Hybrid Cup Hadir Kembali Sebagai Wadah Kompetisi Para Pecinta Chess Rush

Hybrid Cup adalah salah satu program kami untuk mewujudkan misi Hybrid.co.id yang tidak hanya ingin menjadi sebuah media, tapi juga berkontribusi membangun ekosistem esports lokal agar lebih maju. Pada bulan September lalu, kami telah menyelenggarakan Hybrid Cup perdana yang mengusung Tekken 7 sebagai game untuk dipertandingkan. Melanjutkan kesuksesan acara tersebut, kali ini kami menghadirkan kembali Hybrid Cup, khusus untuk para pecinta Chess Rush di Indonesia.

Mengapa Chess Rush? Sebagian dari Anda mungkin bertanya seperti itu. Menurut co-founder Hybrid.co.id, Wiku Baskoro, game ini dipilih sebagai mobile game yang dalam kurun waktu belakangan sedang banyak dimainkan. “Terus lebih ke komunitasnya juga untuk di Hybrid Dojo, karena ada yang main jadi kita ingin coba untuk menggaet komunitasnya. Itu kenapa babak finalnya akan diadakan di Hybrid Dojo secara offline,” lanjutnya.

Chess Rush - Art 1

Hybrid Cup Chess Rush membuka slot kompetisi terbatas untuk 32 peserta. Turnamen ini akan digelar dalam dua babak. Babak pertama adalah penyisihan online, yang dilaksanakan pada tanggal 28 – 31 Oktober. Dalam babak penyisihan ini, para peserta akan dibagi ke dalam 4 pool terpisah, dengan tiap pool berisi 8 pemain. Peserta akan bermain dalam mode Classic sebanyak 2 ronde, kemudian 4 pemain teratas dari masing-masing pool berhak maju ke babak Top 16 di tanggal 9 November 2019.

Babak Top 16 ini akan digelar secara langsung di Hybrid Dojo, Jl. Kemang Selatan I D No. 2, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Dari fase Top 16 hingga Grand Final, pertandingan dilangsungkan dalam dua mode, yaitu 2 ronde mode Classic dan 1 ronde mode Turbo. Tersedia hadiah bagi tiga pemain terbaik senilai total Rp10.000.000 dalam bentuk smartphone OPPO terbaru, yaitu:

  • Juara 1 mendapatkan OPPO A9 2020
  • Juara 2 mendapatkan OPPO A5 2020
  • Juara 3 mendapatkan OPPO A5 2020

Hybrid Cup Chess Rush

Bila Anda berminat mengikuti Hybrid Cup Chess Rush, Anda dapat melakukan pendaftaran lewat tautan berikut dan membayar biaya registrasi sebesar Rp30.000. Perlu diingat panitia tidak menyediakan smartphone untuk bermain, baik di babak penyisihan maupun Top 16. Para peserta wajib menggunakan smartphone sendiri yang telah ter-install game Chess Rush versi terbaru. Peserta juga diharapkan memiliki nomor WhatsApp yang aktif untuk keperluan komunikasi di WhatsApp Group nantinya. Peraturan serta tata cara pertandingan selengkapnya dapat Anda baca di formulir registrasi.

Hybrid Cup Chess Rush terselenggara berkat dukungan dari sponsor OPPO dan PEX Chair, serta Lucu Lucu Gaming sebagai event partner. Saat ini pendaftaran sudah dibuka, dan akan ditutup paling lambat pada tanggal 22 Oktober 2019. Ayo ikuti kompetisi ini, dan tunjukkan keahlian Anda sebagai Grandmaster Chess Rush terbaik di Indonesia!

Overwatch Untuk Switch Hadir Lengkap Dengan Event Halloween Terror

Kehadiran Overwatch untuk konsol Nintendo Switch terbilang sudah cukup diantisipasi oleh para penggemarnya. September 2019 lalu Overwatch diumumkan akan hadir pada konsol Nintendo Switch dalam gelaran Nintendo Direct. Akhirnya pada 15 Oktober 2019 lalu, Overwatch untuk Nintendo Switch hadir dengan nama Overwatch: Legendary Edition.

Untuk versi porting, Blizzard sendiri memercayakan pengembangannya kepada Iron Galaxy. Overwatch versi Switch, walau sama persis, tapi punya beberapa fitur tambahan. Salah satunya adalah kemampuan menggunakan Gyroscope untuk mengendalikan hal-hal seperti: Ultimate milik Junkrat, Rip-Tire, atau pergerakan Hammond si Wrecking Ball saat dalam mode berguling.

Walaupun ini adalah versi porting, namun Anda para penggemar tetap dapat menikmati Overwatch secara penuh di Nintendo Switch. Anda tetap bisa memainkan semua 31 hero dan 28 map dalam berbagai mode dan bahkan mendapat 15 skin bonus yang jadi favorit para penggemar, seperti: Police Officer D.Va, Blackwatch Reyes Reaper, ataupun Valkyrie Mercy.

Anda juga tak perlu khawatir untuk bermain secara online, karena pembelian Overwatch: Legendary Edition sudah lengkap dengan keanggotaan Nintendo Switch Online selama tiga bulan untuk perorangan.

Berhubung dirilis pada bulan Oktober, Overwatch: Legendary Edition juga hadir dengan in-game event yang bertajuk Halloween Terror. Event yang satu ini akan hadir mulai dari tanggal 16 Oktober sampai 5 November 2019 mendatang. Anda dapat login setiap harinya dan melakukan berbagai challenge untuk mendapatkan berbagai hadiah skin.

Challenge yang diberikan dalam Weekly Challenges pada event Halloween Terror juga terbilang cukup sederhana. Anda cukup main dan menangkan beberapa game untuk mendapatkan berbagai in-game item. Menang 3 game memberikan Anda Player Icon, menang 6 game memberi anda Spray, menang 9 game akan memberi Anda skin.

Tapi pastikan Anda menyelesaikannya dengan cepat! Berhubung tajuknya adalah Weekly Challenges, jadi hadiah yang diberikan juga berubah setiap pekannya. Week 1 (15-21 Oktober) hadiahnya adalah skin Inferno Junkrat, Week 2 (22-28 Oktober) hadiahnya adalah skin Vampire Baptiste, Week 3 (29 Oktober – 4 November) hadiahnya adalah Demon Hunter Sombra.

Tak hanya itu, Anda juga bisa menikmati custom game khusus Halloween yang bernamakan Junkenstein’s Revenge. Dalam custom game ini sepanjang permainan, Junkenstein mengutus semua monster, semua pasukannya untuk mengalahkan Anda. Sementara Anda sendiri akan bergabung dengan tiga pemain lainnya untuk mempertahankan Adlersbrunn dari semua serangan Junkenstein tersebut.

Untuk informasi lebih lanjutnya Anda bisa pergi ke laman resmi Overwatch berikut ini. Bagaimana? Sudah siap untuk keseruan Overwatch kapanpun dan di manapun?

Sponsori HSL, Apa Untungnya untuk JD.ID?

Di tengah perkembangan esports di Indonesia, regenerasi masih jadi salah satu masalah yang menghantui. Ada beberapa hal yang membuat pencarian talenta baru di esports tidak mudah. Salah satunya adalah ketiadaan liga amatir atau semi-amatir. Inilah yang coba diselesaikan oleh JD.ID High School League (HSL). Seperti namanya, HSL ditujukan untuk siswa SMA/SMK amatir. HSL menggunakan sistem liga. Jadi, sebelum musim dimulai, akan diadakan babak kualifikasi untuk menentukan 20 SMA/SMK yang akan berlaga di liga. Sama seperti liga sepak bola, empat tim dengan nilai paling rendah akan terdegradasi dan digantikan oleh empat tim terbaik dari babak kualifikasi. HSL Season 1 dianggap cukup sukses sehingga JD.ID memutuskan untuk melanjutkan HSL ke Season 2.

JD.ID merupakan title sponsor dari HSL. Itu artinya, nama e-commerce tersebut bisa disandingkan dengan HSL. Selain itu, logo JD.ID juga akan tampil di semua atribut HSL. Lalu, apa keuntungan yang didapatkan oleh JD.ID? Henry Yacob, Head of Gaming and Computer Accesories JD.ID menjelaskan, umur JD.ID masih relatif muda jika dibandingkan dengan e-commerce lain di Indonesia. Dan saat ini, persaingan e-commerce di Indonesia sudah sangat ketat. “HSL memiliki konsep pertandingan di seluruh Indonesia, melibatkan guru dan orangtua. Kalau pertandingan profesional, biasanya hanya di satu kota. Buat kami, ini adalah marketing,” kata Henry. Dengan mengadakan HSL, JD.ID berharap untuk meningkatkan awareness masyarakat dengan akan keberadaan mereka sebagai ecommerce.

Persebaran peserta HSL | Sumber: Dokumentasi Hybrid
Persebaran peserta HSL | Sumber: Dokumentasi Hybrid

Henry menjelaskan, JD.ID tidak berharap, pengadaan HSL akan meningkatkan penjualan, khususnya terkait perangkat gaming. “Saat awal mengadakan HSL, kami tidak membuat target penjualan harus naik di bagian gaming,” ujarnya. Namun, dia mengaku bahwa ada korelasi antara penyelenggaraan HSL dengan meningkatnya penjualan perangkat dan aksesori gaming. “Target memang tidak ada, tapi impact-nya tetap terasa,” ungkapnya. Dia juga mengatakan, HSL merupakan cara JD.ID untuk menunjukkan bahwa gaming merupakan salah satu fokus mmereka saat ini. “Salah satu fokus JD.ID adalah gaming. Tidak sekadar jualan barang. Kita mau investasi untuk  membangun ekosistem gaming di Indonesia,” kata pria berkacamata ini.

Target utama HSL adalah siswa SMA/SMK, yang Henry akui belum memiliki buying power. Namun, HSL juga melibatkan orangtua dan guru. Selain itu, JD.ID juga menggandeng warung internet atau iCafe untuk mengadakan pertandingan. Henry merasa, walau peserta HSL tak memiliki buying power, orangtua mereka dan pihak iCafe memiliki buying power. Selain itu, setelah siswa beranjak ke universitas, mereka juga akan memiliki buying power. Dengan mengadakan HSL, JD.ID berharap, mereka akan meninggalkan kesan di benak para peserta, membuat mereka mau berbelanja di JD.ID.

Henry Yacob | Sumber: Dokumentasi Hybrid
Henry Yacob | Sumber: Dokumentasi Hybrid

Sama seperti Season 1, game yang diadu dalam HSL adalah Dota 2. Dalam konferensi pers yang diadakan pada, Kamis, 17 Oktober 2019, Christian Suryadi, Business Development Director, JD.ID HSL menjelaskan, alasan mereka memilih Dota 2 sebagai game adalah untuk memudahkan pengawasan murid. Berbeda dengan turnamen esports profesional, tujuan utama HSL adalah untuk mengedukasi orangtua dan guru tentang esports, menginformasikan mereka bahwa esports tak melulu memberikan dampak buruk seperti yang ditakutkan. Karena Dota 2 hanya bisa dimainkan di PC, maka lebih mudah bagi pihak sekolah untuk memastikan bahwa siswa tidak bermain saat dalam kelas dengan mengatasnamakan latihan.

“Bermain esports perlu pengendalian waktu,” kata Christian. “Makanya, kita mau melibatkan orangtua dan guru untuk mengawasi para murid. Jika tim sekolah mau bertanding, guru pendamping juga harus datang.” Dia mengatakan, HSL ditujukan untuk menunjukkan sisi positif dari esports, seperti melatih kerja sama tim dan cara pikir strategis. Pertimbangan lain Dota 2 dipilih sebagai game adalah karena game esports di PC dianggap lebih stabil. Namun, dia menekankan, pertimbangan utama tetaplah kemudahan pengawasan.

TipTech #2: Mengembangkan Arsitektur Aplikasi “Scalable” ala Tim Pengembang Ovo

TipTech adalah rubrik baru DailySocial yang membahas berbagai kiat dalam pengembangan produk atau aplikasi startup. Setelah sebelumnya membahas tentang siklus pengembangan produk, kali ini kami berkesempatan untuk berbincang dengan Chief Product Officer Ovo Albert Lucius tentang arsitektur aplikasi yang scalable.

Tujuan dari pengembangan aplikasi yang scalable adalah menunjang pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Ketika pengguna layanan semakin bertambah –kadang lonjakannya bisa sangat signifikan—harapannya produk tidak turun performa, misalnya aksesnya jadi lambat atau bahkan mati. Untuk itu diperlukan perencanaan arsitektur sistem yang matang.

Sejak debut pada tahun 2017 sebagai platform loyalty, lalu bertransformasi menjadi e-wallet, hingga sekarang punya basis pengguna mencapai lebih dari 100 juta pengguna; Ovo punya cerita menarik dari dapur pengembang. Saat ini layanan Ovo juga sudah terintegrasi ke banyak platform lain yang memiliki arus transaksi besar –sebut saja Tokopedia dan Grab.

Kepada Albert kami menanyakan tentang bagaimana arsitektur sistem yang baik untuk sebuah aplikasi mobile.

“Menurut kami, dengan cepatnya pertumbuhan secara umum, sangat penting aplikasi bersifat modular dan menggunakan sistem feature flag. Karena akan  banyak komponen aplikasi yang dibuat oleh berbagai tim. Jika sistemnya bersifat monolith, maka akan memperlambat laju pengembangan.”

Dengan pendekatan modular, di dalam sebuah aplikasi terdapat kumpulan unit fungsional (disebut: modul) yang dapat diintegrasikan untuk menjadi aplikasi yang lebih besar. Modul aplikasi tersebut dapat dianalogikan sebagai aplikasi kecil di dalam aplikasi yang dapat diambil, dipasang, atau dikonfigurasi kembali ke aplikasi lain. Modul-modul tersebut terbungkus dalam logika bisnis program yang direpresentasikan dalam antarmuka pengguna.

Sementara konsep feature flag penting diterapkan, sehingga memungkinkan pengembang membatasi/menonaktifkan beberapa fitur saat terjadi masalah, tanpa mematikan fungsi aplikasi secara keseluruhan.

Kiat integrasi aplikasi

Selain mempertimbangkan dua hal di atas, Albert juga menyampaikan tentang konsiderasi pembagian aplikasi native dan webview untuk menjaga performa aplikasi.  Hal tersebut akan berdampak pada ukuran APK dari tiap aplikasi. Menurutnya ini jadi faktor penting, terlebih saat startup terus beranjak mencapai skala yang lebih besar.

Aplikasi native dibangun dengan bahasa pemrograman tertentu yang menyatu dengan core aplikasi. Sementara aplikasi webview memanfaatkan fungsionalitas penampil laman web di dalam aplikasi tanpa harus memaksa pengguna membuka browser terpisah.

Di lain sisi, integrasi dengan pihak ketiga juga menjadi hal yang butuh diperhitungkan secara teknis untuk aplikasi seperti Ovo. Albert menyebutkan, keamanan pengguna menjadi prioritas utama bagi perusahaan ketika melakukan integrasi. Selain proses internal dan disiplin terhadap SOP, ia selalu menyarankan untuk melakukan penetration testing (pen-testing) eksternal. Banyak sekali saat ini vendor lokal maupun luar negeri yang dapat membantu proses ini.

Pen-testing adalah kegiatan menyimulasikan serangan terhadap sistem aplikasi. Ini jadi komponen penting dalam audit keamanan, biasanya wajib dilakukan untuk aplikasi yang menampung data sensitif, agar tidak mudah dibobol atau diintervensi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab –baik dari internal maupun eksternal.

pen-testing
Tahapan dalam pen-testing / Imperva

“Program bug bounty juga dapat membantu menyalurkan laporan bugs yang mungkin tidak terdeteksi oleh proses internal. Peningkatan kualitas layanan dan sistem keamanan (di sisi aplikasi kita) juga jadi faktor penting untuk kenyamanan pengguna,” terang Albert.

Pengelolaan sumber daya

Infrastruktur teknologi yang baik juga harus ditangani oleh SDM yang mumpuni untuk menghasilkan performa terbaik. Untuk mengelola pekerjaannya, juga diperlukan metodologi yang tepat. Namun menurut Albert, di perusahaannya tidak terpaku pada tren yang sedang menjadi sorotan, kesesuaian dengan karakteristik tim menjadi pertimbangan utama.

“Sangat penting untuk kami dalam merekrut tim yang betul-betul paham scaling infrastruktur secara baik dan benar.”

Setiap pengembang juga dituntut untuk menghasilkan baris konde yang berkualitas. Menurutnya ada tiga indikator yang dapat menggambarkan susunan pemrograman yang efisien, yakni sistem repositori yang memadai, konsep best coding practice, dan code reveiw yang solid. Best coding practice menjadi aturan informal yang harus sering diutarakan melalui sebuah standar yang diterapkan di perusahaan, dilengkapi dengan pelatihan yang memadai.

“Sistem code review juga sangat penting karena sedikit banyak SDM mudah membuat kesalahan. Oleh karena itu untuk startup yang sedang berkembang, jangan lupa untuk melakukan automated testing dan unit testing. Hal ini dikarenakan semakin membesarnya skala startup, semakin banyak developer yang bekerja di code repository kita, semakin banyak kesalahan dapat terjadi. Automated testing akan sangat membantu mengurangi human-error yang dapat terjadi,” jelas Albert.

Application Information Will Show Up Here

EdTech Startup Zenius Reportedly Raises 283 Billion Rupiah from Northstar Group

A trusted source comes with information that the edtech platform, Zenius, one of the firsts in this industry, has received funding worth $20 million (around 283 billion Rupiah) from Northstar Group (probably through its venture capital). Zenius’ CEO, Sabda PS avoids making any comment on this issue.

The edtech sector is currently evolving. Tech-based education platforms aim to enhance the quality of student learning, not limited to classroom activities.

Without any specific player dominating the market, Ruangguru is said to lead in this vertical and one of the centaurs with over $100 million valuations according to the Startup Report 2018. They’re projected to be the next unicorn. Aside from tutoring, they’ve expanded to some other segments, such as Ruangkerja for employees and Skill Academy for those who want to learn non-academic subjects.

The raised funding, supposed to be the first external funding for the company based on Crunchbase, will tighten up the competition and innovation in the edtech sector to have better solutions.

Was founded in 2007, Zenius is a paid online course targeting all academic levels, starting from elementary school up to SBMPTN (Joint Entrance Exam for Public University). The subscription fees vary from 172 thousand Rupiah per month up to 650 thousand Rupiah per year. Zenius is said to create over 80 thousand education videos.

After this funding, Gojek’s former COO, Rohan Monga is to be appointed as the new CEO. Sabda PS will take the Chairman position, and the other two co-founders (Medy Suharta and Wisnu OPS) are still helping the company grow.


Original article is in Indonesian, translated by Kristin Siagian

Application Information Will Show Up Here

Lebih Kecil Lagi dari Pendahulunya, Olympus OM-D E-M5 Mark III Justru Tawarkan Peningkatan Performa

Keputusan Panasonic untuk terjun ke segmen mirrorless full-frame sempat membuat saya bertanya dalam hati terkait nasib Olympus. Seperti yang kita tahu, keduanya sudah sejak lama menjalin aliansi dan melahirkan platform Micro Four Thirds, akan tetapi yang sejauh ini sudah mantap memperluas portofolionya barulah Panasonic.

Olympus di sisi lain masih teguh pendirian. Mereka baru saja meluncurkan OM-D E-M5 Mark III, kamera mirrorless terkecilnya saat ini. Selisih umur empat tahun dari E-M5 Mark II rupanya dimanfaatkan Olympus untuk mematangkan miniaturisasi sejumlah teknologi secara signifikan.

Olympus OM-D E-M5 Mark III

Salah satu komponen yang diciutkan adalah image stabilizer 5-axis yang tertanam langsung di kamera. Meski ukurannya lebih kecil dari milik E-M5 Mark II, kinerjanya justru sedikit lebih efektif; sanggup mengompensasi guncangan hingga 5,5 stop exposure, atau sampai 6,5 stop dengan bantuan lensa yang kompatibel.

Komponen lain yang diperkecil adalah modul baterainya, akan tetapi Olympus mengklaim daya tahannya sama persis seperti yang terdapat di pendahulunya (hingga 310 kali jepret). Secara fisik, E-M5 Mark III masih mempertahankan rancangan yang cukup identik terlepas dari dimensinya yang mengecil. Aspek weather-sealing-nya pun turut disempurnakan sehingga E-M5 Mark III layak memperoleh sertifikasi IPX-1.

Satu lagi yang disusutkan ukurannya adalah viewfinder elektronik (EVF), yang pada kamera ini hanya memiliki tingkat perbesaran 0,68x (turun dari 0,74x). Kendati demikian, kualitasnya lebih baik berkat pemakaian panel OLED beresolusi 2,36 juta dot ketimbang LCD.

Olympus OM-D E-M5 Mark III

Urusan performa, E-M5 Mark III mewarisi jeroan milik kakaknya yang lebih mahal dan lebih besar, E-M1 Mark II. Sensor Four Thirds yang digunakan sama persis, dengan resolusi 20 megapixel dan 121 titik phase-detection autofocus, demikian pula prosesor TruePic VIII-nya.

Kecepatan menjepret tanpa hentinya tercatat 30 fps dengan fokus dan exposure terkunci, atau 10 fps dengan AF dan AE tracking menyala. Memang belum selevel E-M1 Mark II (yang sejatinya sudah masuk level DSLR), akan tetapi masih cukup impresif untuk ukuran kamera sekecil ini, yang bobotnya tidak sampai 420 gram.

Olympus OM-D E-M5 Mark III

Fitur lain yang diwarisi dari kakaknya adalah mode High Res Shot 50 megapixel, yang menggabungkan delapan foto menjadi satu dengan detail luar biasa. Untuk video, E-M5 Mark III siap merekam dalam resolusi paling tinggi 4K 30 fps. Selagi merekam, image stabilization-nya akan dibantu oleh electronic stabilization.

Olympus OM-D E-M5 Mark III rencananya akan dijual mulai akhir November mendatang seharga $1.200 (body only). Paket bersama lensa 14-150mm f/4.0-5.6 juga akan ditawarkan seharga $1.800.

Sumber: DPReview.

Startup Teknologi Pendidikan Zenius Dikabarkan Raih Pendanaan 283 Miliar Rupiah dari Northstar Group

Kami mendapatkan informasi dari sumber terpercaya jika platform teknologi pendidikan (edtech) Zenius, salah satu yang tertua di industri ini, mendapatkan pendanaan sebesar $20 juta (sekitar 283 miliar Rupiah) dari Northstar Group (atau melalui modal ventura yang dikelolanya). CEO Zenius Sabda PS menolak berkomentar saat kami hubungi terkait hal ini.

Sektor edtech memang sedang menggeliat. Platform edukasi berbasis teknologi berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran siswa, tidak hanya melulu kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.

Meski belum ada pemimpin pasar yang benar-benar mendominasi, Ruangguru bisa dibilang sedang unggul di vertikal ini dan telah menjadi salah satu centaur bervaluasi di atas $100 juta berdasarkan data Startup Report 2018. Mereka bahkan digadang-gadang bakal menjadi salah satu unicorn baru. Selain fokus di segmen bimbel, Ruangguru telah memperluas jangkauan ke beberapa segmen lain, misalnya Ruangkerja untuk para pegawai dan Skill Academy untuk mereka yang ingin memperdalam skill di luar akademik.

Pendanaan yang diperoleh Zenius ini, mungkin pendanaan eksternal pertama yang diperoleh perusahaan per data Crunchbase, akan mendorong persaingan dan inovasi yang lebih ketat di sektor edtech untuk mengeksekusi solusi-solusi terbaik.

Didirikan tahun 2007, Zenius adalah layanan “bimbel online” berbayar yang menyasar semua tingkatan pendidikan, dari SD sampai persiapan ujian SBMPTN. Biaya berlangganannya mulai dari 172 ribu Rupiah per bulan hingga 650 ribu Rupiah per tahun. Disebutkan Zenius sudah memiliki lebih dari 80 ribu video pendidikan.

Pasca perolehan pendanaan ini, mantan COO Gojek Rohan Monga disebut bakal didapuk jadi CEO baru. Sabda PS bakal menjadi Chairman perusahaan, sementara dua co-founder lain (Medy Suharta dan Wisnu OPS) akan tetap berkiprah di Zenius.

Application Information Will Show Up Here

Bangun Ekosistem Khusus Bisnis, Bhinneka Garap Pasar B2B2B

Pionir situs e-commerce Bhinneka mengungkapkan tengah memperdalam fokusnya dengan menggarap segmen baru b2b2b, tujuannya agar terus menjadi pemain e-commerce b2b terdepan di Indonesia. Perubahan fokus ini baru terjadi sejak awal Oktober ini dan ke depannya akan banyak pengembangan situs utama mereka.

GM of Acquisition Bhinneka Shri Prabu Adityawarman menerangkan, tujuan perusahaan mengambil keputusan ini karena ingin membuat ekosistem bisnis yang menyeluruh. Semua orang bisa berbisnis dengan berjualan dan membeli produk dari dan ke Bhinneka.

“Kebanyakan [pemain e-commerce di Indonesia] mainnya di ritel, tapi kita fokusnya di bisnis. Jadi inget mau bisnis, mau penjualan atau pembelian ingatnya Bhinneka,” terangnya kepada DailySocial.

Melalui konsep b2b2b ini, antar merchant bisa saling membeli produk di dalam ekosistem. Misalnya, ada perusahaan yang menjual jasa training di Bhinneka, mereka bisa membeli gadget untuk kebutuhan kantor lewat Bhinneka juga.

Tidak hanya menyediakan produk teknologi informasi, Bhinneka juga merambah kategori baru agar dapat menjangkau seluruh aspek kebutuhan korporat dan UKM, seperti MRO (maintenance, repair, overhaul) dan jasa untuk pelatihan karyawan, konsultasi finansial, riset pasar, interior design, edukasi, dan sebagainya.

“Kita mau semua jenis merchant bisa masuk karena potensi UMKM ini besar kan. Jadi kita coba fokus ke sana juga, enggak main di korporasi besar saja.”

Pada fase berikutnya, setelah banyak merchant dari berbagai kategori masuk, Bhinneka akan membuat produk bundling yang eksklusif tersedia di platform mereka. Nilai tambah lainnya, merchant bisa terhubung dengan rekanan fintech, seperti Home Credit, Kredivo, dan Kredit Plus untuk bantuan modal usaha.

Prabu menyebut saat ini perusahaan memiliki 500 ribu konsumen, sekitar 40 ribu di antaranya adalah konsumen b2b. Mereka datang dari berbagai industri, seperti manufaktur, IT, startup, universitas, farmasi, FMCG, dan masih banyak lagi.

Bhinneka juga memiliki eksistensi yang kuat di B2G, menyediakan pengadaan e-katalog LKPP untuk pemerintahan. Dalam melayani konsumen ini, perusahaan menyediakan dedicated account manager.

Diklaim monthly revenue dari b2b tumbuh signifikan dari Januari 2013 sampai Juni 2018, yang mencapai 369% dengan total SKU yang dimiliki mencapai lebih dari 450 ribu buah.

Saat ini rata-rata pengguna bulanan ke situs Bhinneka mencapai lebih dari 5 juta orang. Sebanyak 3,5 juta orang datang dari aplikasi, sisanya dari desktop. Kompetitor terdekat mereka termasuk Ralali, Bizzy, Mbiz, Indotrading, Monotaro, dan RupaRupa.

Application Information Will Show Up Here

Tips Membangun Karier dari Mantan Host Esports Tencent, Wu “Dido” Jingjing

Bicara tentang karier di industri esports, sekilas yang terbayang di masyarakat umum adalah perjalanan menjadi atlet. Padahal sebenarnya ada banyak sekali pilihan karier lainnya, seperti menjadi organizer, caster, kreator konten, dan lain-lain. Salah satu yang tak kalah penting dalam ekosistem ini adalah pekerjaan sebagai host, alias pembawa acara. Host inilah yang bertugas memandu audiens di sebuah event, sekaligus juga menghibur mereka agar tidak bosan.

Di Tiongkok, nama Wu “Dido” Jingjing sudah sangat terkenal sebagai host esports profesional. Memulai karier di tahun 2006, Jingjing telah melanglang buana di sejumlah event besar. Termasuk di antaranya ChinaJoy, World Cyber Games, King Pro League, hingga Fortnite World Cup China Qualifier. Ia sempat menjadi host eksklusif Blizzard dari tahun 2006 – 2010, dan memegang jabatan Interactive Entertainment Brand Manager di Tencent Games pada periode 2011 – 2017. Beberapa brand yang sempat bekerja sama dengan dirinya mencakup Razer, Intel, ASUS, Pepsi, Philips, dan Samsung.

Jingjing telah meninggalkan Tencent di tahun 2018 untuk mendirikan agensi bernama Dido Esports. Namun banyak hal yang bisa kita pelajari dari perjalanan kariernya sebagai host esports selama lebih dari satu dekade. Belum lama ini, The Esports Observer mewawancarai Wu Jingjing dan menggali beberapa kiat yang patut kita ingat untuk meraih kesuksesan di industri esports. Apa saja kiat itu?

Wu Jingjing - Fortnite World Cup 2019
Wu Jingjing di ajang Fortnite World Cup 2019 China Finals | Sumber: Wu Jingjing via The Esports Observer

Passion, kerja keras, dan riset

Sebagian dari Anda mungkin sudah bosan mendengar kata passion, tapi bagaimana pun juga, itulah dorongan terbesar yang bisa membuat seseorang berani melakukan sesuatu. Wu Jingjing pun demikian. Ia menyebut masa awal kariernya sebagai masa-masa yang pahit namun menyenangkan. “Orang-orang tidak mengerti mengapa kami (host) menghabiskan waktu membantu orang lain mendapatkan pengalaman menonton video game yang baik, tanpa mencari pekerjaan normal. Kadang, kami juga tidak tahu jawabannya, tapi kami hanya sangat passionate soal esports,” ujarnya.

Passion itu berarti mau bekerja keras untuk memastikan bahwa hasil kerja kita maksimal. Jingjing sering berubungan dengan brand internasional, dan ia sadar pentingnya menjaga image brand itu. Di setiap turnamen dan brand yang bekerja sama dengannya, Jingjing selalu melakukan riset terlebih dahulu. Ia harus paham tentang game yang dibawakan, latar belakang cerita di balik brand, hingga feedback dari para pengguna. Jingjing suka mencari unsur kejutan eksklusif dari sebuah brand, kemudian menunjukkan apa value di balik brand tersebut dan menyajikannya ke pengguna.

Selain itu, Jingjing juga sadar akan pentingnya menjaga perilaku. Menurutnya, host yang baik harus selalu bersikap humble (rendah hati). “Setiap gerakan yang Anda lakukan itu bukan hanya menyangkut brand sponsor atau turnamen, tapi juga brand milik host. Inilah profesionalisme saya,” papar Jingjing.

Selalu memberi value

Ketika Jingjing mengumumkan kepindahannya dari posisi host di Gamefy menjadi karyawan Tencent, banyak pihak merasa kecewa. Mereka merasa Jingjing sudah sukses sebagai host, dan lebih baik terus menjadi host saja. Jingjing memang tidak berhenti menjadi host, akan tetapi pekerjaannya di Tencent sebagai Brand Manager lebih banyak dilakukan di belakang meja.

Mengapa Jingjing pindah ke Tencent? Jingjing mengaku ini adalah keputusan yang sulit, tapi pada akhirnya ia ingin memberi value lebih banyak ke ekosistem esports. Ia ingin bisa berkontribusi lebih banyak dari sekadar jadi “gadis panggung”. Tujuan utamanya masuk ke Tencent, sebetulnya, adalah untuk belajar. Pengalaman di balik layar ini pada akhirnya memberi Jingjing ilmu untuk berpikir lebih kreatif serta lebih entrepreneurial, dan menjadi bekal ketika ia akhirnya mendirikan perusahaan sendiri.

Wu Jingjing - Pepsi 2008
Wu Jingjing menjadi host di acara esports Pepsi, tahun 2008 | Sumber: Wu Jingjing via The Esports Observer

Secara singkat, Jingjing memberikan empat poin penting yang ia pelajari selama di Tencent, yaitu:

  1. Keuntungan kompetitif adalah penting, dan keuntungan ini harus didefinisikan berdasarkan banyak suara dan informasi.
  2. Kerja tim lebih baik daripada kerja individual.
  3. Produk yang baik butuh kesabaran.
  4. Temukan jalur utama tujuan Anda, dan percaya dirilah untuk terjun ke dalamnya.

Manfaatkan kelebihan diri

Poin yang sangat menarik, Jingjing berkata bahwa ia sadar memiliki keuntungan berupa paras yang cantik. Melihat penampilannya sekarang mungkin Anda bahkan tidak akan percaya ia sudah berkarier di dunia esports selama 13 tahun. “Di masa-masa sangat awal industri esports Tiongkok, mungkin saya salah satu host esports minoritas yang bisa mencari nafkah. Itu karena saya adalah host esports perempuan Tiongkok pertama yang memiliki hubungan dengan brand internasional,” cerita Jingjing.

Industri esports dan video game secara umum lebih banyak didominasi oleh laki-laki, baik dari segi audiens maupun pelaku industrinya. Menurut Jingjing, perempuan tidak lebih lemah dari laki-laki, tapi kita tidak bisa mengubah kondisi bahwa memang industri ini banyak diisi oleh laki-laki. Jadi ia memanfaatkan kondisi tersebut. Ia tahu bahwa kecantikannya adalah daya tarik bagi masyarakat maupun bagi brand, namun ia juga tak mau hanya jual tampang.

Jingjing berkata, “Sebenarnya, saya selalu paham bahwa salah satu kelebihan saya adalah kecantikan. Itulah yang pertama kali menarik audiens esports laki-laki dan juga brand. Tapi selama saya betul-betul mencintai esports, dan mau melakukan lebih banyak riset tentang esports seperti mereka (audiens laki-laki), lambat laun mereka akan menyukai Anda karena talenta Anda. Jadi saat itu sudah bukan tentang penampilan (fisik) lagi.”

Wu Jingjing - Dido Esports
Perayaan kelulusan program edukasi Dido Esports | Sumber: Dido Esports via The Esports Observer

Meski sudah menjadi CEO di Dido Esports, Jingjing masih kerap kali tampil di panggung untuk menjadi host. Namun ia tidak lagi melakukannya demi uang. Ia melakukannya untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya di Dido Esports. Ia ingin menunjukkan, bagaimana host esports yang baik itu seharusnya. Bagaimana, apakah Anda ingin menjadi host esports sukses juga seperti Wu Jingjing?

Sumber: The Esports Observer, Wu Jingjing

Kudo Lebur Layanan, Kini Menjadi “GrabKios by Kudo”

Kudo kini melebur sepenuhnya ke dalam ekosistem Grab, baik secara brand dan layanan. Penamaan warung agen,  yang tadinya bernama Warung Kudo (beserta aplikasi) telah berubah menjadi GrabKios by Kudo. Situs Kudo pun sudah dialihkan ke Grab sebagai sub menu.

Head of Commercial & Business Expansion Kudo Nacitta Kanyandara menjelaskan, perubahan sebenarnya sudah dilakukan sejak akhir September 2019. Dalam waktu dekat, perusahaan akan melakukan peresmiannya.

“Kita ini sudah 100% milik Grab, jadi perubahan brand ini untuk menyeragamkan penamaan dari seluruh layanan Grab, dari GrabFood, GrabExpress. Karena kalau Kudo, biasanya orang suka nanya-nanya,” ucap Nacitta, Kamis (17/10).

Sejak Kudo resmi diakuisisi Grab pada April 2017, agen Kudo menjadi amunisi menambah mitra pengemudi dan berekspansi lebih cepat.

Kantor Kudo pun kini menjadi R&D buat Grab. Peleburan ini diharapkan mempermudah branding Kudo saat memperkenalkan diri ke calon agen baru.

Dari segi layanan, Kudo melakukan sejumlah pengembangan. Tidak hanya menjual PPOB, agen bisa membeli barang stok via aplikasi, baik FMCG maupun non FMCG. Kudo juga telah terhubung dengan Ovo PayLater, sehingga agen bisa lebih mudah mendapatkan pinjaman modal untuk mengembangkan usahanya.

Selain itu agen Kudo di Bandung, Surabaya, dan Jakarta telah menikmati fitur drop point untuk mengirim paket lewat GrabExpress tanpa harus mendatangi kurir.

Untuk layanan berbau fintech, tersedia layanan nabung emas dan umrah di beberapa lokasi. Ini adalah hasil kolaborasi dengan Tamasia dan PergiUmroh melalui program Grab Ventures Velocity. Di samping itu, ada kerja sama dengan perusahaan asuransi untuk kemudahan membeli polis dengan harga terjangkau.

“Kami ingin warung menjadi simbol untuk tempat temu komunitas. Bisa melakukan apa saja, tidak hanya beli barang fisik saja. Tujuannya agar mereka tetap bisa bersaing dengan modern channel.”

Saat ini Kudo memiliki 2,6 juta agen warung yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertumbuhannya diklaim mencapai 44% secara year on year. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Aceh, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Gorontalo, dan Sumatera Barat.

Dari segi transaksi, diklaim Kudo tumbuh 132% untuk periode yang sama. Sepanjang Ramadan 2019, transaksi yang paling banyak dimanfaatkan agen adalah pulsa, utilitas, kirim uang, produk supermarket, kupon dan voucher.

Application Information Will Show Up Here