Netflix kapan saja dan dari mana saja, tentunya tidak kontrak maupun biaya pembatalan apabila anda tidak ingin melanjutkan untuk berlangganan Netflix, ini dia cara berlangganan Netflix yang bisa anda ikuti:

  • Unduhlah aplikasi Netflix melalui Google Play Store atau mengunjungi website Netflix.
    cara berlangganan netflix
  • Buatlah Akun dengan memasukan email maupun kata sandi anda.cara berlangganan netflix
  • Pilihlah Paket tontonan yang anda inginkan.
    cara berlangganan netflix
  • Kemudian anda bisa memiliki metode pembayaran yang ingin anda gunakan.
    cara berlangganan netflix
  • Bayarlah akun Netflix anda hingga mendapat konfirmasi dari Netflix.
    cara berlangganan netflix
  • Selesai, anda bisa langsung menonton film kesukaan anda di Netflix.

 

Demikian cara untuk berlangganan Netflix yang bisa anda ikuti dan tentunya membuat hobi menonton anda tetap tersalurkan, dengan berlangganan Netflix juga anda bisa menonton dari berbagai tempat dengan banyak pilihan film yang tidak terbatas! Yuk Buruan Coba!

Apabila anda masih bingung, berikut ini video Tutorial langganan Netflix yang bisa anda tonton:

Gambar Header Pixabay

Ini Dia Cara Daftar Netflix di Hp dan PC, Mudah Kok!

Netflix memang sekarang menjadi salah satu wadah bagi siapapun yang ingin menonton film atau series yang beraneka ragam temanya. Netflix juga memiliki keunggulan dimana anda bisa menonton film di perangkat jenis apapun, mulai dari smartphone anda, TV bahkan juga Laptop. Ini dia cara daftar Netflix di HP dan PC yang mudah untuk anda ikuti, yuk disimak!

Cara Daftar Akun di Netflix

Untuk mendaftarkan diri anda di Netflix, anda bisa menggunakan perangkat smartphone maupun PC anda sendiri, tak perlu bingung, keduanya sama sama mudah untuk diikuti dan anda bisa melakukan transaksi berlangganan dengan cepat juga, berikut ini ada dua cara daftar Netflix.

Daftar Netflix di Android

  • Unduhlah aplikasi Netflix di Google Play Store ataupun mengunjungi halaman Netflix di browser andacara daftar netflix
  • Buatlah akun dengan cara memasukan Email dan Password.cara daftar netflix
  • Bukalah kotak email anda karena Netflix akan mengirimkan link konfirmasi pendaftaran melalui email anda.
  • Pilihlah paket langganan apa yang anda ingin gunakan.cara daftar netflix
  • Selanjutnya anda diminta untuk memilih metode pembayaran yang sesuai dengan anda
  • Selesaikan transaksi hingga Netflix mengkonfirmasi pembayaran anda.
  • Akun Netflix anda sudah bisa anda gunakan di perangkat manapun.

Daftar Akun Netflix di PC

  • Bukalah browser anda dan kunjungi halaman Netflix.cara daftar netflix
  • Silahkan untuk membuat akun dengan cara memasukan Email dan juga Password
    cara daftar netflix
  • Pilihlah terlebih dahulu paket langganan apa yang anda inginkancara daftar netflix
  • Selanjutnya anda diminta untuk memilih metode pembayaran.cara daftar netflix
  • Lakukanlah pembayaran tersebut hingga Akun Netflix anda terkonfirmasi oleh pihak Netflix.
  • Akun anda siap untuk digunakan.

Demikianlah cara untuk daftar Netflix di smartphone maupun PC anda, setelah anda mendaftarkan diri, anda bisa menikmati berbagai film, serial maupun video lainnya yang selalu update tiap harinya! Yuk segera Daftar!

Berikut ini video cara daftar Netflix yang bisa anda ikuti

Gambar Header Pixabay

Film Dokumenter Mengenai Sejarah Game FPS Tengah Dibuat

First Person Shooter atau yang lebih populer dikenal sebagai FPS memang menjadi salah satu genre yang paling banyak digemari di seluruh dunia. Hal tersebut membuat para pengembang melahirkan berbagai macam variasi sejak awal muncul di tahun 70-an.

Sekarang, FPS berkembang jadi punya banyak sekali sub-genre yang punya beragam variasi mulai dari mekanik permainan, desain level, hingga aspek-aspek lain yang membuat banyak game FPS punya pengalaman yang unik.

Mungkin hal inilah yang menginspirasi Creator VC, sebuah rumah produksi indie yang berhasil mengumpulkan dana untuk membuat sebuah dokumenter mendalam tentang genre game satu ini. Film dokumenter itu sendiri akan berjudul “FPS—First Person Shooter. The Ultimate FPS Documentary”.

Seperti namanya, dokumenter ini ingin menjadi “perayaan terbesar dari genre FPS”. Tidak tanggung-tanggung film dokumenter ini ditargetkan akan berdurasi 3 jam lebih. Namun dapat dipahami mengingat film ini akan membahas genre FPS mulai dari awal di tahun 1970-an hingga sekarang.

Dokumenter ini juga akan menghadirkan 40 lebih orang-orang yang berpengaruh dalam genre FPS. Nama-nama besar pengembang seperti Co-founder Gearbox Software, Randy Pitchford (Borderlands series, Brothers in Arms). Co-founder id Software dan Ion Storm, John Romero dan Tom Hall (Doom, Wolfenstein, Deus Ex). Co-creator Halo, Marcus Lehto, dan masih banyak lagi termasuk para artist dan juga gamer profesional.

Film dokumenter ambisius ini nantinya akan menjelaskan berbagai topik mulai dari perkembangan teknologi yang memungkinkan genre FPS berkembang hingga sekarang, mekanik dalam game-nya seperti free aiming, regenerating health, dan cut-scene interaktif, dan banyak lainnya.

Komunitas FPS juga akan masuk ke dalam dokumenter ini, termasuk dunia speedrunning yang muncul sejak Doom, dan tentunya juga scene kompetitif dari game shooter yang jadi salah satu paling populer sampai sekarang.

Masih banyak hal lain dari dokumenter ini yang daftar lengkapnya bisa dilihat sendiri di website crowdfunding-nya. Film dokumenter FPS ini direncanakan akan mulai produksinya pada Agustus tahun ini dan akan dirilis pada Desember 2022 mendatang.

Paragon Pictures Announces Pre Series A Funding from SALT Ventures and Inter Studio

Paragon Pictures today (22/6) announced the pre-series A funding from SALT Ventures and Inter Studio. The investment value is undisclosed. The production house is known operating under Ideosource Entertainment (part of NFC Indonesia and M Cash) which is also an early stage investor.

This additional capital will be focused on producing several new intellectual property (IP) in various forms, including live streaming content with GoPlay, animated children’s videos, series for the OTT platform, and new feature films.

“Our vision is to produce local content in various formats with a unique and fresh perspective for the Indonesian people and globally,” Paragon Pictures’ CEO, Robert Ronny said.

Previously, the IP developer had published several content variants, including several films entitled “Losmen Bu Broto”, “Backstage”, the animation “Ini Budi”, also the live streaming of JKT48 on GoPlay.

“The film industry is included in the pent-up demand industry, it means consumer demand for films by filmmakers, especially in Indonesia, will continue to boom after this pandemic ends,” SALT Ventures’ Managing Partner, Andika Sutoro Putra said.

Meanwhile, Kevin Sanjoto as Inter Studio’s partner added, “In my observation, geographically, politically and culturally, Indonesia was born as a large and unique country, and has a variety of positive local wisdom spread across various regions. Based on those things, the current content ecosystem developing in Indonesia still has enormous opportunities and attractiveness to be able to grow massively.”

In a general note, Inter Studio Group is a production house that has been operating for more than 50 years in Indonesia.

Ideosource Entertainment’s CEO, Andi S. Boediman said, “Furthermore, this investment will open up opportunities to collaborate with Inter Studio in developing new films based on IP assets owned by Inter Studio.”

Since 2018, Ideosource Entertainment has focused on investing in the Indonesian film industry and has been involved in funding various films such as “Keluarga Cemara”, “Gundala”, “Sobat Ambyar”, and “Bebas”. In addition, they have also invested in a number of digital platforms, including GoPlay and Cinepoint.

Regarding companies engaged in the IP sector, there is Visinema which previously invested by a venture capital. In series A led by Intudo Ventures, the company led by Angga Dwimas Sasongko managed to secure 45.5 billion Rupiah in funds.

Entering the same industry, IDN Media introduced IDN Pictures around mid-2020 by acquiring Demi Istri Production House.


Original article is in Indonesian, translated by Kristin Siagian

Paragon Pictures Umumkan Pendanaan Pra-Seri A dari SALT Ventures dan Inter Studio

Paragon Pictures hari ini (22/6) mengumumkan perolehan pendanaan pra-seri A dari SALT Ventures dan Inter Studio. Tidak disebutkan nominal yang didapat. Diketahui, rumah produksi tersebut saat ini berada di bawah naungan Ideosource Entertainment (bagian dari NFC Indonesia dan M Cash) yang juga merupakan investor tahap awalnya.

Dana modal tambahan ini akan difokuskan untuk memproduksi beberapa intellectual property (IP) baru dengan beragam bentuk, termasuk konten live streaming bersama GoPlay, video animasi anak, serial untuk platform OTT, hingga film layar lebar baru.

“Visi kami adalah menghasilkan konten lokal dalam berbagai format dengan sudut pandang yang unik dan segar bagi masyarakat Indonesia dan juga internasional,” ujar CEO Paragon Pictures Robert Ronny.

Sebelumnya pengembang IP tersebut sudah mempublikasikan beberapa varian konten, termasuk film berjudul “Losmen Bu Broto”, “Backstage”, animasi “Ini Budi”, hingga sajian live streaming JKT48 di GoPlay.

“Industri perfilman termasuk dalam pent-up demand industry, artinya permintaan konsumen akan film-film karya filmmaker khususnya di Indonesia akan booming setelah pandemi ini berakhir,” jelas Managing Partner SALT Ventures Andika Sutoro Putra.

Sementara itu, Kevin Sanjoto selaku Partner Inter Studio menambahkan, “Dalam pandangan saya, secara geografis, politik dan budaya, Indonesia lahir sebagai negara besar dan unik, serta memiliki ragam kearifan lokal positif yang tersebar di berbagai wilayah. Dari keunikan tersebut, ekosistem konten yang saat ini berkembang di Indonesia masih memiliki peluang dan daya tarik yang sangat besar untuk dapat bertumbuh secara masif.”

Seperti diketahui, Inter Studio Group merupakan rumah produksi yang sudah berjalan lebih dari 50 tahun di Indonesia.

CEO Ideosource Entertainment Andi S. Boediman mengatakan, “Lebih lanjut, investasi ini akan membuka kesempatan untuk berkolaborasi dengan Inter Studio dalam mengembangkan film-film baru berdasarkan aset IP yang dimiliki oleh Inter Studio.”

Sejak tahun 2018, Ideosource Entertainment telah memfokuskan investasi di industri film Indonesia dan telah turut dalam pendanaan berbagai film seperti “Keluarga Cemara”, “Gundala”, “Sobat Ambyar”, dan “Bebas”. Selain itu, mereka juga berinvestasi ke sejumlah platform digital, termasuk GoPlay dan Cinepoint.

Terkait perusahaan yang bergerak di bidang IP sendiri, sebelumnya ada Visinema yang juga terima pendanaan dari venture capital. Di seri A yang dipimpin Intudo Ventures, perusahaan yang dinakhodai oleh Angga Dwimas Sasongko berhasil membukukan dana 45,5 miliar Rupiah.

Masuk ke ranah yang sama, IDN Media pada pertengahan tahun lalu juga melahirkan IDN Pictures dengan mengakuisisi rumah produksi Demi Istri Production.

10 Film Adaptasi Video Game Terbaik yang Bisa Anda Tonton Sekarang

Keinginan Hollywood untuk dapat membawa franchise-franchise terbaik dari industri game seakan memang tidak pernah padam. Berbagai sutradara juga telah mencoba berbagai macam pendekatan untuk mengolah materi yang ada di dalam video game menjadi sebuah tontonan yang bisa dinikmati oleh para pecinta film.

Memang tidak semua usaha untuk mengadaptasi video game ke dalam film tersebut berhasil. Bahkan, bisa dibilang mayoritas berakhir dengan kegagalan. Pasalnya, memang tidak mudah untuk mengubah sebuah media interaktif seperti video game menjadi sebuah media satu arah seperti film. Belum lagi beberapa sutradara yang diberi tanggung jawab untuk mengerjakan filmnya tidak paham dengan konsep-konsep fundamental dari game-nya yang membuat filmnya berakhir dengan “terinspirasi” ketimbang benar-benar diadaptasi dari video game-nya.

Tetapi, bukan berarti semua film adaptasi video game tersebut buruk. Beberapa film adaptasi juga bisa terbilang bagus dan dapat dinikmati baik untuk para penikmat film dan bahkan untuk para fans dari game-nya. Dan di sini kami sudah merangkum 10 film adaptasi video game terbaik yang bisa Anda nikmati sekarang.

10. Prince of Persia

Muncul terlalu dini, mungkin adalah ungkapan yang tepat untuk film adaptasi game yang satu ini. Dirilis pada tahun 2010, Prince of Persia sebenarnya muncul di puncak seri game-nya (sebelum Ubisoft akhirnya beralih ke Assassinś Creed). Namun di sisi lain film ini muncul di masa ketika mayoritas orang tidak terlalu peduli dengan video game, apalagi dengan film adaptasinya.

Ditambah dengan cara adaptasi filmnya yang masih terpengaruh dengan sistem “terinspirasi” ketimbang adaptasi yang membuat beberapa aspek dalam filmnya dipertanyakan oleh para fans game-nya karena tidak sesuai. Meskipun begitu, film Prince of Persia masih menyuguhkan film adaptasi yang mumpuni, dengan aksi yang berlimpah, dan tentunya masih seru untuk dinikmati.

9. Resident Evil Series

Adaptasi Resident Evil ke dalam film memang memecah fansnya menjadi dua kubu. Kubu yang pertama tentu adalah yang membenci film adaptasinya karena melenceng jauh dari cerita di dalam game-nya, serta adanya tambahan karakter Alice (Milla Jovovich) yang tidak ada di dalam game-nya namun menjadi sentral dari film-nya.

Kubu kedua tentu adalah para fans yang mampu menerima arah yang diambil oleh sutradara Paul W. S. Anderson dan menikmati film Resident Evil ini selayaknya film aksi – horor dengan sentuhan tipis dari dunia Resident Evil. Formula ini sendiri terbilang berhasil untuk Resident Evil yang membuat film-nya dibuat kelanjutannya hingga 6 sekuel.

8. Angry Birds 1-2

Siapa yang menyangka bahwa sebuah game puzzle bisa diadaptasikan ke dalam sebuah film layar lebar. Itulah yang dibuktikan oleh game buatan Rovio Entertainment – Angry Birds. Game yang meledak di awal era smartphone ini sendiri ternyata dengan cerdik menerjemahkan karakter-karakter yang hanya memiliki kekuatan unik dalam game-nya menjadi memiliki kepribadian untuk membawakan narasi film-nya.

Harus diakui, bahwa film adaptasi ini terasa sangat datar atau bahkan cheesy bagi para penikmat film. Ia tidak menawarkan sebuah film animasi dengan cerita sedalam Pixar, namun setidaknya mereka menawarkan sebuah film animasi ringan yang memberikan karakter-karakter Angry Birds sebuah wadah sinematik untuk memperluas dunianya.

7. Tomb Raider

Film adaptasi Tomb Raider memang pernah dikerjakan sebelumnya pada 2001, dengan daya tarik utamanya adalah Angelina Jolie yang memerankan Lara Croft. Namun filmnya sendiri kurang terasa relevan dengan video game-nya. Hal itulah yang akhirnya membuat film Tomb Raider ini di-reboot pada 2018 lalu dengan pendekatan yang lebih kuat terhadap game-nya.

Hasilnya, adalah sebuah film liveaction yang seakan diambil langsung dari video game-nya. Berbagai adegan ikonik dalam game-nya direalisasikan ke dalam filmnya. Sayangnya, sang sutradara lebih mengedepankan untuk mengambil aspek aksi ketimbang kedalaman cerita dari game-nya yang akhirnya membuat beberapa penonton merasa filmnya menjadi terlalu biasa.

6. Assassin’s Creed

Setelah gagal dengan Prince of Persia, Ubisoft kembali berusaha membawa franchise game-nya ke layar lebar. Kali ini dengan seri original terpopulernya yaitu Assassin’s Creed. Kini mereka mengambil langkah yang lebih percaya diri untuk benar-benar mengadaptasi game-nya ke dalam film. Apalagi Ubisoft memberikan sebuah cerita yang segar dan sudut pandang baru terhadap pertarungan antara assassin dan templar ini.

Namun, dengan semua formula terbaik yang coba ditawarkan oleh Ubisoft lewat Assassin’s Creed, mulai dari cerita yang original, karakter yang diperankan oleh aktor dan aktris ternama, serta bujet besar agar filmnya tampil maksimal ternyata masih belum mampu memuaskan para penikmat film terhadap film adaptasi ini. Namun setidaknya sebagai gamer, Anda masih bisa menikmati film adaptasi ini.

5. Warcraft

World of Warcraft atau yang dikenal dengan WoW memang harus menanti cukup lama hingga akhirnya film adaptasinya berani dibuat oleh Blizzard. Namun semua penantian yang harus dialami oleh para fans Warcraft akhirnya terbayar ketika akhirnya film adaptasinya ini dibuat pada 2016. Film ini sendiri dipersiapkan untuk menjadi trilogi. Sehingga, di film pertamanya ini tidak banyak plot yang dibahas, hanya berfokus pada bangsa orc yang harus kabur menggunakan portal dan menyerbu ke dunia manusia yang berarti manusia juga harus bertahan dari serbuan para orcs.

Sayangnya, beberapa hal yang membuat game-nya sangat dicintai oleh para fansnya tidak dibawa ke dalam filmnya. Film Warcraft ini menjadi terlalu serius dan terasa tidak fun seperti game-nya. Visualisasi beberapa karakter yang berbeda mungkin juga akan mengganggu. Sebagai sebuah film yang didedikasikan untuk para fans, film adaptasi ini mungkin menjadi terasa kurang ramah bagi yang tidak mengetahui game-nya sebelumnya. Banyak easter egg, ataupun reference yang hanya diketahui oleh para pemainnya saja.

4. Final Fantasy VII: Advent Children

Jauh sebelum judul-judul di atas dibuat, Square Enix sudah berani mempertaruhkan uangnya untuk membawa seri game RPG terlaris mereka – Final Fantasy ke layar lebar. Setelah kesuksesan Final Fantasy 7, Square Enix akhirnya membuat sekuel kelanjutan cerita dalam gamenya dalam bentuk film layar lebar. Keputusan untuk menggunakan animasi 3D seperti pada cutscenes game-nya membuat film ini terasa sangat mendekati game-nya.

Meskipun bisa dibilang Square Enix telah mengombinasikan beragam formula yang harusnya tidak bisa gagal untuk sebuah film adaptasi dari video game yang mereka buat, namun nyatanya ada beberapa hal yang kurang dari film ini. Pertama, banyak hal yang tidak akan dipahami bagi mereka yang tidak memainkan game-nya terlebih dahulu. Serta karakter-karakter selain Cloud dan Sephiroth sayangnya menjadi terasa tidak penting di film ini.

3. Sonic the Hedgehog

Masih menjadi misteri apakah kontroversi yang muncul ketika desain awal dari Sonic ini diperkenalkan merupakan strategi marketing atau memang ketidaksengajaan. Namun, keputusan untuk segera merombak desain dari sang karakter utama sebelum filmnya keluar adalah keputusan terbaik yang diambil oleh Paramount Pictures dan SEGA. Karena, ketika mereka akhirnya mengembalikan desain Sonic mendekati karakter originalnya di game, film ini jadi lebih bisa dinikmati.

Film ini cukup pintar memberikan sedikit porsi perkenalan di awal film tentang alien biru super cepat ini yang membuat kita dapat memahami mengapa ia harus berada di bumi. Hal ini membuat kelanjutan ceritanya bersama para karakter manusia, termasuk sang musuh bebuyutan Dr. Robotnik, menjadi lebih masuk akal. Sonic sendiri menjadi salah satu film yang berhasil keluar dari zona film adaptasi buruk, meskipun terbilang menggunakan cerita yang sedikit melenceng dari game-nya.

2. Mortal Kombat 2021

Menjadi yang paling baru di antara yang lain, Mortal Kombat memang dibuat dari pembelajaran dari sekian banyak film adaptasi video game yang telah gagal. Jarak 24 tahun dari film live-action terakhirnya, serta berbagai seri game yang sukses menjadikan film ini lebih matang hampir di semua aspek. Hasilnya, sebuah film adaptasi yang mayoritas mampu membawa segala yang dicintai para fans dari game-nya.

Namun, bukan berarti Mortal Kombat 2021 merupakan film adaptasi game yang sempurna. Keputusan untuk memperkenalkan karakter baru, Cole Young, dan membuat cerita berjalan di sekitarnya dianggap menyebalkan bagi para fans. Karena karakter-karakter ikonik dari game-nya seakan malah menjadi karakter pendukung saja. Ditambah dengan dialog yang mungkin masih terasa canggung dan aneh di beberapa adegan. Namun tentunya secara keseluruhan, Mortal Kombat 2021 masih tetap menjadi salah satu film adaptasi game terbaik untuk sekarang.

1. Detective Pikachu

Di posisi pertama ditempati oleh petualangan detektif kuning beraliran listrik ini. Film ini sendiri bisa dibilang berhasil menyeimbangkan antara apa saja yang dicintai oleh para fans Pokemon dan juga apa saja yang harus dimasukkan untuk dapat menyenangkan para pecinta film. Hasilnya, sebuah film adaptasi game dengan dunia, karakter, dan juga beragam adegan yang dicintai para fans terhadap game-nya.

Sedangkan para penikmat film sendiri dibuat bersemangat dengan kehadiran aktor terkenal Ryan Reynolds yang akan menjadi pengisi suara dari sang Pokemon ikonik – Pikachu. Di samping alur cerita, dialog, serta nilai yang diangkat oleh film ini sendiri membuatnya menjadi tidak hanya sekedar film popcorn adaptasi video game, namun sebuah film yang mendefinisikan makna film adaptasi video game sekaligus sebagai pembuka bagi film-film Pokemon lainnya di masa depan.

Penutup

Dan itulah tadi 10 film adaptasi video game terbaik yang bisa Anda tonton sekarang. Film adaptasi video game memang telah melalui proses panjang untuk sampai ke titik ini. Di luar daftar ini, memang ada puluhan film-film adaptasi game yang berakhir buruk karena berbagai hal. Masalah utamanya ada pada bagaimana menerjemahkan materi game menjadi film tetap utuh meski dengan segala keterbatasannya — yang pernah kami bahas panjang lebar sebelumnya.

Mencari formula terbaik untuk membawa franchise video game ke layar lebar mungkin memang satu PR besar buat Hollywood — selama mereka memang peduli dengan kualitas filmnya, tak hanya sekadar mengeruk keuntungan dari popularitas game-nya. Namun setidaknya, 10 film di atas sudah berhasil menyajikan pengalaman baru untuk menikmati judul-judul video game yang para fans cintai dalam format yang berbeda. Dan saya optimis, film-film adaptasi video game akan terus membaik seiring berjalannya waktu.

Netflix Adopsi Codec xHE-AAC di Android, Keluaran Suara Dari Speaker Smartphone Bakal Lebih Jelas

Opsi untuk nonton film sekarang makin beragam, lewat TV di rumah bersama keluarga atau di mana pun bisa menikmati serial dan film lewat smartphone. Meski harus diakui, pengalaman menonton film di bioskop masihlah yang terbaik, namun entah kapan kita bisa kembali nonton di bioskop dengan aman dan nyaman seperti sebelum pandemi.

Bicara soal nonton film di smartphone, nama Netflix berhasil menjelma menjadi salah satu hiburan yang banyak digemari oleh masyarakat luas. Bagi penggemar Netflix dan menggunakan perangkat Android, mereka baru saja meluncurkan pembaruan untuk aplikasi Netlix versi Android yang menghadirkan pengalaman menonton lebih baik dengan suara ‘kualitas studio’.

Netflix 3

Netflix mengumumkan bahwa mereka kini menggunakan codec audio xHE-AAC atau Extended High Efficiency AAC yang merupakan versi terbaru HE-AAC yang telah digunakan oleh perusahaan sejauh ini. Codec ini diperkenalkan kembali pada tahun 2012 oleh Fraunhofer IIS dan terutama dirancang untuk digunakan dalam streaming online dan layanan broadcasting.

Hal itu karena codec xHE-AAC memiliki rasio kompresi dan efisiensi yang tinggi dengan bitrate serendah 6kbps untuk mono dan 12kbps untuk stereo. Serta, merupakan codec dengan bitrate variabel yang dapat berubah berdasarkan kekuatan koneksi dan bandwidth.

Netflix 4

Fitur lain dari xHE-ACC ialah memiliki kenyaringan dan kontrol rentang dinamis pada tingkat encoder. Sehingga menghasilkan beberapa profil pendengaran yang berbeda, seperti speaker smartphone, mendengarkan melalui headphone, atau melalui pengaturan home theater dan beralih secara otomatis ke pengaturan yang relevan.

Netflix mengklaim, codec ini dapat meningkatkan ketajaman dialog bahkan saat menonton konten dengan speaker smartphone di lingkungan yang bising. Sebab, volume telah dinormalisasi ke dialog dan rentang dinamis keseluruhan telah dikompresi agar tetap di atas tingkat kebisingan sekitar.

Netflix 5

Dalam testing A/B, Netflix menemukan bahwa kebanyakan orang lebih menyukai kualitas audio dari codec baru. Mereka cenderung tidak beralih menggunakan earphone saat menonton di smartphone, karena kompensasi yang diterapkan melalui speaker smartphone cukup jelas.

Saat ini codec audio baru hanya tersedia di Android, yang merupakan platform favorit Netflix untuk bereksperimen dengan fitur-fitur baru. Namun Netflix mengatakan akan membawanya ke platform lain yang mendukung codec tersebut. Mengingat hampir semua platform, termasuk iOS, macOS, dan Windows juga sudah mendukung xHE-AAC, mungkin tidak perlu waktu lama untuk beralih sepenuhnya ke codec baru tersebut.

Sumber: GSMArena

Netflix Tembus 200 Juta Pelanggan, Makin Banyak Saingan di Tahun 2021

Menonton menjadi salah satu hiburan favorit kala jenuh disaat work from home. Saya sendiri biasanya menonton film atau serial di aplikasi Netlix menjelang akhir pekan, karena begitu memulai judul baru maka harus menghabiskannya.

Bicara Netflix, platfrom video on demand tersebut memang salah satu yang justru diuntungkan oleh pandemi covid-19. Jumlah pelanggan Netflix naik drastis dan kini tembus di angka 203,6 juta pelanggan di seluruh dunia.

Sebanyak 8,5 juta pelanggan berbayar baru terdaftar pada kuartal keempat tahun 2020. Pencapaian ini juga berkat konten baru seperti The Queen’s Gambit, Emily in Paris, The Crown, dan lainnya. Secara kolektif, pada tahun 2020 Netflix berhasil mencapai rekor baru dengan menggaet 37 juta pelanggan.

Menurut laporan perusahaan, pendapatan Netflix di 2020 menyentuh angka US$25 miliar atau sekitar Rp351 triliun. Sehingga Netflix tidak lagi perlu mengumpulkan pembiayaan eksternal untuk operasi sehari-hari dan tidak perlu lagi meminjam uang tunai dalam jumlah besar.

Sementara, untuk kuartal pertama di tahun 2021 ini Netflix memproyeksikan akan memiliki 6 juta pelanggan baru. Pada kuartal pertama tahun 2020, tercatat Netflix meraih 15,77 juta pelanggan baru karena dimulainya kebijakan lockdown dan pembatasan sosial berskala besar.

Meski begitu, tahun ini Netflix akan mendapatkan persaingan yang cukup sengit dari layanan streaming baru termasuk Disney+ dengan sejumlah film yang layak ditunggu-tunggu seperti Winter Soldier, Loki, Ms. Marvel, dan Hawkeye. HBO Max dari Warner Bros juga akan merilis semua film bioskop terbarunya.

Salah satu kelebihan Netflix ialah mereka memiliki banyak konten original dan dikatakan masih banyak lagi yang akan datang. Termasuk season baru The Witcher, Umbrella Academy, Money Heist, serial baru Shadow and Bone, dan sebagainya. Meski konsumsi konten meningkat, proses pembuatan film baru di kondisi pandemi juga punya banyak tantangan.

Sumber: TheVerge

 

Sirui 24mm F2.8 1.33x Ialah Lensa Anamorphic Ketiga Sirui, Kampanye Crowdfunding-nya Dimulai

Pada bulan Februari 2020, Sirui memperkenalkan lensa anamorphic pertamanya; 50mm F1.8 1.33x. Lensa ini cukup mengejutkan para video content creator dan filmmaker karena harganya terbilang terjangkau, di Indonesia dijual seharga Rp10,5 juta.

Kemudian Sirui mengumumkan lensa anamorphic keduanya, 35mm F1.8 1.33x pada Juli 2020. Kini lensa anamorphic Sirui mencakup semua focal length terpenting dalam pembuatan sebuah film, Sirui telah memulai kampanye crowdfunding di Indiegogo untuk lensa anamorphic wide-angle 24mm F2.8 1.33x.

Seperti sebelumnya, lensa anamorphic 24mm F2.8 1.33x memungkinkan merekam video dalam aspek rasio 2.4:1. Lensa ini dirancang untuk sistem kamera APS-C dan tersedia dalam berbagai mount kamera. Mulai dari Canon EF-M mount, Fujifilm X-mount, Micro Four Thirds (MFT), Nikon Z-mount, dan Sony E-mount.

Lebih detail, lensa anamorphic terbaru Sirui ini terdiri dari 13 elemen dalam 10 kelompok. Dilengkapi aperture dengan diafragma delapan bilah, dengan rentang F2.8 hingga F16, dan punya minimum focusing distance 80mm.

Dimensi lensa dan bobotnya agak berbeda tergantung pada mount yang dipilih, panjangnya berkisar 125mm, diameter 65mm, dan bobotnya antara 770 sampai 810 gram. Selain harga terjangkau, daya tarik lensa ini ialah ukurannya yang ringkas meski dimensinya sedikit lebih besar bila dibandingkan model 50mm dan 35mm.

Harga normal lensa anamorphic Sirui 24mm F2.8 1.33x dibanderol US$999 atau sekitar Rp13,9 jutaan dan US$749 atau Rp10,4 jutaan khusus penawaran terbatas early-bird di Indiegogo. Bila ingin memborong ketika model yakni 50mm, 35mm, dan 24mm – tersedia paket seharga US$2.098 atau Rp29,2 jutaan.

Sumber: DPreview