Esports Indonesia Sepekan Terakhir: Sans tinggalkan Bigetron, Indonesia Gaming Championship, dan Lainnya

Ilham “SANSS” Santosa tinggalkan Bigetron

BTR SANSS | via: Facebook
BTR SANSS | via: Facebook

Kabar mengejutkan datang dari tim Bigetron. BTR SANSS, pemain yang mendukung performa Bigetron Red Aliens sebagai analyst, dikabarkan meninggalkan tim Bigetron. SANSS mengawali perjalanan bersama Bigetron sejak 2018 dan pernah menjadi streamer PUBG Mobile. Sebelum meninggalkan Bigetron, SANSS sendiri berperan penting dalam mengembangkan skuad terbaru Bigetron, BTR ION.

 

Alter Ego Esports menjadi Juara Nimo TV Mobile Legends Arena

Alter Ego Esports | via: Nimo TV
Alter Ego Esports | via: Nimo TV

Nimo TV mengadakan turnamen terbuka bagi komunitas Mobile Legends di Indonesia. Dari total 16 tim yang lolo ke babak playoff, Alter Ego Esports keluar sebagai jawara dan memenangkan hadiah sebesar US$1000. Di turnamen yang sama juga muncul talenta baru, Kings Esports yang bisa menahan laju dari beberapa tim kenamaan lainnya dan finis di tempat ketiga.

 

Tim esports Indonesia dominasi turnamen MPL Invitational

match result | via: Instagram
match result | via: Instagram

Di minggu berjalan tim-tim dari Indonesia lolo ke babak playoff MPL Invitational. Menyusul tempat RRQ Hoshi dan EVOS Legends, masing-masing dari grup A, B, dan C Onic Esports, Alter Ego Esports, dan Genflix Aerowolf melenggang ke babak berikutnya.

Dari total 8 slot di upper dan lower bracket lebih dari separuhnya diisi oleh tim dari Indonesia. Di final upper bracket akan mempertemukan RRQ Hoshi dan tim asla Singapura, Resugence sedangkan di lower bracket, masih ada 2 tim Indonesia masih memperebutkan tiket ke tahap selanjutnya.

 

Indonesia Gamers Championship 2020

Di tahun 2020 Telkomsel kembali menggelar turnamen esports Indonesia Gamers Championship. Melalui Dunia Games dan bekerja sama dengan Garena turnamen IGC 2020 digelar secara inklusif bagi gamers laki-laki maupun perempuan.Berikut adalah sekilas update dari week pertama. Dimulai dari divisi AOV, EVOS Esports dan M8HEXA memimpin grup masing-masing dengan 3 dan 2 kemenangan.

Dari divisi CODM, peta kekuatan terbagi cukup merata dengan raihan tim teratas berhasil mengumpulkan 3 kemenangan. Hal yang menarik dari turnamen IGC 2020 adalah, pro player League of Legends Indonesia kembali berlaga. Tim Profesional Vi merajai klasemen terakhir dengan mengumpulkan 2 kemenangan.

 

EVOS Esports duduki posisi puncak PINC Playoff 2

EVOS Esports | via: Instagram
EVOS Esports | via: Instagram

Gelaran kedua PINC playoff sudah usai. Dengan akumulasi 177 point EVOS Esports tampil lebih baik daripada tim lainnya. Sekalipun hanya mendapatkan 2 kali chicken dinner, akumulasi kill point memberikan keunggulan untuk EVOS Esports.

Pekan sebelumnya BTR ION tampil sangat mendominasi dan menduduki peringkat pertama. Sebelum melaju ke babak berikutnya masih berlangsung 2 pekan untuk kualifikasi solo di tingkat provinsi. Pemenangnya akan mendapatkan 4 slot yang masih tersisa di babak Grand Final.

Melirik “Urban Farming” Sebagai Peluang Bisnis Baru Agritech

Pandemi memunculkan inisiatif baru dari ruang-ruang individu terkecil hingga bisnis berskala besar. Urban farming adalah satu dari sedikit kegiatan yang mengemuka di masyarakat Indonesia selama wabah Covid-19 ini. Untuk membunuh rasa bosan atau mencari bahan pangan alternatif yang lebih sehat, berkebun tak bisa ditampik sebagai aktivitas pilihan yang makin digemari.

Maraknya peminat urban farming juga dicermati oleh agritech dalam negeri. Berkembangnya kebun-kebun mandiri di perkotaan menjadi celah bisnis baru bagi mereka. Bahkan belum lama e-commerce Tokopedia menyebut alat-alat berkebun menjadi salah satu produk yang paling banyak terjual selama Ramadan kemarin.

Di Jakarta setidaknya sudah ada 900 titik urban farming. Sekitar 600 di antaranya dikelola warga dan sisanya diurus oleh karang taruna. Pertanian urban ini mayoritas tersebar di Jakarta Selatan, Timur, dan Barat.

“Jadi begini itu terbukti banget selama PSBB, permintaan benih meningkat sekali dan begitu saya ke lapangan awalnya mereka ada yang lahan kosong atau hidroponik dan sebagainya ada peningkatan. Benar untuk kebutuhan mereka sehari-hari mereka tidak perlu ke pasar,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta, Darjamuni seperti dikutip dari Media Indonesia.

Peluang bisnis baru

Beberapa platform agritech merespons dengan cepat pertumbuhan pertanian urban ini. TaniHub dan Neurafarm adalah dua di antaranya. Meski sama-sama mulai melirik peluang baru ini, keduanya memilih pendekatan yang berbeda.

Neurafarm, yang sebelumnya lebih dikenal dengan teknologi AI untuk membantu petani tradisional mengidentifikasi penyakit tanaman, menawarkan starter kit untuk mereka yang berminat memulai berkebun sendiri. Perlengkapan yang masuk dalam paket Neurafarm ini termasuk 16 jenis bibit yang bisa dipilih, pupuk, polybag, dan media tanam.

Neurafarm membanderol paket tersebut mulai dari harga Rp85.000. Mereka juga menyertakan panduan menanam, akses bertanya ke agronom, dan referensi bertanam lain yang tertuang dalam fitur premium aplikasi mereka, Dr. Tania. Neurafarm percaya kebutuhan akan urban farming dan pertanian tradisional di akan berjalan beriringan dan menjadi masa depan agrikultur di Indonesia.

“Akan ada beberapa lineup produk lainnya yang akan dirilis dalam waktu dekat, termasuk herbs,” jelas CEO Neurafarm Febi Agil Ifdillah.

TaniHub mengambil jalan yang agak berbeda. Perusahaan membuka diri untuk menyerap hasil panen petani urban dan bersedia mendanai mereka yang membutuhkan modal lebih untuk bercocok tanam di rumah.

Meski memberi dukungan terhadap kegiatan ini, TaniHub belum benar-benar menganggap pertanian urban sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Head of Trade Procurement TaniSupply Abednego Gunawan mengatakan, petani urban yang sudah bermitra masih belum sampai 1% dari total mitra mereka yang berjumlah 30.000 petani. Bagi TaniHub, angka tersebut masih tergolong minor. Begitu pula dengan jenis tanaman yang mereka tampung dari petani urban yang umumnya masih dari jenis sayuran hidroponik.

“Dalam hal penyerapan hasil panen dari pertanian perkotaan, saat ini masih tergolong sangat kecil di TaniHub Group,” cetus Abednego.

Tantangan dan potensi

Kecilnya jenis panen yang diserap dan mitra petani urban di TaniHub mencerminkan masih banyak tantangan bagi layanan agritech jika benar-benar ingin menjadikan hasil pertanian kota sebagai komoditas mereka. Abednego menjelaskan, tantangan itu ada di soal volume pasokan yang seringkali tonasenya tidak mencukupi permintaan pasar. Selain itu kesadaran masyarakat akan ketelusuran produk (product traceability) yang masih cukup rendah.

Dua hal teknis ini yang menurut Abednego merupakan tantangan utama bagi perusahaan untuk benar-benar menjadikan pertanian kota sebagai ceruk bisnis baru di TaniHub Group.

Gibran Tagari, yang merintis Sendalu Permaculture di Depok, Jawa Barat, menilai, semakin banyak masyarakat urban berminat mengolah lahannya dengan tanaman produktif, maka semakin baik kesejahteraan diri dan kelestarian lingkungan. Itu termasuk agritech yang melirik pertanian kota.

Namun Gibran mengingatkan bahwa urban farming sejatinya berangkat dari keresehan akan opsi sumber pangan yang lebih baik dan kesadaran atas lingkungan yang berkelanjutan. Apabila pada akhirnya pertanian kota ini menjadi lahan bisnis baru bagi agritech, ia berharap mereka dapat menjalankannya dengan semangat tersebut.

“Menurut saya, urban farming punya prospek dan potensi yang besar, tetapi bukan untuk menghasilkan komoditas seperti pertanian dengan sistem yang sudah ada sekarang. Saya melihat kota tidak memiliki iklim yang serupa dengan rural atau pedesaan. Mungkin kita perlu melihat kota sebagai ruang dengan beragam peluang menuju sistem pangan alternatif, sehingga tidak memberatkan beban desa untuk memproduksi pangan,” ujarnya.

Pandemi memang bukan satu-satunya yang mengangkat pamor pertanian kota. Laporan IndustryARC Analysis menunjukkan, tren tersebut sudah terjadi beberapa tahun terakhir dengan nilai bisnis pertanian kota yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Laporan tersebut menyebut pertanian kota sudah menyumbang 20% dari total produksi pangan dunia. Pada 2017 saja, pendapatan dari bisnis ini menyentuh $210 miliar dan diperkirakan terus tumbuh mencapai $236,4 miliar. Alasan kesehatan, kualitas pangan, edukasi, ketahanan kota, dan tumbuhnya permintaan bahan pangan lokal diperkirakan akan menjadi pendorong utama kian populernya urban farming sebagai lahan bisnis baru.

Vitality European Open Lanjutkan IGNITION Series di Region Eropa

Perilisan VALORANT yang terbilang masih baru, menunjukkan antusiamenya seakan meningkat seiring waktu. Hal itu dapat terlihat dari berlangsungnya beberapa turnamen VALORANT di beberapa region di dunia.

Masih dalam rangkaian IGNITION Series, kembali akan ada turnamen yang diselenggarakan oleh Team Vitality. Turnamen yang digagas Team Vitality bersama Corsair akan menjadi turnamen kedua di region Eropa setelah gelaran perdana IGNITION Series dimulai oleh organisasi G2 Esports dan Red Bull.

Agent Jett | via: Riot Games
Agent Jett | via: Riot Games

Dalam turnamen bertajuk Vitality European Open, kolaborasi Team Vitality bersama Corsair, telah disiapkan hadiah sebesar 15.000 Euro. Turnamen akan berlangsung di tanggal 5-13 Juli 2020. Bersamaan dengan bermunculannya turnamen VALORANT secara rutin, akan mendukung munculnya lebih banyak lagi talenta esports VALORANT yang baru.

Terlepas dari belum hadirnya sirkuit resmi VALORANT, yang dijalankan langsung oleh Riot Games, banyak tim esports sudah bersiap dan membentuk tim. Meskipun demikian, bukan berarti sepenuhnya Riot Games tidak mendukung lahirnya skena kompetitif VALORANT. Melalui VALORANT IGNITION Series Riot Games membuka diri untuk penyelenggaran rangkaian turnamen dari komunitas dan penggemar VALORANT.

Lebih jauh mengenai IGNITION Series, baik organisasi esports maupun komunitas dapat mengajukan turnamennya kepada Riot Games untuk mendapatkan lisensi IGNITION Series. Dengan adanya sistem lisensi, akan mendukung dan menjamin berjalannya skena kompetitif yang terorganisir.

image-3-1024x546 plevalo
via: Riot Games

Berikut adalah detail informasi untuk turnamen Vitality European Open mendatang. Turnamen akan dibagi ke dalam 3 fase. Di fase pertama, sebanyak 128 slot dibuka dan akan bermain dengan format single elimination. Setelahnya akan diambil 8 tim teratas yang berlanjut ke fase kedua.

Di fase kedua, 8 tim akan dibagi kembali ke dalam 2 grup dan mencari 2 tim terbaik dari masing-masing grup. Fase yang terakhir adalah playoff dengan format double elimination dan babak final best of 5.

Menurut Fabien ‘Neo’ Devide, president and co-founder Team Vitality, dalam peryataannya, “sejak VALORANT dirilis, sangat jelas bahwa VALORANT akan mengguncang skena kompetitif esports.”

Adapun demikian, Indonesia juga tidak terlepas dari rangkaian IGNITION Series. Dalam waktu yang juga dekat akan berlangsung rangkaian turnamen SEA Invitational dan Pacific Open. Keberadaan dua turnamen ini seolah menjadi sinyal baik bagi perkembangan skena VALORANT di Indonesia.

Honor X10 Max 5G dan Honor 30 Lite Resmi Diumumkan, Dengan Chipset MediaTek Dimensity 800 5G

Honor telah meluncurkan dua smartphone 5G teranyar mereka, Honor X10 Max 5G yang punya layar seukuran tablet yaitu 7,09 inci dan Honor 30 Lite. Keduanya ditenagai oleh chipset MediaTek Dimensity 800 5G, menjalankan OS Android 10 tanpa Google (menggunakan Huawei Mobile Services) dengan sentuhan Magic UI 3.1, dan punya kamera utama beresolusi 4MP.

Honor X10 Max 5G

Honor X10 Max 5G 1

Layar seluas 7,09 inci tersebut beresolusi 1080×2280 piksel dalam rasio 19:9 dan dikemas dalam desain waterdrop notch guna menampung kamera depan 8MP. Mengandalkan panel IPS dengan RGBW matrix sehingga menyuguhkan tingkat kecerahan 780 nits dan sudah mendukung HDR10.

Ukuran layar yang besar tentu membuat dimensinya juga bongsor, 174.4×84.9×8.3 mm dan punya bobot 232 gram. Menurut Honor, smartphone ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai sistem infotainment portabel di mobil. Sudah dilengkapi dual speaker di depan dengan desain simetris di bagian atas dan bawah layar.

Honor X10 Max 5G 2

Soal fotografi, pengguna nantinya harus puas dengan dua unit kamera belakang. Meski kamera utamanya cukup istimewa karena sudah beresolusi 48MP f/1.8 dan ditemani 2MP sebagai depth sensor.

Dapur pacunya mengandalkan chipset MediaTek Dimensity 800 5G, disokong besaran RAM 6GB atau 8GB dan penyimpanan internal 64GB atau 128GB. Kapasitas baterainya 5.000 mAh dengan fast charging 22,5W.

Honor X10 Max tersedia di pasar Tiongkok, dalam warna biru, perak dan hitam. Harganya untuk konfigurasi dasar RAM 6GB/64GB dibanderol CNY 1.899 (Rp ​3,9 juta), versi 6GB/128GB CNY 2.099 (Rp4,3 juta), dan varian 8GB/128GB seharga CNY 2.499 (Rp5,1 juta).

Honor 30 Lite

Honor 30 Lite 2

Beralih ke Honor 30 Lite, smartphone 5G ini juga ditenagai chipset MediaTek Dimensity 800 5G. SoC ini dibangun pada proses fabrikasi 7nm dengan CPU octa-core yang terdiri dari Cortex-A76 dan Cortex-A55 (semuanya 2.0GHz), dengan GPU Mali-G57 MC4.

Performanya ditunjang RAM 6GB dengan penyimpanan internal 64GB, konfigurasi ini dibanderol CNY 1.700 atau sekitar Rp3,4 jutaan. Sementara, RAM 8GB dengan dengan memori 128GB dijual seharga CNY 2.200 atau Rp4,5 juta. Kapasitas baterainya 4.000 mAh dengan fast charging 22,5W yang akan terisi 53 persen dalam 30 menit.

Honor 30 Lite 1

Panel IPS yang digunakan cukup menarik, karena sudah mendukung refresh rate 90Hz dan touch sampling rate 180Hz yang nyaman bila digunakan untuk bermain game. Ukurannya 6,5 inci dengan resolusi 1080×2400 piksel dalam aspek rasio kekinian 20:9.

Terkait fotografi, pengguna Honor 30 Lite bisa mendalkan kamera depan 16MP untuk selfie dan face unlock. Sementara, kamera belakangnya ada empat unit, dengan kamera utama 48MP f/1.8, bersama kamera 8MP dengan lensa ultra wide, dan 2MP sebagai depth sensor. Khusus kamera utamanya, dapat merekam video 4K dengan EIS dan mendukung Super Night Mode.

Sumber: GSMArena

Liga Sepak Bola Malaysia Adakan Turnamen FIFA, eMFL

Malaysia Football League bekerja sama dengan EA Sports untuk menyelenggarakan eMFL. Turnamen FIFA tersebut akan diikuti oleh para pemain esports yang mewakili klub-klub yang berlaga di Malaysia Super League. Turnamen ini diadakan dengan tujuan untuk mengembangkan ekosistem esports di Malaysia.

“Turnamen eMFL merupakan platform untuk mengembangkan talenta para generasi muda,” kata CEO Malaysia Football League, Dato’ Ab Ghani Hassan, seperti dikutip dari Esports Insider. “Sekarang, Malaysian League telah berevolusi ke channel digital. Saya percaya, generasi muda kini tidak hanya punya kesempatan untuk meniti karir sebagai pemain sepak bola, tapi juga sebagai pemain esports profesional.”

turnamen fifa malaysia
Turnamen FIFA di Malaysia, eMFL akan diikuti semua klub Malaysian Super League.

Turnamen eMFL dimulai pada 1 Juli 2020 dan akan berlangsung selama 10 hari. Kompetisi itu akan menggunakan Sony PlayStation 4 secara eksklusif. Semua pertandingan dari turnamen FIFA itu akan disiarkan melalui page Facebook resmi dari eMFL. Semua klub yang berlaga di MFL CIMB Super League harus mengirimkan perwakilan untuk bertanding dalam turnamen eMFL.

“Saya harap, setiap pemain akan berjuang keras dalam kompetisi ini karena mereka akan bertanding melawan para pemain FIFA terbaik di Malaysia. Saya juga berharap, semua pemain akan bermain dengan serius sebagai perwakilan klub Malaysian Super League,” kata Hassan. Musim pertama dari eMFL ini akan disponsori oleh penyedia internet TM dan perusahaan monitor gaming BenQ. Selain itu, turnamen tersebut juga didukung oleh organisasi esports lokal, Esports Kuala Lumpur (ESKLA).

Malaysia Football League bukanlah liga sepak bola pertama yang tertarik untuk mengadakan turnamen esports. Pada Februari 2020, liga Italia Serie A juga mengungkap bahwa mereka akan menyelenggarakan turnamen FIFA 20. Hanya saja, turnamen tersebut bersifat terbuka. Jadi, semua pemain PlayStation 4 yang telah berumur setidaknya 16 tahun boleh ikut serta dalam turnamen tersebut. Selama pandemi, semakin banyak turnamen FIFA 20 yang diadakan. Pasalnya, turnamen esports bisa menjadi pelipur lara bagi para fans sepak bola yang kecewa karena banyak liga sepak bola yang harus dibatalkan di tengah pandemi.

Mengenal TapTalk.io, Mudahkan UKM Kelola Pesan dari Berbagai Aplikasi

TapTalk.io mulai peruntungan di industri SaaS di Indonesia dengan mengusung dua produk andalan mereka, yakni PowerTalk sebagai sebuah Chat SDK dan OneTalk sebagai platform OmniChannel Customer Engagement. Mereka secara spesifik menyasar para bisnis dan UKM yang membutuhkan sebuah alat untuk meningkatkan pengalaman pengguna, terutama dalam hal layanan pelanggan.

TapTalk.io sendiri mulai dikembangkan sejak tahun 2017 oleh Ritchie Nathaniel, salah satu developer yang sudah 10 tahun berkecimpung di dunia startup. Ia juga pernah bergabung dengan Traveloka, Weekend Inc, Moselo, dan pada akhirnya memutuskan untuk mengembangkan TapTalk.io.

Kepada DailySocial Founder & CEO TapTalk.io Ritchie Nathaniel menceritakan bahwa sejauh ini platform OneTalk sudah bisa mengintegrasikan beberapa aplikasi chat seperti WhatsApp, Telegram, LINE, Facebook Massenger, dan Twitter DM ke dalam dasbor terpusat.

Tak hanya it, dasbor OneTalk juga memiliki beberapa fitur untuk mengelola agen customer service, lengkap dengan fitur rating bagi pengguna yang ingin memberikan penilaian terhadap kinerja customer service yang melayani mereka.

“TapTalk.io berkomitmen untuk membangun platform omni-channel terbaik yang terhubung dengan berbagai kanal sosial dan memiliki fitur integrasi dengan third party seperti CRM, chatbot, dan internet automation; juga mengembangkan Inbox yang sangat powerful untuk membantu bisnis dalam melayani customer,” terang Ritchie.

Solusi chat di Indonesia dan ambisi TapTalk.io

Di Indonesia saat ini sosial media menjadi salah satu tulang punggung kanal penjualan bagi social commerce, termasuk juga aplikasi pesan instan atau chat. Tak hanya untuk media promosi layanan, pesan instan juga mulai lazim digunakan sebagai kanal pelayanan pelanggan.

Inovasinya pun sudah semakin beragam. Ada yang mengombinasikan layanan pesan instan dengan teknologi NLP dan AI sehingga hadir chatbot. Ada juga yang membangun sebuah platform integrasi sehingga memudahkan pengelolaan seperti yang dilakukan TapTalk.io dengan OneTalk. Beberapa nama yang melakukan inovasi terkait dengan layanan pesan instan antara lain Kata.ai, Vutura, Botika, Qisqus, Halosis, Balesin, TokoTalk, dan lain-lainnya.

Sneakershoot Akomodasi Jasa Cuci Sepatu dan Tas Melalui Aplikasi

Memanfaatkan besarnya minat layanan on-demand, platform Sneakershoot dihadirkan. Mereka menyuguhkan jasa pembersihan sepatu plus antar-jemputnya memanfaatkan aplikasi. Startup ini didirikan pada tahun 2019 oleh Donni Irawan, Ikhsan Senja Anchan, Dedy Haryadi, dan Noffian Triyadi. Visi mereka menjadi pioneer untuk jasa cuci sepatu berbasis teknologi.

“Perkembangan tren sneakers di Indonesia kini tumbuh semakin cepat, bukan hanya brand internasional yang berdatangan kini brand lokal Indonesia hadir dan berlomba untuk menaikkan popularitasnya. Kami hadir sebagai penyedia jasa perawatan sepatu,” kata CEO Sneakershoot Donni Irawan kepada DailySocial.

Meskipun baru berjalan selama 1,5 tahun,  Sneakershoot telah melayani lebih dari 5 ribu pelanggan dan telah membersihkan lebih dari 30 ribu pasang sepatu.

“Kami menyediakan jasa free pick up dan delivery di kawasan Jabodetabek kepada pelanggan yang ingin mencuci sepatu dan tas mereka. Kami juga menawarkan jasa, repair, repaint, un-yellowing, dan re-coloring. Kepada pelanggan kami  berikan opsi berlangganan dan mendapatkan harga promosi,” kata Donni.

Meskipun saat ini masih fokus di kawasan Jabodetabek, namun beberapa kali juga menerima pelanggan yang bermukim di luar Jabodetabek. Biasanya mereka mengirim sepatu yang akan dibersihkan dan di re-paint melalui jasa ekspedisi.

“Saat ini kami belum berencana untuk melakukan fundraising. Akhir Februari 2020, perusahaan baru saja merampungkan penggalangan dana putaran pre-seed dari SALT Ventures,” kata Donni.

Penggunaan aplikasi

Saat ini Sneakershoot telah memiliki sekitar 15 tim internal dan beberapa tenaga paruh waktu (freelancer) untuk membantu operasional sehari-hari. Tenaga paruh waktu tersebut di antaranya adalah shoes technician dan tenaga kurir yang melakukan antar jemput sepatu.

Mereka yang menjadi tenaga freelance tersebut berhak mendapat komisi dari Sneakershoot, menyesuaikan perhitungan harian dan mendapatkan bonus jika telah mencapai target. Semua proses dilakukan di workshop milik mereka. Saat ini Sneakershoot baru memiliki satu workshop. Ke depannya perusahaan memiliki rencana untuk menambah jumlah workshop di kawasan lainnya.

Untuk memudahkan pelanggan melakukan pembayaran, Sneakershoot yang bisa diakses di Play Store dan App Store, menyediakan pilihan pembayaran beragam. Mulai dari dompet digital (Gopay, Dana, LinkAja, dan OVO), hingga transfer bank (Mandiri, BNI, Permata, dan BRI). Dalam waktu dekat juga berencana untuk menghadirkan pembayaran menggunakan kartu kredit.

Dalam melakukan treatment yang sepenuhnya memanfaatkan aplikasi, semua proses pengambilan sepatu kotor sampai proses pengantaran sepatu bersih itu semua dilakukan oleh pihak Sneakershoot. Pelanggan juga dapat mengatur jadwal yang diinginkan sehingga mereka tidak perlu repot datang membawa atau mengambil ke mall atau store laundry sepatu. Semua proses tersebut telah di asuransi-kan.

“Semua proses adalah penggunaan aplikasi menyeluruh. Ke depannya kami juga berencana untuk menghadirkan opsi akses di website,” kata Donni.

Application Information Will Show Up Here

BMW Ungkap Visinya Menjadikan Mobil Sebagai Platform Digital

Belum lama ini, Tesla sempat mendapat kritik keras setelah menonaktifkan fitur Autopilot pada Model S bekas. Fitur opsional seharga $8.000 itu tiba-tiba tidak bisa digunakan oleh si pembeli Model S bekas, dan saat ditanyakan ke Tesla, pihak Tesla hanya menjelaskan bahwa si pembeli tidak berhak mengakses fitur yang tidak dibayar olehnya, sehingga mereka memutuskan untuk menonaktifkannya dari pusat.

Untuk bisa menikmati fitur Autopilot, si pembeli diharuskan membayar lagi $8.000 langsung kepada Tesla. Kedengarannya tidak masuk akal memang, sebab salah satu alasan si pembeli tertarik dengan unit Model S bekas tersebut bisa jadi adalah ketersediaan fitur Autopilot itu sendiri.

Poin yang ingin saya angkat dari kasus ini adalah, tren digitalisasi di industri otomotif terus bertumbuh dengan pesat, dan terkadang hasilnya belum tentu menguntungkan buat konsumen. Fakta bahwa Tesla bisa menonaktifkan fitur Autopilot dari pusat berarti hardware yang terdapat pada mobil tersebut sebenarnya kapabel, tinggal kita sebagai konsumen mau menebusnya atau tidak.

Di titik ini, mobil pun bisa kita anggap sebagai platform tempat pabrikan menawarkan beragam layanannya. Fitur-fitur opsional mobil yang tadinya harus kita bayar di muka sekarang bisa kita tebus layaknya in-app purchase dalam suatu aplikasi atau game. Dalam kasus Tesla tadi, mengaktifkan fitur Autopilot ibarat membeli diamond di game Mobile Legends.

BMW modern kini juga mendukung software upgrade ala Tesla / BMW
BMW modern kini juga mendukung software upgrade ala Tesla / BMW

Selain Tesla, BMW juga mulai menunjukkan ketertarikannya pada konsep mobil sebagai platform digital itu tadi. Melalui sebuah sesi presentasi VR, BMW membeberkan banyak rencananya perihal digitalisasi mobil-mobilnya. Namun bagian yang paling menarik adalah rencananya untuk menjadikan berbagai fitur opsional mobil sebagai layanan digital yang dapat ditebus sewaktu-waktu.

Fitur seperti Active Cruise Control misalnya; sebelumnya fitur semacam ini merupakan opsi yang harus konsumen centang saat melakukan pemesanan mobil. Namun ke depannya, ketimbang harus membayar di depan, konsumen dapat memesannya secara digital langsung melalui dashboard mobil, atau lewat aplikasi My BMW di smartphone. Kedengaran praktis? Tentu saja, tapi ini juga berarti beberapa fiturnya tidak bersifat permanen dan bisa dinonaktifkan dari pusat oleh BMW seperti kasus Tesla tadi.

Sepintas konsep seperti ini terdengar seperti akal-akalan pabrikan untuk mengeruk untung lebih banyak dari konsumen. Namun kalau dilihat dari perspektif lain, tentu juga ada keuntungan yang bisa didapat oleh konsumen. Utamanya, mobil yang dibeli benar-benar bisa dikonfigurasikan sesuai kebutuhan.

Kalau memang tidak butuh Active Cruise Control karena jarang melakukan perjalanan luar kota, maka fiturnya tak perlu dipesan dan pengeluaran pun bisa dihemat. Barulah ketika musim liburan tiba dan konsumen hendak pergi ke luar kota menggunakan mobilnya, fitur Active Cruise Control bisa ia pesan dengan durasi selama sebulan misalnya.

Dalam konteks jual-beli mobil bekas, konsep seperti ini juga berarti pembeli bisa mendapatkan mobil yang berfitur lebih lengkap daripada saat masih di tangan pemilik aslinya. Namun sebaliknya, penjual mobil jadi tidak bisa menentukan harga mobil berdasarkan fitur-fitur ekstra yang sebelumnya tersedia.

Apakah tren seperti ini juga akan ikut diadopsi pabrikan-pabrikan lain ke depannya? Belum ada yang bisa memastikan. Ini juga bukan pertama kalinya BMW menerapkan konsep serupa. Di tahun 2018, mereka sempat menawarkan kompatibilitas CarPlay sebagai layanan berlangganan seharga $80 per tahun, namun reaksi negatif konsumen pada akhirnya mendorong BMW untuk membatalkan program tersebut.

Sumber: CNET.

Daftar Startup Indonesia yang Kolaps di Paruh Pertama Tahun 2020

Pandemi Covid-19 “sukses” meluluhlantakkan startup yang industrinya bersinggungan langsung dengannya, seperti pariwisata, ritel offline, juga industri pendukung lainnya yang beririsan.

Proses adaptasi harus dilakukan dengan cepat agar untuk bertahan. Mulai dari pengurangan jumlah karyawan, pivot bisnis, dan mengurangi jumlah gerai (bila bisnis ritel) harus ditempuh. Pengurangan karyawan dan pivot bisnis mulai mewarnai sejak awal karantina diumumkan.

Khusus pivot, kebanyakan dari mereka beralih ke segmen yang ramai diminati selama pandemi, seperti menjelma jadi layanan commerce untuk bahan baku sehari-hari, produk kesehatan, atau pesan antar makanan sehari-hari. Sementara untuk pengurangan karyawan, kondisi ini tidak hanya terjadi di startup yang bisnisnya masih skala kecil saja, sekaliber unicorn bahkan tidak luput dari ancaman ini.

Kenyataan terakhir adalah gulung tikar. Ini adalah keputusan paling akhir, sekaligus terberat yang diambil setelah beragam upaya penyelamatan sudah dilakukan, tapi tak kunjung membuahkan hasil.

Sejauh ini, DailySocial mencatat ada tujuh startup yang harus gulung tikar hingga paruh pertama tahun ini. Berikut daftarnya:

1. Eatsy Indonesia

Startup asal Singapura ini baru hadir di Indonesia pada November tahun lalu, namun mereka resmi tutup pada 1 April 2020.

Eatsy memberikan kemudahan untuk antrean dan pemesanan makanan di restoran. Di negara asalnya, sebelum pandemi, solusi ini diklaim berhasil mendongkrak penjualan mitra restoran hingga 1,5 kali lipat. Kesuksesan tersebut membuat mereka percaya diri untuk ekspansi ke Indonesia, pasca mengantongi pendanaan tahap awal dari East Ventures.

Di keterangan resminya, penutupan diambil karena masifnya penyebaran Covid-19. Akibatnya semakin banyak pebisnis kuliner yang menutup usahanya untuk mengurangi penyebaran virus.

2. QRIM Express

Di sektor logistik, umur QRIM Express juga baru seumur jagung. Mereka beroperasi di medio tahun lalu dan resmi tutup pada 1 April 2020.

QRIM Express, yang dulu dikenal dengan Red Carpet Logistics (RCL), adalah perusahaan logistik milik Sumitomo dan Lippo Group. Mereka punya semangat untuk merambah segmen C2C, sebelumnya diklaim kuat di B2B dan B2C.

Mereka ingin bersaing dengan layanan logistik last mile lainnya, seperti JNE, TIKI, GrabExpress, GoSend, Ninja Express, SiCepat, Paxel untuk memenuhi kebutuhan pengiriman konsumen ritel atau pengusaha online.

Berbicara soal aset, diklaim mereka memiliki 54 hub yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Sulawesi. Ada 515 kendaraan dan 423 kurir yang tergabung. Pendapatan mereka disebutkan tembus di atas Rp1,3 triliun pada awal tahun lalu.

3. Hooq

Hooq resmi tutup pada 30 April 2020, setelah lima tahun beroperasi. Penutupannya tidak hanya untuk operasional di Indonesia, tapi juga di regional Asia Tenggara.

Pandemi menjadi salah satu faktor pemicu secara tidak langsung di balik tutupnya layanan ini. Mereka dianggap kurang suntikan modal sehingga tidak mampu bersaing dengan para pesaingnya, padahal pemegang saham Hooq adalah konglomerasi media tersohor, seperti SingTel, Warner Media, dan Sony Pictures Television.

Bisnis OTT sendiri membutuhkan perjalanan panjang untuk memberikan laporan keuangan yang hijau. Asia Tenggara adalah lahan perang yang unik buat bisnis OTT karena beragam tantangannya.

4. Stoqo

Kali ini datang dari platform b2b yang mensuplai bahan baku untuk pebisnis kuliner. Stoqo resmi tutup menjelang akhir Mei 2020.

Sebelum pandemi, prospek bisnis ini terbilang cukup cemerlang karena pebisnis tidak perlu repot untuk menyuplai bahan baku sebelum toko dibuka. Sasaran penggunanya adalah pebisnis kuliner, mulai restoran, kafe, catering, warung makanan, dan usaha minuman.

Setelah setahun beroperasi, tepatnya pada akhir 2018, mereka berhasil mengantongi pendanaan Seri A dari Monk’s Hill Partners dan Accel Partners. Juga berkesempatan mengikuti rogram akselerasi Alibaba eFounders Fellowship di Hangzhou, Tiongkok.

Ketika karantina diberlakukan, bisnis makanan, terutama restoran, turun drastis. Hal ini berdampak pada bisnis Stoqo yang terus terpukul sehingga keputusan untuk gulung tikar diambil.

5. Airy

Startup ini resmi tutup permanen setelah lima tahun beroperasi pada 31 Mei 2020. Kabar ini cukup disesalkan, namun bisa dianggap keputusan paling rasional yang diambil manajemen.

Sebelum mengambil keputusan tersebut, perusahaan mengklaim telah mengambil berbagai upaya untuk memastikan perusahaan tetap bertahan. Situasi pandemi yang tidak dapat diprediksi akhirnya menggiring pada penutupan Airy.

Startup yang terafiliasi dengan Traveloka ini diklaim memiliki 30 ribu kamar yang tersebar di 100 kota. Layanannya tidak hanya menyewakan kamar budget, tapi juga tiket pesawat, kereta api, dan layanan pemesanan untuk korporat.

6. Wowbid

Wowbid tutup
Wowbid tutup

Wowbid baru beroperasi pada awal tahun lalu, menawarkan konsep marketplace lelang secara live yang dipandu host. Tepat pada 30 Juni 2020, mereka tutup karena penjualan yang anjlok.

Wowbid menjual barang-barang tersier, sementara masyarakat saat ini kebanyakan mengalokasikan dana untuk belanja kebutuhan pokok dan kesehatan. Sebelum pandemi, mereka mengklaim telah memiliki 720 ribu pengguna terdaftar, dengan 180 ribu di antaranya adalah pengguna aktif bulanan. Bahkan mereka sudah mengantongi pendanaan pra-Seri A sebesar $5 juta dari PT Envy.

Sebelum resmi tutup, perusahaan sudah membuat sejumlah pertimbangan, misalnya tutup sementara dan beroperasi lagi setelah pandemi. Ide ini diurungkan, karena untuk masuk ke posisi top five marketplace di Indonesia bisa dibilang susah. Pelanggan Wowbid memiliki irisan dengan pelanggan platform e-commerce lain yang sudah tersohor.

7. Freenternet

Freenternet adalah startup penyedia koneksi internet gratis berbasis mobile wifi. Startup ini baru dirilis pada awal tahun ini, tapi memutuskan untuk tutup per 30 Juni 2020 kemarin.

Konsep yang ditawarkan sebenarnya menarik, karena mereka bertindak sebagai penyedia akses internet (IAP), bukan penyedia layanan internet (ISP). Untuk sumber monetisasi, Freenternet menggunakan iklan.

Dikutip dari Gizmologi, bisa jadi karena pengaruh pandemi, pengeluaran budget iklan perusahaan harus ditekan seefisien mungkin. Hal ini berdampak pada bisnis Freenternet. Dengan basis pengguna yang bisa dikatakan belum banyak, tidak mudah untuk menawarkan iklan ke klien.

Pendapatan PUBG Mobile Kini Mencapai 3 Miliar Dollar AS

Tak bisa dipungkiri bahwa PUBG Mobile mungkin menjadi salah satu game esports mobile yang berkembang dengan sangat cepat. Dari segi esports, game ini bahkan berhasil menarik beberapa nama-nama besar di dalam industri, seperti T1, Alliance, Fnatic, dan FaZe Clan. Dari segi gamenya sendiri, PUBG Mobile bahkan sudah berhasil mencatatkan 600 juta download pada 4 Desember 2019 kemarin.

Kini, game besutan Tencent Games ini kembali menorehkan catatan yang memukau dari sisi bisnis. Mengutip dari Sensor Tower, dikatakan bahwa PUBG Mobile telah menerima total pendapatan dengan jumlah melampaui 3 miliar dollar AS (sekitar 43 triliun Rupiah) sejak rilis pada Maret 2018 lalu. Catatan ini juga beserta dengan pendapatan versi Tiongkok dari game tersebut, yang berubah nama menjadi Game for Peace pada bulan Mei 2019.

via: Instagram thealliancegg
Bahkan tim seperti Alliance sekarang punya divisi PUBG Mobile. Sumber: Instagram @thealliancegg

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa sepanjang tahun 2020 ini, PUBG Mobile sudah mengumpulkan pendapatan sebesar 1,3 miliar dollar AS. Bahkan pemasukan terbesar dalam satu bulan dari PUBG Mobile dicatatkan pada bulan Maret 2020 yang berjumlah 270 juta dollar AS. Sensor Tower sendiri tidak mengatakan bahwa besarnya pendapatan ini disebabkan oleh pandemi COVID-19, namun mengingat bulan Maret adalah saat-saat ketika pandemi COVID-19 sedang dalam masa puncaknya, maka relasi antar dua kejadian tersebut menjadi kesimpulan sementara dari fenomena ini.

Namun demikian tidak ada peningkatan yang signifikan secara jumlah download, baik PUBG Mobile ataupun Game for Peace. Tercatat bahwa PUBG Mobile sudah didownload sebanyak 734 juta hingga saat ini. India menjadi negara dengan pengunduh PUBG Mobile terbanyak dengan 175 juta total download. Peringkat kedua ada Tiongkok, lalu Amerika Serikat di peringkat ketiga.

Game for Peace
Versi Tiongkok dari PUBG Mobile, Game for Peace. Sumber: Tencent

Melihat bagaimana besarnya PUBG Mobile, sepertinya keberlanjutan secara game maupun esports, masih bisa terjamin untuk beberapa tahun ke depan. Dari sisi esports, Tencent sendiri menunjukkan komitmennya untuk tetap menjalankan PUBG Mobile World League, walau dalam keadaan pandemi seperti sekarang. Hasil dari hal tersebut adalah PMWL Season Zero, yang mengalami perubahan berupa format pertandingan menjadi online, yang akan diselenggarakan mulai dari 10 Juli hingga 8 Agustus mendatang.