Canva Luncurkan Canva Print, Layanan Print-on-Demand untuk Indonesia

Canva, startup desain grafis yang berasal dari Australia, meresmikan layanan print-on-demand Canva Print untuk kawasan di Asia Tenggara. Negara yang mendapatkan kesempatan untuk menikmati Canva Print antara lain Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Brunei.

Hadirnya Canva Print memungkinkan pengguna Canva merancang dan mencetak kartu nama, selebaran, poster, undangan hingga kop surat secara langsung. Nanti hasilnya dikirim ke alamat yang dituju.

Canva juga menyediakan lebih dari 100 bahasa termasuk bahasa tradisional Tiongkok, Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, Bahasa Thailand, Bahasa Vietnamese hingga Tagalog.

Untuk mendukung operasinya di negara-negara Asia Tenggara Canva bekerja sama dengan KHL Printing, perusahaan percetakan yang melayani kawasan Asia Tenggara dan memiliki kantor di Singapura.

“Canva adalah alat desain yang mudah digunakan dengan ribuan template untuk hampir semua hal; kartu nama, menu restauran, undangan pernikahan, poster acara, dan lainnya. Sementara desain Canva cocok untuk dibagikan secara online, banyak pengguna kami masih memerlukan salinan cetak. Bersama dengan KHL, kami merampingkan proses desain dan percetakan untuk memberikan pengguna kami akses mudah ke cetakan profesional,” terang Global Print Operations Canva Jim Towle.

Pengguna yang menggunakan Canva Print hanya tinggal melampirkan desain, jenis kertas, jumlah dan alamat pengiriman untuk melakukan pesanan.

Bagi pegguna dari Indonesia, hasil cetakan akan dikirim dari Singapura. Sayangnya saat ini Canva Print hanya melayani pembayaran dalam mata uang dolar. Menanggapi hal ini pihak Canva menjelaskan bahwa akan segera meluncurkan pembayaran dalam bentuk Rupiah.

Bagi Canva, Indonesia merupakan salah satu pasar potensial di kawasan Asia Tenggara. Pihak Canva bahkan menyebutkan bahwa saat ini Indonesia merupakan salah satu pasar dengan perkembangan paling cepat untuk pengguna aplikasi mobile.

Menindaklanjuti hal tersebut pihak Canva berencana untuk mengembangkan fitur di aplikasi mobile untuk pengguna di Indonesia. Salah satu contohnya mereka telah meluncurkan fitur “Iages Pro”. Sebuah fitur yang memungkinkan pengguna untuk mengakses library dari ribuan konten dan foto. Termasuk dalam rencana Canva adalah melanjutkan pelokalan produk.

Application Information Will Show Up Here

BBM Rilis Fitur Baru, Mulai dari Penyunting Foto hingga Peningkatan Integrasinya dengan Dana

Platform pesan BBM hari ini (20/2) mengumumkan beberapa pembaruan di aplikasinya. Pertama, kini di aplikasi BBM terdapat fitur editor foto. Dengan fitur tersebut pengguna bisa menulis atau membubuhkan goresan tinta digital di atas foto. Menu “crop” dan “rotation” juga ditambahkan, agar pengguna tak perlu lagi membuka aplikasi lain saat butuh mengelola foto yang hendak dikirimkan.

Pembaruan kedua, BBM meningkatkan fitur PIP (Picture in Picture) dalam video call untuk pengguna Android. Dengan peningkatan fitur ini pengguna bisa melakukan kegiatan lain di dalam smartphone seperti cek email atau membalas chat tanpa harus menutup panggilan video call. Caranya, ketika sedang dalam panggilan, tekan tombol back, maka tampilan video akan mengecil dan berada di salah satu sudut layar.

Ketiga, BBM juga menambahkan fitur pin chat yang memungkinkan pengguna dapat memprioritaskan hingga tiga kolom teratas untuk daftar kontak yang dianggap penting. Dengan menempatkan tiga pin kontak chat maka akan mempermudah pengguna untuk berkomunikasi tanpa harus mencari ke bawah.

Selain itu ada beberapa pembaruan di fitur navigasi dan menu “mark as read” untuk menandai pesan telah dibaca tanpa harus membuka chat satu per satu. Pengguna kini juga bisa mengirimkan uang dengan integrasi layanan Dana  tanpa harus masuk ke dalam ruang chatting. Cukup memilih kontak dan tombol kirim uang yang tersedia.

Application Information Will Show Up Here

Bukan Sebatas Mobil R/C, Sphero RVR Adalah Robot yang Dapat Dikustomisasi Sepenuhnya

Desember lalu, Sphero mengumumkan bahwa mereka sudah berhenti memproduksi robot-robot mainannya hasil kemitraannya bersama Disney. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Sphero untuk memaksimalkan sumber dayanya di ranah STEM, di samping merilis robot baru bernama Bolt.

Belum ada setahun berselang pasca peluncuran Bolt, Sphero sudah siap dengan robot edukatif lain. Namanya RVR, diambil dari kata rover yang menggambarkan wujud beserta fungsinya. RVR bukan sebatas mobil R/C biasa yang bisa dikendalikan via smartphone, ia benar-benar merupakan sebuah robot yang dapat dikustomisasi sepenuhnya.

Sphero RVR

Di balik sasis semi-transparannya, bernaung sederet sensor: sensor warna, sensor cahaya, infra-merah, magnetometer, accelerometer, gyroscope, dan sensor inersia 9-poros yang memungkinkannya untuk saling bertukar sinyal sekaligus berinteraksi dengan robot Sphero lain.

Sensor-sensor tersebut turut didampingi 10 buah LED yang bisa dikustomisasi secara individu, magnetic encoder beresolusi tinggi, serta gear super-presisi dengan peredam suara dan getaran. Secara keseluruhan, RVR sangatlah kompleks terlepas dari kulit luarnya yang kelihatan simpel.

Sphero RVR

RVR juga mengemas karakter sebuah rover yang kental. Berkat gardan berlapis bajanya, permukaan terjal maupun jalan menanjak pun siap ia lewati. Sphero bahkan telah melengkapinya dengan roll cage untuk melindungi komponen-komponen sensitif di dalam RVR, semisal baterainya yang dapat dilepas-pasang, serta di-charge via USB-C.

RVR turut dibekali expansion port universal yang kompatibel dengan beragam development board populer, macam Raspberry Pi, Arduino dan Micro:Bit, sehingga para geek dapat memaksimalkan potensinya dengan leluasa. Juga tidak ketinggalan adalah kompatibilitas dengan platform Sphero Edu, dan Sphero pun sudah menyiapkan kurikulum pembelajaran khusus untuk RVR.

Sphero RVR

Satu hal yang tidak biasa bagi Sphero adalah pemasaran RVR. Di sini Sphero memilih memanfaatkan platform crowdfunding Kickstarter sebagai mediumnya, dengan maksud agar lebih mudah menerima masukan dari para backer yang kebagian jatah lebih dulu. Harga termurah yang bisa ditebus adalah $199, lebih murah $50 dari estimasi harga ritelnya.

Sumber: VentureBeat.

InfraDigital Dapatkan Pendanaan Awal, Fokus Kembangkan Sistem Pembayaran di Sekolah

InfraDigital Nusantara sebagai pengembang sistem pembayaran uang sekolah hari ini (20/2) mengumumkan mendapatkan pendanaan awal (seed funding). Tidak disebutkan nominal dana yang didapat, adapun investor yang terlibat adalah Appworks Ventures, Fenox Ventures dan dua orang angel investor yang kebetulan bekerja di Google dan Netflix.

Dengan penambahan modal ini, tahun 2019 InfraDigital akan fokus pada peningkatan kualitas layanan di seluruh jaringan sekolah. Direncanakan juga beberapa penambahan fitur sesuai masukan yang diberikan oleh konsumen yang ada. Dana juga akan difokuskan untuk memperluas jangkauan pangsa pasar di seluruh wilayah Indonesia.

Sejak diluncurkan pada awal tahun 2018, InfraDigital telah mengelola pembayaran di 90 institusi pendidikan, dengan dana yang dikelola mencapai 24 miliar Rupiah, melibatkan lebih dari 20 ribu peserta didik. Ketika pertama kali diperkenalkan, InfraDigital memang menyasar digitalisasi proses bisnis yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual, yakni (1) pembayaran uang sekolah, (2) pembayaran tagihan apartemen, dan (3) pembayaran parkir.

“Seharusnya pembayaran tagihan sekolah itu semudah membeli token listrik. Walaupun orang tua punya rekening atau tidak, tidak ada halangan untuk membayar tepat waktu. Semua bisa bayar tagihan pendidikan di manapun dan kapanpun melalui layanan perbankan, aplikasi pembayaran, maupun gerai market. Kita juga membantu digitalisasi pengelolaan keuangan sehingga bisa hemat biaya, waktu, dan tenaga. Sekolah menjadi lebih mudah mengurus keuangan dan bisa lebih fokus pada pengembangan pendidikan,” ujar Founder InfraDigital Ian McKenna.

Di sektor pendidikan, selain untuk sekolah, layanan InfraDigital juga dapat digunakan untuk institusi lain, seperti universitas, bimbel, hingga pesantren. Sebagai “payment gateway”, InfraDigital bekerja sama langsung dengan beberapa mitra untuk kanal pembayaran, seperti Indomaret, Alfamart, BNI, Mandiri, Danamon, Ayopop, Kaspro, dan Mobilepulsa.

Demi Menandingi Apex Legends, Call of Duty: Black Ops 4 Dapatkan Update Raksasa

Demam Apex Legends sedang merebak di mana-mana. Spin-off Titanfall ini sukses mengumpulkan pemain dalam waktu singkat, dan berhasil pula menggaet gamer yang awalnya kurang menyukai battle royale. Mereka yang telah memainkannya setuju, kreasi anyar Respawn itu memadukan konsep sejumlah permainan lain; misalnya Halo, Destiny, Overwatch dan Rainbow Six Siege.

Apex Legends merupakan satu dari banyak game yang digarap sebagai respons populernya formula last man standing. Sebelumnya, mode ini turut dibubuhkan developer ternama di franchise andalan mereka, seperti Battlefield, Red Dead Redemption dan Call of Duty. Di Call of Duty: Black Ops 4, Activision bahkan nekat untuk menukar kehadiran mode campaign single-player dengan battle royale. Untung saja, gamer dan media mengapresiasi arahan ini.

Call of Duty: Black Ops 4 sempat masuk ke daftar nominasi permainan shooter terbaik di 2018 serta memenangkan sejumlah penghargaan. Namun belakangan namanya mulai meredup akibat Apex Legends dan Fortnite Battle Royale. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat dua kompetitor itu disajikan sebagap game free-to-play, sedangkan edisi termurah Black Ops 4 saja dibanderol seharga US$ 40 (tanpa mode Zombie).

Sebagai respons Activision dan Treyarch terhadap kepopuleran Apex Legends, mereka meluncurkan add-on anyar untuk Black Ops 4. Penambahan konten bukanlah hal baru bagi game multiplayer, tapi buat yang ini, ukurannya lebih berbobot dari sebelum-sebelumnya. Update tersebut memperkenalkan konten bertajuk Operation Grand Heist, yang terinspirasi dari film-film perampokan di tahun 1970-an.

Pelepasan Operation Grand Heist ditemani dua peta multiplayer anyar (Casino dan Lockup), Specialist baru (Outrider, ahli menggunakan panah), karakter Cosmic Silverback di mode Zombie, serta lokasi dan mode tambahan di porsi battle royale Blackout. Di sana ada tempat bernama Ghost Town, merupakan adaptasi dari map multiplayer klasik Black Ops II, dipadu zona bawah tanah yang segera mengingatkan ala peta Buried.

Grand Heist.

Mode tambahan di Blackout diberi titel Hot Pursuit. Ia menyuguhkan tiga jenis pilihan kendaraan baru (berupa SUV, mobil ‘muscle’ dan speed boat), dan menantang tim untuk berlomba-lomba mendapatkan pasokan perlengkapan high level berisi senjata, baju pelindung dan peledak.

Grand Heist 1

Selain itu, Treyarch membubuhkan beragam item baru di Black Market, sebagian dari mereka mengusung tema 70-an. Lalu beberapa opsi senjata anyar yang bisa Anda gunakan meliputi Rampage Auto Shotgun, Switchblade X9 SMG dan palu Home Wrecker.

Grand Heist 2

Update Operation Grand Heist sudah tersedia buat Call of Duty: Black Ops 4 versi PlayStation 4. Para pemilik Black Ops Pass dipersilakan untuk mengakses peta multiplayer baru serta bermain sebagai Outrider. Lalu, satu mode Zombie tambahan akan tiba di bulan Maret nanti. Detail lengkap bisa Anda baca di situs Treyarch.

Sumber: VentureBeat.

KTA Online Julo Expands to Ambon, Gorontalo, and Tarakan

The Unsecured loans service organizer, Julo, is officially expanding to Ambon, Gorontalo, and Tarakan. Those cities are part of Julo’s plan to penetrate all over Indonesia.

“We start from big cities, it’s where the largest internet penetration, however, Julo will extend throughout Indonesia,” Julo’s Head of Product, Kenneth Kou said.

Currently, Julo is now accessible in some cities in Java, including Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Malang, and Yogyakarta. In addition, it also available in Medan, Deli Serang, Riau Islands, East Borneo, Manado, Bali, Gorontalo, Tarakan, and Ambon.

Julo representative said on this expansion, aside to facilitate more borrowers, it also expected to support OJK (Financial Service Authority) target for financial inclusion, particularly outside Java.

Under PT Julo Teknologi Indonesia, Julo has listed in OJK’s official fintech provider. They’re also supported by East Ventures, Skystar Capital, Convergence Ventures, and some angel investors.

Julo is a service that offers loan without collateral (KTA) starts from Rp500,000 to Rp5,000,000 with 3-4% interest.

As an online KTA service, Julo offers some other loan products, such as Julo Cicil as a loan product with limit ranging from Rp2,000,000 up to Rp8,000,000 with due date around 3 to 6 months, and 4% interest per month. There’s also Julo Mini, an unsecured loan product up to Rp1,000,000 and 10% interest per month.


Original article is in Indonesian, translated by Kristin Siagian

Application Information Will Show Up Here

Litho Adalah Sejenis Cincin untuk Mengontrol Aplikasi AR pada Ponsel Maupun Perangkat Smart Home

Perangkat wearable dengan kemampuan mengontrol berbagai perangkat berbasis gesture bukanlah gagasan baru. Jauh sebelum ini, sudah ada Myo Armband, meski eksistensi Myo sendiri pada akhirnya terhenti selagi pengembangnya beralih ke segmen kacamata AR.

Namun kisah Myo untungnya tidak mencegah startup lain untuk memikirkan perangkat serupa yang potensi pengaplikasiannya begitu luas. Salah satu startup yang saya maksud adalah Litho yang bermarkas di dataran Inggris. Produk mereka baru saja diluncurkan, sejenis cincin yang sanggup menjadi pusat kendali atas beragam perangkat lain.

Secara teknis, Litho sebenarnya kurang pantas dikategorikan sebagai cincin, sebab ia terpasang pada dua jari sekaligus, dengan bagian atas dan bawah yang memanjang. Permukaan di bagian bawahnya ini merupakan trackpad, yang berarti pengguna bisa mengombinasikan gesture menunjuk, mengusap sekaligus menyentuh.

Litho

Pada awalnya, desainer Litho melihat potensi perangkat ini sebagai controller untuk AR headset macam Microsoft HoloLens. Namun berhubung AR sekarang juga sudah menjangkiti platform mobile, Litho pun pantas-pantas saja digunakan sebagai controller ketimbang harus menutupi sebagian layar dengan jari ketika memanipulasi objek AR pada ponsel.

Mengendalikan objek AR baru sebagian dari cerita utuh Litho, sebab ia juga mudah sekali dimanfaatkan untuk mengontrol perangkat smart home. Semua itu tergantung keputusan para developer nantinya, dan kabar baiknya, development kit Litho sudah bisa dibeli seharga $199 saja.

Versi ritelnya nanti diharapkan bisa dijual dengan banderol di bawah $100. Produk ini memang bukan untuk semua orang, akan tetapi harga yang terjangkau setidaknya bisa menarik perhatian banyak kalangan konsumen untuk mencobanya.

Sumber: The Verge.

Kamera Super Zoom Panasonic Lumix FZ1000 II, Andalkan Optical Zoom 16x dan Perekam Video 4K

Kepopuleran kamera mirrorless dan pesatnya perkembangan teknologi kamera smartphone, membuat peminat kamera point-and-shoot terus menurun. Namun jenis kamera ini belum sepenuhnya ditinggalkan, sejumlah produsen kamera juga masih rajin merilis produk baru.

Yang terbaru, Panasonic telah mengumumkan Lumix FZ1000 II. Kamera digital super zoom ini mengusung sensor MOS 1 inci 20,1-megapixel, dengan lensa Leica DC 24-400mm (setara 35mm), rentang aperture f2.8-4.0, dan menawarkan kemampuan optical zoom sebanyak 16x.

7852977727

Focal lenght yang sangat panjang, tentunya membutuhkan sistem peredam getar yang andal. Panasonic pun membenamkan teknologi hybrid Optical Image Stabilizer 5-axis (OIS+). Fitur Level Shot juga tersedia, yang secara otomatis mendeteksi garis-garis horizontal agar hasil fotonya tidak miring.

Sebagai kamera point-and-shoot, lensa pada Lumix FZ1000 II tidak bisa dilepas tukar meski hadir dengan body seperti kamera mirrorless. Punya grip yang cukup besar, double dial untuk mengatur shutter speed dan aperture secara terpisah, serta double ring untuk mengatur fokus dan zoom.

1537414264

Layar LCD-nya mendukung touchscreen berukuran 3 inci dengan resolusi 1,24 juta dot dan punya mekanisme free-angle. Di atas layar, terdapat OLED live view finder dengan resolusi 2,36 juta dot.

Lumix FZ1000 II juga mampu merekam video 4K 30 fps dalam format MP4 pada bit rate 100 Mbps, frame pada video 4K tersebut bisa diekstrak menjadi sebuah foto. Sementara, perekaman di resolusi 1080p mencapai 120 fps.

Kecepatan foto beruntunnya sanggup hingga 12 fps. Hasil foto dan video bisa langsung dikirim secara instan berkat konektivitas WiFi dan Bluetooth. Daya tahan baterainya diklaim bisa menangani 440 jepretan sekali charge.

Rencananya Panasonic Lumix FZ1000 II akan tersedia pada akhir Maret 2019 dengan harga US$899 atau sekitar Rp12,6 juta. Dengan rentang harga yang sama, kita bisa mendapatkan kamera mirrorless Lumix GX9 atau Lumix GX85 yang lensanya dapat dilepas ganti.

Sumber: DPreview

Logitech Luncurkan Reinkarnasi dari Mouse Gaming Klasik MX518

Merujuk pengalaman saya mengulas gaming gear, membujuk orang lain untuk menggunakan produk baru tidaklah mudah. Ada banyak faktor yang jadi pertimbangan. Bahkan ketika harga dan fiturnya sudah pas, kendala bisa muncul akibat kebiasaan pemakaian yang berbeda. Akibatnya, mereka mungkin akan berpendapat bahwa deretan periferal baru itu tak senyaman perangkat lawas.

Sejumlah produsen juga mulai menyadari bahwa desain orisinal tetaplah yang terbaik. Di bulan Juni 2018, Microsoft menghidupkan lagi IntelliMouse. Varian tersebut diperkenalkan pertama kali 23 tahun silam, dan kabarnya menjadi pilihan favorit gamer serta kiblat desain mouse gaming modern. Kali ini giliran Logitech yang mengambil langkah serupa. Produsen aksesori PC asal Swiss itu minggu ini mengumumkan peluncuran kembali mouse MX518 – di bawah sub brand Logitech G.

Logitech menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons mereka terhadap begitu tingginya permintaan fans. Melakukan debutnya di pertengahan 2000-an, MX518 merupakan mouse gaming terfavorit konsumen, dan banyak dari mereka yang meminta Logitech untuk melakukan pemugaran. Dalam melakukannya, tim desainer memutuskan buat mempertahankan apa yang membuat MX518 begitu disukai sembari menyempurnakan jeroannya.

Logitech G MX518 tetap mengusung penampilan klasik. Mouse menyajikan delapan buah tombol, memanfaatkan arahan desain ergonomis dengan tubuh membulat dan dilengkapi pula oleh cekungan untuk mengistirahatkan jempol Anda. Konstruksinya terbuat dari plastik, dipadu pelat abu-abu di bagian punggung yang membuatnya menyerupai sang pendahulu. Semua hal itu Logitech terapkan agar pengguna bisa merasakan sensasi dan kenyamanan yang pernah mereka rasakan.

MX518 2

Walaupun begitu, produsen tak lupa membubuhkan teknologi tercanggih yang bisa mereka temukan. Reinkarnasi MX518 itu dipersenjatai sensor Hero 16.000DPI yang juga dapat Anda temui di G502, dibekali prosesor ARM 32-bit demi memastikan mouse mampu merespons input di kecepatan 1-milidetik, dan ditopan oleh memori demi memperkenankan Anda menyimpan profil dan menggunakan setting familier di PC berbeda tanpa perlu menginstal software.

MX518 1

Berbicara soal piranti lunak, saya berasumsi Logitech G MX518 mendapatkan dukungan penuh dari Logitech Gaming Software serta ditunjang oleh kapabilitas programmable button. Berdasarkan trailer yang telah dipublikasikan, Logitech tampaknya mencoba menjaga kesederhanaan desain mouse dan tidak membubuhkan LED RGB di sana.

Versi baru MX518 ini sudah bisa di-pre-order melalui situs resmi Logitech, dibanderol seharga US$ 60. Namun sampai saat ini, produsen belum mengabarkan kapan sebetulnya produk akan tersedia.

Via PC Gamer.

Gaji Rata-Rata Atlet Esports Korea Selatan Tembus Rp2 Miliar Per Tahun

Sebelum dunia esports berkembang jadi seramai sekarang, orang-orang mungkin heran melihat ada yang bisa menjadikan game sebagai mata pencaharian. Apalagi meraih penghasilan miliaran per tahunnya. Namun seiring waktu berjalan hal ini menjadi semakin lumrah. Apalagi di Korea Selatan, salah satu negara yang memiliki perkembangan esports terpesat di dunia. Gaji di atas US$100.000 (Rp1,4 miliar) bukan lagi hal yang aneh bagi atlet-atlet esports di sana.

Industri esports di Korea Selatan telah berkembang sebesar 50% dari tahun 2014 ke tahun 2017. Negara ini memiliki liga bernama League of Legends Champions Korea (LCK), sebuah liga primer yang sekaligus berfungsi sebagai jalur kualifikasi menuju League of Legends World Championships. LCK dikenal sangat populer dan kompetitif, bisa disebut “liga Inggris-nya dunia esports”. Jadi wajar bila liga ini juga diisi oleh tim-tim ternama, dengan atlet-atlet terbaik, dan bayaran-bayaran termahal.

Inven Global mencatat bahwa LCK di tahun 2018 adalah liga termahal, di mana tim-tim esports menggelontorkan 68,2% dana mereka. Dari segi jumlah atlet profesional, LCK kalah dengan PUBG Korea League (PKL) dan Overwatch Contenders, tapi LCK masih merupakan liga tertinggi, sekaligus pusat dari industri esports Korea Selatan.

Distribusi Atlet Esports Korea Selatan
Distribusi atlet esports Korea Selatan | Sumber: Inven Global

Menurut survei yang dilakukan terhadap 82 atlet LCK di tahun 2018, gaji rata-rata pemain di liga ini adalah sekitar 170 juta Won per tahun (sekitar Rp2,1 miliar). Karena ini adalah angka rata-rata, tentu saja distribusinya tidak merata. Sekitar 50% dari pemain-pemain itu memiliki gaji di bawah 100 juta Won, dengan pendapatan terendah menyentuh angka 20 -50 juta Won (37,2%). Sementara itu ada pemain-pemain dengan gaji di atas 500 juta Won, jumlahnya tidak sampai 5% dari keseluruhan.

Perlu diperhatikan bahwa gaji bukanlah satu-satunya sumber pemasukan para gamer profesional. Sebagian besar pemain memiliki pendapatan sampingan dari hadiah turnamen, streaming, broadcasting, dan lain-lain. Ada juga pemain yang mendapatkan sponsorship pribadi, namun jumlahnya cukup kecil (8,9%). Pendapatan sampingan ini bisa berkisar antara 20 juta hingga 200 juta Won tiap tahunnya.

Gaji Rata-Rata Atlet Esports Korea Selatan
Gaji rata-rata atlet esports Korea Selatan | Sumber: Inven Global

Dalam dunia olahraga konvensional, atlet-atlet terkenal biasa mendapat kontrak endorsement dari brand olahraga terkenal dunia, seperti Adidas atau Nike. Sayangnya kesempatan tersebut masih belum banyak ditemukan di dunia esports. Di tahun 2019 ini partisipasi brand olahraga diharapkan bisa meningkat, apalagi kini hubungan antara esports dan liga-liga olahraga konvensional sudah semakin erat.

Menurut data Inven Global, LCK adalah liga yang didominasi oleh pemain-pemain muda. Rata-rata usia pemain di tahun 2017 adalah 20,8 tahun, dengan usia termuda 17 tahun dan usia tertua 26 tahun. Salah satu penyebab tidak ada pemain yang lebih tua adalah karena kepercayaan bahwa kemampuan atlet esports akan menurut ketika usianya memasuki 20an akhir. Hal ini sudah dibantah oleh pemain-pemain profesional negara lain, namun di Korea Selatan dampaknya masih cukup terasa.

Distribusi Usia Atlet Esports Korea Selatan
Distribusi usia atlet esports Korea Selatan | Sumber: Inven Global

Usia yang begitu muda artinya pengalaman para atlet di dunia profesional juga cukup rendah. Lebih dari setengah atlet LCK hanya punya pengalaman di bawah 3 tahun. Jumlah pemain yang berkarier hingga 4 atau 5 tahun sangat rendah, di bawah 4% dari keseluruhan. Itu pun mereka biasanya sudah kesulitan untuk mempertahankan kariernya.

Rentang usia yang terlampau pendek ini merupakan masalah tersendiri yang harus dipikirkan dengan serius oleh para pegiat industri esports. Untuk menunjang ekosistem industri esports yang sustainable, harus ada cara supaya para atlet bisa berkarier dengan jangka waktu lebih panjang. Jangan sampai profesi atlet esports—yang terbilang masih cukup baru—kemudian mendapat stigma negatif tambahan karena risiko kehilangan pekerjaan yang besar.

Sumber: Inven Global, KT Rolster