AMODA Raih Pendanaan Awal Dipimpin East Ventures dan Living Lab Ventures

Startup properti dan konstruksi AMODA memperoleh pendanaan awal dengan nominal yang dirahasiakan, dipimpin oleh East Ventures dan Living Lab Ventures. Sebelumnya, AMODA mendapat pendanaan pra-awal pada Juli 2022 yang juga dipimpin East Ventures.

“Putaran pendanaan awal ini mendorong kami untuk merevolusi lanskap properti dan konstruksi di Indonesia. Kami yakin dapat menciptakan ruang bangunan yang inovatif, mudah beradaptasi, dan ramah lingkungan dalam memberdayakan dunia usaha dan individu,” tutur Co-Founder & CEO AMODA Robin Yovianto dalam keterangan resminya.

AMODA didirikan pada Oktober 2021 oleh Robin Yovianto dan Agusti Salman Farizi (Co-Founder dan Presiden) dengan visi untuk merevolusi industri properti dan konstruksi di Indonesia.

Sejak berdiri, perusahaan mengklaim telah mengantongi pertumbuhan pendapatan 4x lipat dari tahun ke tahun. AMODA telah memperluas cakupan operasinya dengan total portofolio lebih dari 200 aset konstruksi, 50 mitra kontraktor nasional, dan menjalin hubungan dengan lebih dari 30 pemilik tanah.

“Investasi ini mencerminkan keyakinan kami terhadap visi mereka untuk mentransformasi dan mendefinisikan kembali sektor properti dan konstruksi di Indonesia. Kami telah menyaksikan pertumbuhan AMODA yang luar biasa, dan kami yakin solusi inovatif AMODA akan meningkatkan kualitas efisiensi, efektifitas, dan keberlanjutan pada sektor konstruksi,” ujar Partner East Ventures Melisa Irene.

Solusi AMODA juga disebut telah memperkuat kemitraan jangka panjang dengan lebih dari 60 perusahaan. Adapun, pendanaan ini akan dialokasikan untuk meningkatkan kapabilitas produk, teknologi, dan operasional.

Tantangan

AMODA mengungkap bahwa industri properti dan konstruksi dihadapkan pada metode konvensional yang menyebabkan rendahnya produktivitas dibandingkan sektor lain. Kurangnya transparansi dan perkiraan pada proses konstruksi mengakibatkan inefisiensi di kebanyakan proyek. Terbuangnya sumber daya dan jejak karbon dalam jumlah besar juga menjadi salah satu tantangannya.

AMODA mengembangkan inovasi yang dapat mentransformasi dan mengatasi isu pada proses konstruksi tradisional. Perusahaan menyediakan dasbor untuk memungkinkan klien melacak pekerjaan secara menyeluruh, baik dari aspek harga, konstruksi, dan penyewaan. Selain itu, AMODA juga kini menggunakan material yang dapat berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dan proses konstruksi ramah lingkungan.

Solusinya juga memungkinkan klien  memiliki kebebasan dan bereksperimen untuk mengubah lokasi, terutama pada tahap awal merintis usaha atau bisnis mereka. Strategi ini diyakini dapat memberikan dampak signifikan bagi klien dalam memitigasi risiko.

Investasi East Ventures di proptech

Sebagai pemodal ventura yang memiliki mandat sektor agostik, East Ventures memiliki keleluasaan untuk berinvestasi ke berbagai vertikal industri. Di proptech sendiri, keseriusan East Ventures semakin tampak ketika pada 2022 lalu turut terlibat mendirikan Urban Gateway Fund bersama Sinar Mas Land, Redbadge Pacific, dan Prasetia Dwidharma. Fokusnya berinvestasi ke startup tahap awal yang bergerak pada pengembangan tata kota.

Selain AMODA, East Ventures juga sempat berinvestasi ke Tanaku, startup yang membangun platform teknologi untuk memfasilitasi pembelian dan transaksi properti secara online. Kemudian juga memberikan pendanaan awal ke Kabina, pengembang platform penyederhanaan proses konstruksi dengan memanfaatkan modularistas, pra-fabrikasi, dan bahan utama kayu. Ringkas juga sempat mendapatkan sokongan modal dari East Ventures untuk menghadirkan layanan digital guna memfasilitasi kredit hunian (KPR).

BRIK Konfirmasi Tutup Pendanaan Pra Seri A Senilai 168 Miliar Rupiah

Startup konstruksi BRIK telah menutup putaran pendanaan pra seri A dengan nominal sebesar $11,5 juta (sekitar 168 miliar Rupiah). Hal ini telah dikonfirmasi oleh manajemen perusahaan menyusul pemberitaan terakhir terkait penggalangan dana mereka pada Desember 2022 silam.

Kepada DailySocial.id, pihak BRIK menyebut investor terdahulu, seperti Accel dan AC Ventures, kembali berpartisipasi dalam putaran ini. Kemudian, B Capital, Alter Global, Living Lab Ventures, perusahaan konstruksi asal Singapura Woh Hup, salah satu konglomerat lokal, dan beberapa angel investor yang mayoritas berasal dari India, juga ikut berinvestasi.

Sebelumnya, BRIK telah menerima pendanaan tahap awal senilai $4 juta atau Rp59,5 miliar pada Juli 2022, dipimpin oleh AC Ventures dengan keterlibatan Accel, Infra.Market, Alto Partners, BizOnGo, dan sejumlah angel investor.

Dana segar ini akan digunakan untuk memperluas jangkauan bisnis dan menambah lini produk BRIK. Dalam upaya mengembangkan bisnisnya, BRIK juga diketahui berencana untuk mempekerjakan beberapa individu di Singapura, Indonesia, dan India untuk menyediaan produk beton, pracetak dan nonstruktural, agregat berkualitas tinggi, dan bahan kimia konstruksi.

Di samping itu, perusahaan juga mendorong inovasi teknologi untuk dapat menurunkan harga. Hingga saat ini, BRIK telah tersedia di pulau Jawa, Bali, dan Lampung.

Saat ini, BRIK memiliki empat produk unggulan, yaitu beton, cat interior dan waterproofing dari Singapura, bata merah dan hebel brik, juga lem, thinner dan admixtures. Perusahaan segera menambah lini produk baru, seperti kayu untuk konstruksi, dan meningkatkan nilai produk dengan menuju ke green innovation.

Solusi BRIK

BRIK didirikan pada 2022 oleh empat orang founder, dua di antaranya mantan VP SEA Invesment di Jardines dan salah satu co-founder di iDexpress. BRIK merupakan perusahaan agregator bahan baku B2B yang memiliki fokus dalam membangun rumah produk bahan konstruksi.

Dalam operasionalnya, perusahaan memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah di sektor konstruksi seperti kurangnya transparansi harga, kualitas bahan konstruksi yang tidak sesuai, basis vendor yang terfragmentasi, dan logistik yang tidak efisien. Dengan sistem bisnis ini, BRIK telah melayani klien institusional (B2B) dan juga pelanggan ritel.

BRIK mengembangkan produk konstruksi sendiri dengan kualitas dan karakteristik yang sesuai dengan riset yang telah dilakukan tim. Lewat mekanisme cloud manufacturing, perusahaan merangkul rekanan pemasok bahan bangunan untuk membantu perusahaan memproduksi barang. BRIK memberikan jaminan penjualan lewat kanal yang dimiliki.

Beberapa startup yang menyasar segmen konstruksi di Indonesia sebut saja GoCement yang berupaya mengefisiensikan bisnis konstruksi. Selain itu, ada Proglix yang menghadirkan solusi terpadu penyediaan raw material untuk konsumen infrastruktur dan manufaktur.

Menurut riset GlobalData, ukuran pasar bisnis konstruksi di Indonesia telah mencapai $234,6 miliar atau setara Rp3,591 triliun pada 2021 lalu. Diproyeksikan sektor ini akan mendapati average annual growth rate (AAGR) lebih dari 4% dalam periode 2023-2026 mendatang. Pertumbuhan ini berkorelasi langsung dengan sejumlah metrik perekonomian, termasuk PDB nasional yang pada 2022 berhasil tumbuh 5,31%.

GoCement Ambil Langkah Disruptif Efisienkan Bisnis Konstruksi

Menurut riset GlobalData, ukuran pasar bisnis konstruksi di Indonesia telah mencapai $234,6 miliar atau setara Rp3,591 triliun pada tahun 2021 lalu. Diproyeksikan sektor ini akan mendapati average annual growth rate (AAGR) lebih dari 4% dalam periode 2023-2026 mendatang. Pertumbuhan ini berkorelasi langsung dengan sejumlah metriks perekonomian, termasuk PDB nasional yang pada tahun 2022 berhasil tumbuh 5,31%.

Di samping itu, investasi ke bisnis konstruksi juga mengalami peningkatan. Tahun 2018 nilainya telah mencapai $72 miliar, mengindikasikan AAGR 5% sejak tahun 2010. Data BPS juga menyatakan, di tahun 2018 ada lebih dari 131 ribu perusahaan dari berbagai skala (kecil-menengah-besar) yang menggarap bisnis ini di Indonesia. Maka tidak diragukan lagi ini memang industri yang memiliki nilai dan peluang besar.

Namun demikian, industri ini masih dihadapkan pada sejumlah inefisiensi yang berdampak pada produktivitas di sektor ini. Di antara isu-isu yang ada, supply chain yang kurang optimal menjadi salah satu isu mendasar yang punya urgensi lebih untuk diselesaikan. Sebagian besar proses bisnis yang ada juga masih manual, mengandalkan cara kerja perusahaan tradisional yang sudah berkecimpung puluhan tahun.

Menurut data McKinsey, 20% proyek konstruksi selesai lebih lama dan 80% proyek mengalami pembekakan biaya. Dari sana mencuat gagasan, tentang upaya yang dapat membuat sistem kerja yang ada dalam konstruksi menjadi lebih efisien, sehingga berimplikasi pada proyek konstruksi yang lebih baik lagi — salah satunya lewat transformasi digital.

Upaya mendigitalkan sektor konstruksi

Melihat besarnya peluang digitalisasi di sektor konstruksi, Djonny Suwanto bersama dua co-founder lainnya Asanga Abhayawardhana dan Tarun Kakkar menginisiasi GoCement. Misinya menjadi one-stop platform untuk bahan dan alat konstruksi yang lebih murah, sekaligus meningkatkan efisiensi proses penyediaannya. Saat ini platform GoCement berbentuk B2B commerce, menjembatani kebutuhan pemasok dan kontraktor.

Djonny Suwanto bersama co-founder Asanga Abhayawardhana / GoCement

Dalam debutnya, sejumlah investor memberikan dukungan pendanaan, mulai dari BEENEXT, MDI Ventures (melalui dana kelolaan Arise), dan Ideosource. Dan kini perusahaan tengah melanjutkan tahapan pendanaan berikutnya (pra-seri A) melalui dukungan Foundamental, DS/X Ventures, dan sejumlah investor lainnya.

“Konstruksi termasuk sebagai industri yang paling akhir kena disrupsi. Dan saya pikir kami hadir di waktu yang tepat di tahun 2021. Kalau lebih awal 2-3 tahun, mungkin [red: investor dan pasar] belum bisa melihat (model bisnis) ini workable atau acceptable di tanah air,” ujar Djonny.

Di lanskap startup lokal, sejak tahun 2022 juga bermunculan solusi serupa GoCement. Beberapa pemain lain yang hadir termasuk BRIK (didukung pendanaan awal oleh AC Ventures dan sejumlah investor), JuraganMaterial, Proglix (didukung Y Combinator dan sejumlah angel investor), hingga BukaBangunan (unit bisnis dari Bukalapak). Masing-masing tengah menggodok strategi mencapai product-market fit dengan proposisi nilai unik yang dimiliki.

Tidak hanya itu, sejumlah investor lokal juga mengatakan mulai menggarap thesis investasi untuk construction-tech. Salah satunya Mandiri Capital Indonesia yang telah menyiapkan dana kelolaan khusus untuk masuk ke sektor baru tersebut.

Construction-tech ini juga makin tervalidasi dengan sejumlah startup yang menjadi unicorn, termasuk salah satunya Infra.Market dari India yang berhasil melambungkan valuasinya menjadi $2,5 juta setelah putaran seri D mereka di 2021. Bahkan di India, juga ada pemain lainnya yang sudah menjadi unicorn yakni Moglix dan Ofbusiness.

Hadir dengan model vertical marketplace

Djonny menyampaikan, di fase awalnya GoCement menghadirkan layanan vertical marketplace untuk melayani pasar di Jawa Timur. Konsep ini dinilai relevan untuk diaplikasikan di industri konstruksi, karena dalam proses bisnisnya mereka turut melakukan kurasi dan pengelolaan stok barang secara in-house. Di tingkat taktis, GoCement bahkan turut mendirikan infrastruktur (pergudangan, pemenuhan, dan logistik) untuk memastikan ketersediaan dan distribusi yang terjangkau.

“Sekarang ini semua lari dari horizontal marketplace [red: seperti Shopee, Tokopedia dll] menjadi vertical marketplace. Perbedaannya, model ini menyuguhkan kepada pelanggan sistem curated-managed marketplace. Proses seleksi dan kurasi ini menjadi penting bagi kami yang bermain di B2B, untuk memastikan pengalaman pengguna yang lebih baik,” jelas Djonny.

Lebih lanjut dijelaskan mengenai konsep vertical marketplace ini. Djonny bercerita, di awal kemunculan layanan marketplace seperti Tokopedia, kebanyakan merchant di dalamnya bersifat dropshipper — mereka berjualan tanpa harus memiliki stok barang tersebut secara fisik. Jika diaplikasikan ke B2B marketplace, hal seperti itu dinilai bisa menghasilkan user experiences yang buruk. Konsumen bisnis, dalam hal ini pengembang properti, mengemban proyek dengan perencanaan (termasuk biaya, timeline) yang sudah matang.

Proses pengelolaan dan kurasi tersebut memastikan bahwa selain ketepatan, para konsumen bisnis mendapatkan value lain dengan pemesanan secara digital. Value ini bisa berupa apa saja, termasuk salah satunya harga yang lebih terjangkau.

Tampilan aplikasi GoCement di platform Android / GoCement

Melalui situs dan aplikasinya, GoCement memudahkan pengelola proyek untuk berbelanja berbagai kebutuhan konstruksi dan penyewaan berbagai alat pendukung. GoCement juga memastikan kualitas produk yang dijual telah berstandar SNI, ISO, dan lulus uji produk; plus memberikan jaminan transparansi dan stabilitas harga.

Model pengelolaan pengantaran juga dinilai menyelesaikan masalah yang sering dihadapi pekerja bangunan. Seringkali untuk mendapatkan harga bersaing mereka harus membeli bahan tertentu dalam jumlah besar, sayangnya kadang tidak ada tempat untuk menaruh barang tersebut. GoCement bisa memudahkan dengan proses pengantaran yang terjadwal, sesuai kebutuhan di proyek tersebut. Di area operasionalnya juga ada jaminan pengantaran di hari yang sama saat pemesanan terselesaikan.

Memperkenalkan construction tech

Di awal berdiri, Djonny mengaku kesulitan untuk menemukan terminologi tepat untuk menjelaskan bisnisnya, terutama ke investor. “April 2021 saya bingung mau ngomong, kita ini e-commerce kah, marketplace kah […] akhirnya bilang sebagai supply chain dan logistic solution (untuk konstruksi), karena waktu itu last-mile logistic masih hot di industri. Hingga akhirnya bertemu seed investor kami, BEENEXT, yang memberikan pemahaman bahwa construction tech (contech) ini sudah ada di region lain dan banyak yang sudah menjadi unicorn.”

Bagai gayung bersambut, justru sejak dari titik itu minat terhadap model bisnis ini di Indonesia menjadi tinggi. Dan yang paling menarik, sejumlah VC strategis masuk ke jajaran investor GoCement, salah satunya Foundamental. Bagi Djonny, Foundamental menjadi mitra strategis, pasalnya pemodal ventura ini memiliki thesis dan pengalaman khusus di construction tech.

Foundamental juga berinvestasi ke startup contech lain, di antaranya Tül dan Infra.Market. Posisi Tül di pasar Kolombia juga menjadi menarik, startup tersebut berhasil mendapatkan pendanaan lanjutan $181 juta dengan valuasi $800 juta sejak 20 bulan mereka berdiri — menjadikan startup ini menjadi perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Latin.

Tül dan Infra.Market memiliki pendekatan yang berbeda. Di sisi segmen konsumen, Infra.Market fokus pada pengembang proyek konstruksi skala besar, sementara Tül fokus ke pemenuhan toko bangunan skala kecil-menengah.

Ini bukan tanpa alasan, kendati nilai pasar industri konstruksi di Amerika Latin bernilai lebih dari $120 miliar, struktur distribusinya masih berpangku pada toko bangunan (setidaknya 50% dari total penyaluran yang ada saat ini). Namun sebagian besar toko tersebut tidak memiliki supply chain yang efisien, karena sebagian dijalankan di level UMKM.

Sementara di India, pasar konstruksi saat ini banyak didorong proyek infrastruktur skala besar dan perumahan. Para kontraktor diharapkan dengan tantangan untuk menghadirkan bahan bangunan secara lebih efisien dan murah.

GoCement hadir dengan pendekatan yang lebih holistik, gabungan model bisnis yang dimiliki Tül dan Infra.Market. Hal ini dikarenakan secara pelayanan GoCemenet lebih menempatkan platformnya sebagai one-stop shop, menjajakan ribuan SKU produk di satu tempat. Divergensi tersebut juga dibungkus untuk melayani klien bisnis, peritel, dan konsumen akhir. Di sisi lain, GoCement turut menyediakan infrastruktur pemenuhan dan sistem operasi pendukungnya.

Model bisnis GoCement

GoCement melihat sejumlah paint points utama yang sering mengganggu kelancaran proyek konstruksi. Mulai dari ketersediaan stok material, pelayanan/pengantaran yang tidak terkontrol, dan sistem pembiayaan yang kurang menguntungkan (termasuk untuk pemilik toko material). Melalui platform yang dimiliki, perusahaan berupaya menyelesaikan masalah tersebut sembari mencoba mengaplikasikan sejumlah model bisnis.

“Hampir semua marketplace akan punya income generation salah satunya dari private label. Kemudian dengan infrastruktur yang dimiliki akan masuk juga ke 3PL & 4PL (logistik). Dan tentunya fintech. Fintech ini akan unlocking all the bottleneck, termasuk di konstruksi, di sini akan memudahkan kontraktor untuk melakukan financing. Terlepas dari itu, kami ada kearifan lokal dan pengalaman yang pernah kami kerjakan di industri ini,” ujar Djonny.

Pembuatan produk private label ini menjadi salah satu yang menarik. Mengingat GoCement punya legacy bisnis dan jaringan yang kuat dari pendirinya, mereka mengklaim memiliki rantai distribusi yang matang untuk bisa menghadirkan sejumlah produk materialnya sendiri. Selain agar menghasilkan net margin yang lebih menguntungkan di sisi bisnis, adanya “cloud manufacturing” yang tersebar di wilayah distribusi bisa membuat pemenuhan stok lebih efisien.

GoCement implementasikan multi-model bisnis, salah satunya dengan menghadirkan produk private label / GoCement

Di sisi transaksi, selain mendapatkan gross margin dari pembelian bahan material melalui B2B commerce yang dimiliki, GoCement juga memberikan layanan sewa berbagai alat konstruksi seperti molen, stamper, vibro, hingga loft cor. Sementara untuk financing, perusahaan juga masih terus memperluas kerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk fintech dan perbankan.

“Yang jelas pasarnya sangat besar dan kami saat ini masih di Sidoarjo dan Surabaya, Jawa Timur. Tentunya kami akan segera melakukan ekspansi ke daerah lain seperti Jawa Tengah, namun yang harus dipastikan kami ingin membereskan sisi supply-nya dulu, baru mencari (atau membentuk) demand di pasar baru,” imbuh Djonny.

Sebagai tech-enabler, GoCement memiliki tiga pilar yang akan selalu dipastikan ada untuk menjadi proposisi nilai utama yang diberikan kepada para penggunanya, yakni convenience, reliability, dan fair pricing.

Fair pricing ini selalu kami tekankan. Kami gak pernah mengklaim memiliki harga yang paling murah, karena kita bermain dengan produk bulky item, kebanyakan low value. Jadi fair pricing ini lebih penting, karena semua punya banyak ketergantungan, misalnya karena faktor demand-supply dan lokasi geografi,” jelasnya.

Disrupsi bisnis konstruksi

Sebagai industri yang menymbangkan 11% total GDP nasional (urutan ke-4), konstruksi jelas berperan signifikan dalam perekonomian. Jika didalami, bisnis konstruksi juga punya turunan yang cukup banyak dilihat dari jenis/skala proyek yang dikerjakan. Adapun GoCement saat ini memilih untuk mengambil segmen kecil-menengah, memfasilitasi kebutuhan bahan/alat konstruksi pada proyek-proyek di daerah dengan ukuran yang kecil, namun memiliki kuantitas yang banyak.

“Bisnis konstruksi besar, seperti pembangunan gedung pencakar langit atau proyek strategis nasional, biasanya dilakukan oleh kontraktor kelas besar yang sudah memiliki jaringan dan distribusi yang matang karena berpengalaman puluhan tahun. Kami tidak bermain di sana, GoCement melayani small-medium construction. Yang besar ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk didisrupsi,  sedangkan yang kecil memiliki potensi yang lebih menarik,” ujarnya.

Djonny bercerita, salah satu mitra distribusi perusahaannya adalah Jawa Berkat yang telah melayani pembelian semen Gresik ke sekitar 2 ribu pelanggan. Diakui sulit untuk mendigitalkan perusahaan konstruksi dengan skala tersebut — walau di sisi lain, pihak seperti Semen Indonesia sebenarnya sudah mengembangkan sistem terintegrasi yang memudahkan toko melakukan pemesanan ke distributor. Selama berpuluh-puluh tahun alur supply-chain bisnis konstruksi adalah dari pabrik, ke distributor, ke toko grosir, ke toko kecil, lalu konsumen akhir.

“Jika melihat alur tersebut, adanya GoCement medisrupsi di sisi distribusinya. Namun yang perlu dicatat, tidak serta-merta peran distributor tersebut hilang, melainkan beralih fungsi, salah satunya sebagai stock point. Peran stock point tidak mungkin dihilangkan, apalagi melihat kondisi geografis di Indonesia. Kami melakukan ini dengan mendisrupsi diri kami sendiri (red: Djonny sebelumnya memiliki bisnis konstruksi konvensional),” cerita Djonny.

Sementara salah satu masalah paling mendasar dalam industri konstruksi, khususnya di skala kecil-menengah, berujung pada pembiayaan. “Game di level ini diadukan pada term of payment, ada yang 30 hari, 45 hari, bahkan sampai setengah tahun. Ada kejadian proyek rumah sudah jadi, namun penjual belum mendapatkan pembayaran atas bahan yang dibeli. Di luar itu memang tidak dimungkiri banyak kontraktor yang ‘ngemplang’ dan bayarnya telat.”

“GoCement tetap mengakomodasi ‘kultur’ tersebut, namun dengan memberikan additional value berupa transparansi, misalnya lewat fitur tracking dan jaminan delivery on-time. Dari sini kita mulai memberikan pemahaman tentang pentingnya decentralized procurement untuk konstruksi ini,” jelas Donny.

Dengan model bisnis yang solid dan pertumbuhan bisnis yang konsisten, GoCement telah cukup percaya diri untuk melangkah dan memperlebar sayapnya. Dari perjalanan yang ada, Djonny mengaku bahwa pasar ini masih memerlukan effort edukasi yang besar. Ada perbedaan proses adopsi antara pengguna di kota tier-1, 2, dan 3, yang membuat GoCement harus menyesuaikan kembali strategi untuk menembus tiap area pasar.

Tim GoCement / GoCement

“Di sisi pendanaan, kami masih tetap membuka putaran pra-seri A dengan fokus utama menemukan mitra strategis. Fokus utama perusahaan dalam satu-dua tahun ke depan adalah peningkatan growh dan operasional, penguatan tim, dan pengembangan produk,” tutup Djonny.

Application Information Will Show Up Here

Disclosure: DS/X Ventures (bagian dari DailySocial Group) merupakan salah satu investor GoCement

Dennis Pratistha: Mandiri Capital Indonesia Bentuk “Thematic Fund” di 2023

Mandiri Capital Indonesia (MCI) terus melanjutkan misinya untuk mendorong value creation bagi induk usaha Mandiri Group. Menurut Plt. CEO MCI Dennis Pratistha, pihaknya tengah menyiapkan beberapa “thematic fund” dan menjajaki peluang investasi di sektor baru, seperti construction tech dan biotech.

Sebelum menempati posisi CEO sementara pasca-penunjukkan Eddi Danusaputro di BNI Ventures, Dennis menjabat sebagai Chief Investment Officer. Adapun, saat ini MCI mengelola tiga dana kelolaan, yakni dana kelolaan bersumber dari Mandiri Group, Indonesia Impact Fund (IIF), dan Merah Putih Fund.

Sekadar informasi, Dennis telah lama berkecimpung di industri teknologi dan telekomunikasi dengan menduduki posisi Chief Technology Officer dan Chief Operating Officer, seperti di Redkendi, Ebizu, MNC, dan Nusatel. Di bidang investasi, ia juga pernah menjadi Executive di Star Capital.

Apa ada perubahan tesis investasi MCI dengan posisi saat ini?

Jawab: Saat ini kami masih fokus berinvestasi pada portofolio yang dapat berkontribusi terhadap value creation untuk Mandiri Group. Kami harus punya pembeda sehingga lainnya bisa saling co-exist dan berkontribusi. Startup saja punya [value proposition]. Kalau semua sama, the one with the most money will win. We have to have different angles to bring to the table. Justru di cap table, kita [VC] harmonis.

Beda VC, beda pula value creation. Ada VC yang kuat pada sisi teknologi, ada juga pada aspek operasional. Kami [kuat] pada aspek pengembangan bisnis. Ini yang membuat kami bisa duduk dengan nyaman dan tetap produktif di meja yang sama.

Apa value proposition yang ditawarkan?

J: Kami memiliki lima value proposition. Pertama, kami merupakan Corporate Venture Capital (CVC) milik Mandiri Group. Kedua, Mandiri Group memiliki puluhan juta customer dan 200 ribu UMKM. Ketiga, kami menghubungkan ke ekosistem BUMN. Keempat, kami dapat mendampingi pada proses value creation di pengembangan bisnis. Kami bantu ekspansi dan sinergi dengan menghubungkan ke banyak pemangku kepentingan.

Kelima, kami menghubungkan [portofolio] ke jaringan ke anak usaha Mandiri, seperti Mandiri Sekuritas. Jaringan [anak usaha] ini dapat mendukung startup untuk melakukan fundraising, merger and acquisition (M&A), atau exit melalui IPO. Sebelumnya, Mandiri Sekuritas pernah menjadi penjamin emisi (underwriter) pada IPO GoTo dan Bukalapak.

Selain itu, kami juga memiliki program matchmaking Xponent untuk mendorong Mandiri Group agar dapat ter-expose ke digital platform yang lebih inovatif.

Apa tujuan utama dari program Xponent?

J: Program ini murni ingin membantu dua pihak, yakni Mandiri menjadi inovatif dengan leveraging platform digital dan platform memanfaatkan Mandiri untuk mendorong bisnisnya. Ini murni sebuah acara matchmaking untuk menghasilkan kesepakatan bisnis. No investment involved. Kami tidak undang investor, tetapi unit bisnis dan startup.

Tentu saja, MCI sambil melihat, kira-kira mana yang bisa ditindaklanjuti. Makanya, saya garis bawahi MCI berinvestasi pada startup yang membawa valueA lot of money out there, economy is a bit slow, so good deals tidak terlalu banyak.

Kami menyadari ada shifting terjadi. Kami harus fokus pada startup yang sudah memiliki path to profitability atau profitable. Mereka harus tumbuh, tapi bukan berhenti karena sudah profitable. Startup yang sudah profitable harus mereplikasi model bisnis ke area atau produk lain. Artinya, mendorong pertumbuhan yang memiliki dampak positif ke bottom line. Kami ingin mereka menjadi a self-sustain company. Pertumbuhan tetap dikejar, bukan berarti berhenti.

Pada akhirnya, startup harus mencari model yang tepat, pahami model bisnisnya, dan lakukan ekspansi. We will help you expand.

Apakah ada portofolio baru yang akan diumumkan selanjutnya?

J: Kami akan mengumumkan dua portofolio di sektor aquaculture dan FMCG supply chain pada kuartal keempat ini. Selain itu, kami juga sedang menjajaki peluang di sektor autotech, proptech, construction tech, dan biotech. Ada banyak angle [di sektor ini], yang sedang kami lihat adalah supply chain.

Di construction tech, kami juga mencari model supply chain; dari prinsipal, toko bangunan, kontraktor, dsb. Supply chain di Indonesia masih belum efisien, tidak ada transparansi, dan prosesnya kompleks. Kami ingin empower mereka menjadi bagian dari ekosistem, tetapi memberikan margin yang lebih efisien. Teknologi memberdayakan bisnis, bukan sebaliknya. Kita harus punya bisnis dulu, baru di-empower oleh teknologi.

Kemudian, biotech. Saat ini, [biotech] di Indonesia masih di tahap awal. Kami sedang mempelajari use case dan commercial viability. Kami belajar dari pemain biotech yang sudah ada, dari startup atau perusahaan teknologi. Bukan berarti kami langsung berinvestasi, justru kami belajar dari mereka. Kami pahami dulu industri dan tantangannya. Menganalisis industri harus menyeluruh, apalagi spektrum biotech sangat luas sekali. Ada microbio hingga DNA. Kami perlu lihat, mereka bisa sustain dengan [use case] mana dulu.

Untuk autotech, ada beberapa hal menarik. Pertama, supply chain. Kedua, kami adalah bagian dari konglomerasi di bidang keuangan, Mandiri memiliki perusahaan multifinance dan bank. Bagaimana caranya, kami bisa menemukan marketplace yang fokus pada multifinance. Kami tertarik berinvestasi ke multifinance marketplace. Selama ini pengisian data lewat form harus satu-satu, sedangkan pengisian data di marketplace hanya satu kali. Marketplace lebih nyaman untuk dealer dan multifinance. Tidak perlu menghubungi satu-satu.

Bagaimana rencana pembentukan thematic fund MCI selanjutnya?

J: Kami belum bisa disclose mengenai pembentukan thematic fund ini, tetapi ini berbeda dengan Merah Putih Fund. Rencananya, kami ingin berkolaborasi dengan VC atau institusi. Kami lagi ngobrol dengan beberapa.

Mengapa memilih theme-based? Kami melihat [VC] yang fokus di semua bidang atau sektor agnostik itu sudah banyak. Kami mau fokus pada tema spesifik. Kami ingin dapat membantu ekosistem mereka. Ujung-ujungnya, kami harus create value. Semoga, [thematic fund] bisa terealisasi tahun depan.

Bagaimana Anda menanggapi industri startup Indonesia di situasi saat ini?

J: Pada dasarnya, startup adalah bisnis. [Pelaku startup] mengidentifikasi masalah dengan skala pasar yang cukup besar. Jangan mengidentifikasi masalah hanya di level kecamatan atau RT saja. Dengan itu, cobalah ciptakan solusi.

Namun, [menciptakan solusi] tidak semudah, “I have an idea, let’s develop full version”. Di antara idealism dan practicality, pasti ada disparity. Lakukan uji coba, mulai dengan skala kecil dengan sedikit modal, hingga memperoleh Minimum Viable Product (MVP). Ketika MVP jalan, baru kembangkan full-face product.

Begitu Anda punya full-face product dan mencapai product-market fit, artinya Anda sudah memvalidasi masalah. Anda tweak apa model bisnisnya, bukan hanya produk saja. Misalnya, model berbasis langganan, transaksi, atau penggunaan. Setelah Anda menemukan model bisnis, Anda menemukan kecocokan pasar-produk, Anda memiliki profitabilitas, dan keberlanjutan. Itu yang dilupakan banyak pihak.

[Mindset] dulu, ketika pelaku bisnis konvensional bertemu, mereka berdiskusi tentang EBITDA, misalnya. Sementara, startup bicara soal seberapa besar valuasinya. Sekarang, startup sudah mulai pikirkan sustainable growth, itu kata kuncinya. Bukan berarti mengerem [pertumbuhan bisnis].

Bagaimana Anda melihat founder mentality dari awal pandemi hingga sekarang?

J: Pandemi—tanpa bermaksud mendiskreditkan health issue, it’s very unfortunate—mendorong transformasi digital lebih cepat. Selama pandemi, kita banyak memanfaatkan aplikasi untuk berbagai hal, seperti memesan makanan. Pola pikir kita telah bergeser.

Para founder memanfaatkan peluang digital [untuk menciptakan solusi]. Sayangnya, banyak [startup] yang belum siap [merespons] pertumbuhan tersebut. Mereka belum mencapai product-market fit dan model bisnisnya belum ketahuan. Memang mereka bisa memperoleh angka pertumbuhan, tetapi memiliki keberlanjutan tanpa model bisnis yang tepat.

Sekarang, pertumbuhan ekonomi mulai melambat. Saya tidak mau bilang resesi atau apapun karena situasi setiap negara berbeda-beda. Saya optimistis dengan Indonesia. Pemerintah melakukannya dengan baik dalam mengendalikan perlambatan ekonomi ini. Harus disadari bahwa Indonesia adalah negara konsumtif. Ngegas dan ngerem harus balance.Anda ingin mengendalikan inflasi tetapi Anda tidak ingin menghentikan pertumbuhan.

Lalu, bagaimana upaya menghadapi perlambatan ekonomi? Ini sesuatu yang baru. Kita tidak tahu mau ke mana, apa yang perlu dilakukan. Nah, mentality harus diubah. Pada [masa awal pandemi] kemarin ada banyak peluang di mana terjadi akselerasi transformasi digital. Saat ini, dari peluang tersebut, kita harus berupaya menjadikannya sebagai bisnis yang sustainable.