Platform Lowongan Kerja EKRUT Diakuisisi Startup Asal Thailand GetLinks

Platform lowongan pekerjaan EKRUT telah diakuisisi oleh GetLinks, startup di bidang HR-tech asal Thailand berdasarkan data yang dilaporkan ke Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA).

Melansir DealStreetAsia, data ini menyatakan bahwa para pemegang saham EKRUT, termasuk East Ventures dan Skystar Capital, telah mengalihkan sahamnya ke GetLinks Inc, induk platform manajemen talenta dan lowongan kerja di Asia tersebut.

DailySocial.id telah menghubungi manajemen EKRUT untuk mengonfirmasi hal ini. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada respons dari pihak terkait.

Lewat akuisisi ini, GetLinks diyakini bakal bersaing dengan platform sejenis di Indonesia, seperti JobStreet dan Indeed. GetLinks merupakan platform yang menghubungkan ekosistem talenta dengan peluang kerja di Asia. Didirikan sejak 2015, GetLinks telah menjangkau perusahaan-perusahaan besar, seperti Alibaba, LINE, dan Grab.

Sementara, EKRUT fokus menghubungkan talenta potensial dengan kebutuhan bisnis. Di saat layanan lain kebanyakan menggunakan konsep job portal, EKRUT mengunakan talent marketplace berbasis data science. Talenta mendaftar dan perusahaan yang akan mencari kandidat sesuai preferensi.

EKRUT tercatat meraih pendanaan tahap awal dari East Ventures pada 2017 di mana saat itu, mulai banyak startup baru yang fokus di sektor HR. Pada 2019, perusahaan kembali mengumumkan pendanaan pra-seri A yang dipimpin oleh Venturra Discovery dengan partisipasi East Ventures, Prasetia Dwidharma, Skystar Capital, Bizreach Inc, dan Azure Ventures.

Perusahaan memiliki misi untuk mengembangkan teknologi dan layanan paling efisien untuk proses perekrutan, baik dari sisi HR maupun pelamar. EKRUT juga mendatangkan mantan senior engineer Tesla menjadi Chief of Product untuk memimpin tim tech mereka.

Beberapa perusahaan teknologi ternama yang telah memasang listing di platform EKRUT antara lain Gojek, Tokopedia, OVO, dan RedDoorz.

Platform lowongan kerja

Menurut laporan Alpha JWC Ventures, Kearney, dan GRIT bertajuk “ASEAN Growth & Scale Talent Playbook”, negara di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan penetrasi internet jauh lebih tinggi dalam 5 tahun terakhir. Tren ini kemungkinan akan terus tumbuh dan menuntut lebih banyak talenta sehingga mendorong kebutuhan talenta digital di wilayah tersebut.

Penetrasi internet di Eropa, AS dan Asia / Sumber: Alpha JWC Ventures, Kearney, dan GRIT

Di Indonesia sudah banyak platform lowongan kerja yang menawarkan layanan perekrutan dengan nilai tambah yang berbeda. Misalnya, Kalibrr yang menggabungkan platform perekrutan berbasis AI dan layanan employer branding untuk membantu perusahaan menunjukkan nilai-nilai mereka, menarik kandidat tepat, dan merealisasikan proses yang mulus.

Pemain sejenis lainnya yang menangani kebutuhan serupa, misalnya Urbanhire dan NusaTalent. Selama pandemi mereka cukup aktif membantu perusahaan mendigitalisasi sistem HR. Urbanhire tidak hanya memosisikan diri sebagai portal lowongan pekerjaan, tetapi HR technology dan talent solution, berkat kemitraan strategisnya dengan Mercer.

Terdapat beberapa platform lain yang beroperasi dengan pendekatan berbasis komunitas. Salah satunya Atma yang debut pada tahun lalu, diiringi pendanaan pre-seed dari sejumlah investor strategis. Selain itu, ada KitaLulus yang meraih pendanaan seri A dipimpin oleh Tiger Global.

Sejumlah platform yang mengawali bisnis di edtech kini mulai merambah ke ranah HR tech. Rakamin adalah platform pembelajaran yang memungkinkan pengguna untuk terkoneksi dan membangun karier di era digital. Mereka mempersiapkan talenta untuk siap berkarir di perusahaan yang diinginkan.

Nuansa Era Baru di Acara Perkenalan Samsung Galaxy A70 dan A80 di Bangkok

Samsung menggelar acara A Galaxy Event di Bangkok 10 April 2019. Acara ini menghadirkan secara resmi dua produk baru seri A yaitu Galaxy A70 dan A80. Ada banyak ‘hal pertama’ yang menarik untuk dibahas dari acara ini, apa saja, mari kita bahas.

A Galaxy Event x BlackPink

Sebelum membahas hal serius dengan strategi Samsung atau spesifikasi dan pengalaman perangkat Galaxy A70 dan A80, mari kita bahas dulu hal pertama dari sisi hiburan. Mungkin Anda sudah pernah lihat video klip grup idol asal Korea, BlackPink. Nah, di video klip lagu terbaru itu ada beberapa scene yang menampilkan perangkat terbaru Samsung alias A80, S10 dan Galaxy Bud. BlackPink adalah ambassador resmi Samsung Galaxy dan mereka hadir di acara A Galaxy event di Bangkok yang menjadi tempat perilisan A70 dan A80. Yang istimewa, mereka pertama kali membawakan secara langsung lagu baru dihadapan publik di Bangkok yang berjudul Kill This Love di acara ini.

Mengapa saya membuka tulisan dengan membahas grup terkenal yang mungkin tidak berhubungan dengan gadget? Karena sebenarnya ada hubungan dengan cara strategi komunikasi Samsung untuk perangkat terbaru mereka, terutama untuk seri A (mulai A20, 30, 50, 70) dan terutama untuk seri A80. Kpop idol mewakili generasi live yang menjadi sasaran atau target market dari seri A. Dengan kampanye Era of Live, Samsung ingin membawa seri A ini ada konsumen yang tidak lagi hanya selfie tetapi melakukan live streaming dan merekam video. Generasi konsumen yang related sama grup idol Kpop tadi.

Mari kita bahas ‘hal pertama’ yang kedua, kali ini kita akan membahas sisi lebih ke spesifikasi terutama kamera di A80. Samsung Galaxy A80 menghadirkan hanya satu set kamera yaitu 3 kamera yang berfungsi sebagai kamera belakang dan kamera depan. Samsung menghadirkan rotating camera untuk perangkat A80. Ini adalah rotating camera pertama untuk perangkat seri A, bahkan, seperti yang disebutkan di rilis resmi ini kali pertama untuk perangkat Samsung.

Samsung Galaxy A80

Dalam sesi demo, rotating cemara ini menjadi daya tarik yang hampir dicari oleh semua awak media, baik lokal maupun regional. Rotating camera akan berjalan saat Anda mentap kamera depan dalam aplikasi kamera yang ada di A80. Modul yang menyimpan kamera akan muncul, lalu 3 kamera beserta flash akan berputar ke depan, aplikasi kamera mulai berfungsi untuk mengambil gambar depan dan Anda bisa mulai mengambil foto.

Jadi sebenarnya ada dua elemen kebaruan perangkat Samsung di A80, bagian belakang perangkat yang bergeser untuk mengangkat modul kamera, dan bagian tempat kamera yang berputar. Jika Anda menilik bagian pinggir perangkat, maka akan ada rongga. Modul geser akan kembali ketempat semula ketika Anda mengalihkan kamera untuk memfoto dari belakang.

Samsung Galaxy A80

Untuk spesifikasi kamera sendiri, Samsung Galaxy A80 menghadirkan kamera utama 48MP, F2.0, Ultra Wide 8MP F2.2 serta terakhir kamera 3D Depth. Kamera yang terakhir ini adalah salah satu fitur yang bisa jadi unggulan karena memungkinkan Anda untuk mengambil foto dan video dengan efek bokeh. Cocok dengan kampanye pemasaran Samsung, Era of Live.

Salah satu hal pertama lain yang cukup menarik adalah penggunaan Snapdragon 730G untuk perangkat A80. Satu hari sebelum A80 diperlihatkan di Bangkok, Snapdragon mengumumkan dua prosesor mereka yaitu 730 dan 730G. Dan salah satu perangkat yang pertama kali diumumkan menggunakan SD 730G adalah A80.

Lahirnya Era baru

Yang ketiga mungkin bisa dibilang bukan pertama tetapi mendapat tempat yang cukup dominan di acara tadi yaitu Era of Live dan selesai sudah perjalanan seri J. Kenapa bukan pertama, karena sudah mulai dikampanyekan sejak varian seri A pertama muncul. Namun menurut saya ditegaskan di acara rilis A70 dan A80 kemarin. Termasuk juga ditegaskan oleh DJ Koh dalam persentasinya.

Samsung DJ Koh

Ada yang menarik dari pernyataan Era of Life yang jadi strategi komunikasi Samsung. Dalam rilis dan berbagai presentasinya Era of Live dijelaskan Samsung sebagai pengganti dari selfie. Artinya Samsung ingin menggeser era selfie di kamera smartphone menjadi Era of Live.

Penggantian era selfie ini sebenarnya mirip dengan yang dilakukan raja ponsel selfie OPPO, Namun jika OPPO menggeser ke portrait dan night mode, Samsung mengambil angle konten live (baik video atau live stream), Menarik, karena selfie sudah cukup lama menjadi barang jualan pabrikan, kini mulai ditinggalkan seiring dengan perkembangan teknologi yang menghadirkan layanan live video dan live streaming yang semakin modern. Sebuah era yang telah berakhir digantikan dengan era lain.

Satu hal lain yang menarik adalah selesainya era samsung J yang kini digantikan dengan seri A. Saya masih ingat ketika hadir di acara salah satu peluncuran seri A di tahun 2018, beberapa rekan media seperti saya dibuat bingung karena segmen yang disasar A sedikit banyak memakan segmen yang disasar oleh seri J. Seri J kalau itu memiliki range produk yang cukup lebar, mulai dari entry level sampai dengan menengah atas, mirip dengan seri A. Namun kini, kebingungan itu telah disingkirkan, karena era seri J telah diakhiri dan digantikan dengan seri A.

Kini seri A akan bersanding dengan seri M, dengan cara komunikasi dan segmentasi yang berbeda, meski dari harga akan tetap saling bersaing. Seri A telah (hampir) lengkap, mulai dari seri A10, 20, 30, 40, 50, 60 dan terakhir 70 serta 80. Ada beberapa seri yang hanya dijual di area/negara tertentu. Tetapi untuk yang dijual di pasar Indonesia, hampir semua seri A telah diperkenalkan dan akan masuk untuk bisa dibeli.

Samsung DJ Koh - Era of Live

Untuk segmentasi, dalam presentainya, DJ Koh, President and CEO of IT & Mobile Communications Division at Samsung Electronics, menyebutkan secara singkat pembeda dari sisi warna (desain): A10 dan A20 fokus warna untuk anak muda, A30 ada efek diagonal pada bagian belakang, A40, 50, 70 menghadirkan prism effect dan A80 elegant colors. Akan ada pula pembeda dari sisi spesifikasi dan harga, karena masing-masing akan melayani segmen yang berbeda. Beberapa seri juga agak bersaing dengan seri M, meski dalam komunikasi pemasaran tetap dibedakan, misalnya untuk seri M ada di keunggulan baterai, performa untuk main game dan yang pasti harga.

Seri A jadi ujung tombak inovasi

Ada yang menarik kalau menilik lebih detail dari seri A. Samsung menempatkan seri ini sebagai ujung tombak inovasi. Masih ingat 4 kamera pertama yang dihadirkan di seri A? Kini Samsung membawa inovasi baru lagi yang belum pernah diterapkan di perangkat lain, bahkan seri flagship yaitu rotating camera di A80.

Hal ini senada dengan obrolan santai saya dengan Irfan Rinaldi, Product Marketing Manager, Samsung Mobile, Samsung Electronics Indonesia. Ia menjelaskan bahwa seri A jadi tempat inovasi dari Samsung, cocok dengan segmen yang ingin disasar oleh perangkat ini, muda dan eksperimental.

Samsung A70 dan A80

 

Sebagai penikmat teknologi, jujur saya lebih senang dengan pabrikan yang ‘menyelipkan’ inovasi dalam jajaran produknya, OPPO (rotating camera, pop-up camera), Vivo (pop up camera, fingerprint di layar), Huawei dengan kamera 50 zoom-nya dan beberapa brand lain dengan caranya masing-masing. Ketika beberapa seri S rilis, terus terang saya merasa bosan karena tidak ada sebuah kejutan. Memang dari sisi yang lain seperti kamera, display, dan performa seri S memiliki banyak keunggulan, bahkan dibanding perangkat sesegmen lain. Namun saya rindu inovasi, sebagai statement, semacam berkata pada khalayak ramai; ‘bisa sampai segini loh teknologi yang kita kembangkan’. Ternyata, Samsung menempatkannya di seri A. Setidaknya apa yang bisa kita lihat dengan A9 dengan 4 kamera dan kini A80 dengan rotating camera.

Spesifikasi Galaxy A70 dan A80 serta pengalaman penggunaan

Kita telah coba membahas tentang strategi, segmentasi dan beberapa penjelasan terkait inovasi, tidak lengkap tentunya tidak membicarakan perangkatnya secara spesifik. Sekarang mari kita bahas masing-masing seri yang diperkenalkan kemarin, termasuk hands-on super singkat beberapa fiturnya.

 

Kita bahas terlebih dulu Samsung A70. Perangkat ini pada dasarnya adalah perangkat seri atasnya A50, tidak ada hal istimewa yang bisa diceritakan selain beberapa peningkatan spesifikasi dari seri A50, misalnya saja besaran memory, spesifikasi kamera dan besar baterai, A70 lebih tinggi dari spesifikasi di atas dibandingkan A50. Kalau membicarakan desain, A70 memiliki satu warna yang cukup menarik, yaitu biru tetapi birunya tidak seperti seri A lain, agak biru muda lebih mendekati biru langit.

Untuk spesifikasi lainnya A70 adalah sebagai berikut, saya kutip dari laman resmi Samsung.

Samsung Galaxy A70

Pengalaman penggunaan perangkat ini mirip dengan beberapa perangkat seri A lain, salah satu perbedaan adalah di layar, A70 memiliki layar yang cukup besar untuk yaitu 6.7 inci. Sisanya, kalau dari sisi desain atau pengalaman genggam cukup baik meski tidak ada yang istimewa. Untuk hasil kamera dan performa lain, waktu yang ada tidak sempat untuk bisa memberikan pengalaman penggunaan, namun saya sempat mencoba untuk mengambil sample foto dan video. Meski hasilnya mungkin akan ditingkatkan oleh Samsung karena yang kemarin di pajang adalah demo unit, dan masuk ada waktu untuk produk bisa dibeli langsung, jadi hasilnya mungkin tidak bisa merefleksikan hasil yang sama dengan perangkat ketika sudah dijual. Namun first impression-nya, hasil kamera belakangnya bisa dibilang cukup.

Untuk pasar Indonesia, Samsung Galaxy A70 akan dibuka gerbang pemesanan mulai dari 18 April – 24 April dengan promosi cashback 500rb. Harganya 5.799.000 untuk pre-order online dan offline.

Samsung Galaxy A80

Sekarang mari kita bahas Samsung A80. Tentu saja salah satu hal yang menjadi daya tarik utama adalah rotating camera, yang memungkinkan pengguna untuk bisa menikmati hasil kamera yang sama untuk fungsi sebagai kamera belakang dan kamera depan. Ini adalah daya tarik utama untuk jualan sekaligus sebagai penekanan untuk kampanye Era of Live yang dibawa Samsung untuk seri A.

Kamera depan yang sebagai kamera belakang (karena memang satu kamera) adalah alat yang cukup mumpuni untuk melakukan rekam video atau melakukan live streaming. Untuk spesifikasi utama sendiri adalah sebagai berikut:

Samsung Galaxy A80

Untuk pengalaman penggunaan, ada beberapa hal yang memberi kesan, yang pertama adalah desain atau model dan bahan cover belakang yang rasa digenggamnya cukup menyenangkan. Namun ada kesan berat yang saya rasakan, terutama ketika memegang ponsel dengan satu tangan untuk mencoba memfoto selfie dan mengambil video mode portrait.

Kalau berbicara rotating kameranya, kesan saya adalah menyenangkan dan terasa inovatif. Rotating camera memang bukan yang pertama hadir di smartphone, N1 dari OPPO akan menjadi bahan perbincangan ketika membahas A80. Ada pula pop up camera di perangkat OPPO Find X, Vivo Nex dan V15, sampai dengan slider keseluruhan body seperti di perangkat Honor dan Xiaomi. Meski bukan yang pertama untuk mencoba menari alternatif kamera depan agar bisa menghadirkan layar luas tanpa ada poni, saya merasakan pengalaman yang berbeda dengan Samsung A80. Kombinasi dari bagian ponsel yang bergeser ke atas lalu bagian berputar di tengah memberikan kesan tersendiri. Kombinasi yang paling baik menurut saya adalah dari sisi warna, bahan dan bagian metal yang di bagian pinggir. Meski terasa berat tetapi ada beberapa kelebihan yang bisa menjadi daya tarik perangkat ini.

Bagian spesifikasi yang cukup penting yaitu adalah 3 kamera yang semuanya bisa dinikmati untuk foto kamera belakang atau untuk fungsi kamera depan. Salah satu yang menarik untuk dicoba (nanti saat ada kesempatan untuk review) adalah menu kamera live focus yang membuat hasil rekam memiliki efek bokeh. 3D kamera yang ada di perangkat ini juga tidak hanya untuk measurement tetapi juga untuk efek bokeh. Salah satu catatan penting diperangkat ini adalah, kita bisa menikmati fitur yang biasa dinikmati kamera belakang untuk kamera depan, karena A80 pada intinya memiliki kamera yang sama. Sekilas saat hands-on kemarin, menu yang ada cukup lengkap, termasuk live focus atau beberapa fitur enhancement yang ada di kamera depan dikombinasikan dengan spesifikasi kamera yang biasa ada di kamera belakang kini bisa digunakan untuk dua fungsi. Satu paket kamera untuk keperluan foto belakang dan depan.

Meski demikian, harus diberi catatan memang karena ini hanya hands-on dan pengalaman singkat, jadi perlu review yang lebih mendalam, dan semoga nanti DailySocial mendapat kesempatan untuk mencobanya. Belum lagi unit yang ada kemarin sudah pasti unit demo, jadi mungkin akan ada peningkatan (terutama software) saat rilis nanti. Untuk ketersediaan, A80 disebutkan akan mulai tersedia global 29 Mei 2019, namun belum ada tanggal untuk ketersediaan di Indonesia.

Mengapa rotating kamera bukan peningkatan kamera depan?

Saat rangkaian acara A galaxy event berakhir dan rombongan bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta, ada pertanyaan yang cukup mengganggu yang muncul di benak saya. Mengapa harus memilih rotating camera alih-alih meningkatkan kamera depan? Apa saja faktor yang akhirnya membuat Samsung memilih untuk menggunakan kamera yang sama untuk foto belakang dan depan?

Samsung A80

Untuk menjawab ini saya mencoba berduskusi dengan dua orang, yang pertama adalah Kang Lucky alias @gadtorade yang satu rombongan dengan saya, serta Irfan Rinaldi, Product Marketing Manager, Samsung Mobile, Samsung Electronics Indonesia.

Dari hasil obrolan dengan kang Lucky, setidaknya saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa alasan yang bisa melegitimasi mengapa Samsung lebih memilih untuk menggunakan satu modul kamera dengan kualitas kamera belakang alih-alih menggunakan dua modul kamera (depan-belakang). Salah satunya adalah fitur kamera depan punya limitasi yang tidak bisa dicapai oleh kamera belakang, setidaknya untuk saat ini. Kalaupun sensor bisa sama namun di bagian depan akan membutuhkan ruang modul yang cukup besar, yang mengakibatka beberapa hal tidak bisa terpenuhi, misalnya full display untuk layar. Belum lagi untuk OIS jika ingin disematkan di kamera depan yang membutuhkan ruang yang cukup besar juga.

Lalu kenapa tidak modul pop up kamera? Untuk menjawab ini sepertinya kita harus balik lagi ke pembahasan strategi Era of Live, Samsung ingin mengambil segmen pengguna smartphone yang menggunakan kameranya untuk live (video atau stream), dan ini bisa didapatkan dengan A80, kombinasi slider pop-up lalu rotating camera yang hasilnya bisa dikerjar untuk lebih baik dari kamera depan, terutama untuk video/live, dengan beberapa fitur yang biasa ada di kamera belakang dimikmati juga di kamera depan. Kita barharap saja, software yang nanti hinggap di perangkat yang dijual ke publik bisa disempurnakan dan memberikan fitur yang lengkap, fitur yang biasa ada di kamera belakang bisa dibawa sebagian besar (atau semuanya) ke penggunaan untuk kamera depan.

Samsung A80

Sedangan dari perbincangan dengan Irfan (Samsung), saya mendapatkan sebuah penjelasan yang juga masuk akal. Samsung ingin mengejar dan memberikan konsumen pengalaman new infinity display, tidak ada lagi notch tidak ada hole punch, pure hanya layar saja. New infinity display ini dikombinasikan dengan 3 kamera yang hadir dengan fitur rotating yang bisa digunakan baik foto biasa atau vlogging (video), yang akan membawa kita pada strategi Era of Live dari seri A.

Salah satu intinya adalah new infinity display, bukan tentang apakah teknologi kamera depan tidak bisa mengejar teknologi kamera belakang, selain itu untuk pengembangan teknologinya, diuraikan bahwa lebih relevan dan make sense untuk menggunakan rotating camera alih-alih hanya pop up kamera saja. Mungkin kalau bisa saya tambahkan, intinya A80 ini semacam palu gada, layar penuh dapet, inovasi dapet dengan rotating camera (setidaknya yang pertama di Samsung), dan satu lagi, satu paket modul kamera dengan kualitas yang sama untuk dua mode kamera, penggunaan kamera untuk belakang dan depan.

Ekosistem perangkat Galaxy tidak ditinggalkan

Balik lagi ke video klik BlackPink yang berjudul ‘Kill This Love’, kalau Anda cukup jeli maka akan melihat beberapa perangkat Samsung yang digunakan di video tersebut, dua tipe smartphone, Galaxy Buds – earphone dan jam tangan pintar Samsung. Nah, ekosistem antar perangkat ini juga ikut jadi bahasan di panggung utama. Yang paling sederhana adalah Anda bisa saling mengkoneksikan ketiga perangkat ini – smartphone, earphone dan smartwatch, di sisi lain masing-masing perangkat juga menghadirkan desain kekinian yang ditujukan juga untuk segmen yang sama dengan seri A .

A Galaxy Event Bangkok

Acara A Galaxy Event kemarin cukup memberikan beberapa pengalaman baru bagi saya, melihat pertama kali DJ Koh di panggung, menonton BlackPink (meski sebenarnya keponakan saya yang nge-fans K-pop) dan pertama kali juga pergi ke Bangkok. Satu yang yang menarik tentunya pembukaan acara oleh DJ Koh – President and CEO of IT & Mobile Communications Division Samsung Electronics, ini secara sekilas bisa jadi semacam ‘cap’ bahwa seri A memang tidak main-main dirilis oleh Samsung. Sebagai pengganti seri J bisa jadi seri A akan jadi ujung tombak untuk merengkuh konsumen mulai dari entry level sampai mid-high.

Kalau saya sendiri, meski agak menyayangkan bahwa seri S atau flagship dari Samsung masih ‘cari aman’ (yang juga bisa dimaklumi sebagai salah satu strategi), setidaknya Samsung bisa menghadirkan inovasi yang cukup radikal untuk ukuran produk Samsung di jajaran seri A, setelah 4 kamera kini rotating camera.

Untuk perangkat yang akan hadir di Indonesia adalah A70 terlebih dahulu, untuk A80 belum ada tanggal pasti, bahwa tanggal pre-order pun belum. Semoga saja nanti ada acara lokal untuk seri A80 sehingga DailySocial bisa berkesempatan mencoba lebih lama perangkat ini.

Masa akhir kuarter pertama tahun 2019 hampir selesai, dan Samsung telah menggebrak pasar menengah – atas dengan menghadirkan rotating camera pertama di perangkat smartphone mereka. Ketika ditanya apakah akan hadir A90 atau A yang lain, perwakilan Samsung tidak memberikan komentarnya, namun kalau melihat masih panjangnya tahun ini berakhir bisa jadi akan ada banyak kejutan dari Samsung, setidaknya sambil menunggu rilis Note 10 atau apapun nama dari generasi Samsung Note berikutnya.

BlackPink

Gojek Launches Get in Bangkok, Thailand

The on-demand platform developer, Gojek is officially launched Get as part of its expansion in Bangkok, Thailand (2/27). The launching was attended by Rudiantara, Ministry of Communication and Information, Thailand’s Ambassador, Pansak Siriruchatapong, Gojek’s Founder & CEO, Nadiem Makarim, and many more. Get actually started its business since 2018 in beta version.

Currently, Gojek has claimed the service has reached 80% of Bangkok. In addition to ride-hailing (Get-Win), there are also delivery and food delivery services called Get-Delivery and Get-Food. In order to maximize its debut in the white elephant country, Gojek creates local team to run Get.

Get’s Co-Founder & CEO, Pinya Nittayakasetwat in its speech said with the local team understanding combined with technology and Gojek experience should give on-demand solution in the region.

“GET has succeed in scoring two million trips in just two monts since the first beta version in Bangkok. It proves the high consumer demand in this industry sector. In addition, our data shows to this point, the driver partners has gone through more than three million kilometres,” he added.

Gojek’s Founder & CEO, Nadiem Makarim also talked in Get ceremonial. The international expansion aims to find a way to bring Gojek’s technology for more positive impact in various countries.

“Get launching in Thailand is Gojek’s important achievement. We’re thankful for the support of the stakeholders including the government, either in Indonesia or Thailand. We always expect to realize vision and bring our technology to the broaden public, while making Indonesia as the center of technology innovation in Southeast Asia,” he added.

After its launching, Get has introduced benefit service program for driver partners, including access to training, vehicle insurance, life insurance, and savings programs. The Get team is committed to team up with the Thai government to support the digitalization of the transportation industry.

Get-Win as two-wheeler transportation mode has made curation to guarantee all drivers are “Win” licensed. Currently, Get-Food has partnered up with more than 20 thousand merchants, start from stalls to restaurants.

Get algorithm is designed to support all merchants, not only the most selling ones, to help sales growth and increase awareness of all restaurants in the platform. Shuffle card feature developed by Gojek is also integrated into Get for the interface can be adjusted with each user’s preference. This feature will recommend food based on time and location nearby, therefore the experience will be more convenient.


Original article is in Indonesian, translated by Kristin Siagian

Application Information Will Show Up Here
Application Information Will Show Up Here

Gojek Resmikan Get di Bangkok, Thailand

Pengembang platform on-demand Gojek akhirnya meresmikan Get sebagai bentuk ekspansinya di Bangkok, Thailand (27/2). Acara peluncuran tersebut dihadiri Menkominfo Rudiantara, Dubes Thailand Pansak Siriruchatapong, Founder & CEO Gojek Nadiem Makarim dll. Get sendiri sebenarnya sudah mulai hadir sejak tahun 2018 lalu dengan fase beta-nya.

Saat ini pihak Gojek mengklaim bahwa layanannya telah berhasil menjangkau 80% kota Bangkok. Selain ride-hailing (Get-Win), di sana juga sudah ada layanan untuk delivery dan food delivery, yakni Get-Delivery dan Get-Food. Guna memaksimalkan debutnya di negara gajah putih tersebut, Gojek membentuk tim lokal dalam menjalankan Get.

Co-Founder & CEO Get Pinya Nittayakasetwat dalam sambutannya mengatakan, bahwa dengan pemahaman mendalam tim lokal digabungkan dengan teknologi dan pengalaman Gojek dapat memperkuat posisi Get dalam memberikan solusi on-demand di wilayahnya.

“GET telah berhasil menyelesaikan dua juta perjalanan hanya dalam dua bulan sejak peluncuran fase beta di kota Bangkok. Hal tersebut membuktikan tingginya permintaan konsumen di sektor industri ini. Selain itu, data kami mengemukakan bahwa sejauh ini para mitra driver telah menempuh jarak lebih dari tiga juta kilometer,” ujar Pinya.

Turut memberikan sambutan Founder & CEO Gojek Naiem Makarim dalam seremoni peresmian Get. Ekspansi internasional Gojek bertujuan untuk mencari cara mendekatkan teknologi yang dimiliki Gojek sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat di berbagai negara.

“Peluncuran Get di Thailand merupakan pencapaian penting bagi Gojek. Kami berterima kasih terhadap dukungan yang diberikan para pemangku kepentingan termasuk pemerintah, baik di Indonesia maupun di Thailand. Semoga kami dapat terus merealisasikan visi dan membawa teknologi kami kepada masyarakat yang lebih luas lagi, seraya di saat yang sama menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi teknologi di Asia Tenggara,” ujar Nadiem.

Pasca peluncurannya, Get telah memperkenalkan program layanan manfaat bagi mitra pengemudi, meliputi akses pelatihan, asuransi kendaraan, asuransi jiwa, hingga program tabungan. Tim Get berkomitmen untuk bisa berkoordinasi dengan pemerintah Thailand guna mendukung digitalisasi industri transportasi.

Get-Win sebagai moda transportasi roda dua melakukan kurasi sehingga memastikan setiap mitra merupakan pengemudi “Win” berlisensi. Saat ini Get-Food juga telah menggandeng lebih dari 20 ribu merchant, mulai dari kedai kaki lima hingga restoran.

Algoritma Get dirancang untuk mendukung semua merchant, tidak hanya yang terlaris, supaya bisa membantu peningkatan penjualan dan meningkatkan awareness semua restoran-restoran yang ada di platform. Fitur shuffle card yang dikembangkan Gojek juga diintegrasikan ke dalam Get agar tampilannya dapat disesuaikan dengan selera masing-masing pengguna. Fitur ini dapat merekomendasikan makanan berdasarkan waktu dan lokasi konsumen, sehingga pengalaman penggunaan aplikasi terasa semakin nyaman.

Application Information Will Show Up Here
Application Information Will Show Up Here

Layanan Gojek di Thailand “Get” Perluas Wilayah Operasional di Bangkok

Get, nama brand Gojek untuk wilayah operasional Thailand, hari ini mengumumkan perluasan operasional di Bangkok. Wilayah yang dijamah meliputi Chatuchak, Lad Prao, Wang Thong Lang, Sathorn, Bang Rak, Klongtoey, Yannawa, Bangkapi, Ratchathewi, Pathumwan, Phyathai, Beung Kum, Bang Kho Laem dan Rat Burana.

Selama periode soft-launch di Thailand dengan aplikasi beta-nya, Get menyediakan layanan ride-hailing dan kurir pengiriman, dalam radius delapan kilometer. Get resmi diluncurkan di Thailand sekitar awal Desember 2018, ekspansi Asia Tenggara kedua yang dilakukan Gojek.

Perluasan ini dilakukan Get pasca pihaknya mengklaim adanya respons positif dari masyarakat — baik mitra pengemudi maupun pengendara. Get beroperasi dengan pengemudi kendaraan roda dua yang berlisensi resmi atau dikenal dengan istilah “Win Driver” di wilayah tersebut.

Kegiatan operasional Get di Thailand dilakukan oleh tim lokal. Oleh karenanya, Get juga miliki CEO sendiri di wilayah tersebut. Menyambut perluasan ini, Co-founder & CEO Get Pinya Nittayakasetwat mengatakan, layanan transportasi (publik) roda dua merupakan kunci dalam mengarungi kepadatan lalu lintas di Bangkok, serta membantu mobilitas masyarakat secara lebih efisien.

Soft-launching ini ditandai dengan peluncuran layanan Get Win dan Get Delivery, sebelum kami memperkenalkan ragam layanan lain ke depannya. Kami percaya bahwa kami mampu menyediakan pengalaman terbaik dalam upaya membuat hidup di area perkotaan yang lebih produktif dan efektif,” ujar Pinya.

Pinya turut menceritakan, bahwa Get merupakan aplikasi pertama yang bekerja sama hanya dengan mitra pengemudi berlisensi. Konon, untuk mendapatkan lisensi tersebut tidak mudah.

Sementara Founder & CEO Gojek Nadiem Makarim menyampaikan, ekspansi internasional akan terus berjalan agar semakin banyak orang yang merasakan manfaat dari layanan Gojek.

“Setelah berhasil meluncurkan layanan ride-hailing roda dua dan pengantaran makanan di Vietnam serta meluncurkan versi beta yang membawa manfaat bagi ribuan masyarakat Singapura, saat ini kami sedang meningkatkan kehadiran di berbagai wilayah di Bangkok. Hal ini menjadi satu lagi tonggak penting bagi perusahaan kami, dan tentunya kami sangat antusias menanti peluncuran GET agar dapat melayani masyarakat Thailand secara optimal,” terang Nadiem.

Application Information Will Show Up Here

SMDV Pimpin Pendanaan $20 Juta untuk Eko, Startup SaaS Bisnis Asal Thailand

Startup pengembang platform komunikasi dan kolaborasi bisnis asal Thailand bernama Eko baru saja mengumumkan pendanaan seri B senilai $20 juta. Pendanaan tersebut dipimpin Sinar Mas Digital Ventures (SMDV), dengan partisipasi beberapa investor lain termasuk RedBeat Ventures (unit investasi dari AirAsia), Eas Ventures, dan Gobi Partners.

Founder & CEO Eko, Korawad Chearavanont, mengatakan bahwa perolehan modal kali ini akan digunakan untuk melakukan ekspansi pasar ke Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. Sebagai informasi, Korawad merupakan keluarga dari konglomerat bisnis Chearavanont di Thailand, memimpin Charoen Pokphand Group.

Aplikasi Eko sekilas mengingatkan pada beberapa platform, seperti Slack, Microsoft Teams, juga Facebook Workplace. Namun demikian Korawad menyampaikan, bahwa produk yang dikembangkan lebih dari sekadar alat untuk komunikasi dan kolaborasi. Karena di dalamnya juga didesain berbagai fitur untuk menunjang pekerjaan secara jarak jauh.

Ada berbagai fitur yang didesain untuk alur kerja di dalam aplikasi Eko. Beberapa di antaranya sistem persetujuan hierarki, penugasan, tanda tangan digital hingga fasilitas untuk keperluan audit. Solusi Eko didesain untuk memfasilitasi beragam jenis bisnis, mulai dari perhotelan, ritel, korporasi, konstruksi hingga bidang kesehatan.

Sebagai sebuah SaaS, Eko dijajakan dalam bentuk berlangganan – disediakan dalam paket-paket sesuai ukuran bisnis. Menurut penelitian IDC, potensi platform kolaborasi seperti itu cukup besar. Nilainya akan mencapai $31 miliar pada 2022 mendatang. Hal ini dikarenakan adanya tren perusahaan yang berbondong-bondong mencoba mengubah kultur internal dalam transformasi digital.

Application Information Will Show Up Here