Cara Menulis Artikel di Medium, Blogger dan Content Writer Wajib Tahu!

Artikel dan blog adalah jenis konten dalam bentuk tulisan yang umumnya dibuat oleh blogger maupun content writer. Platform yang digunakan pun beragam. Medium adalah salah satunya. Cara menulis artikel di Medium sangatlah mudah. Tak heran, Medium menjadi platform yang banyak digunakan oleh banyak content writer dan blogger saat ini untuk berbagi informasi.

Medium sendiri adalah wadah yang berperan sebagai online publishing konten tulisan, seperti artikel dan blog. Sehingga, Anda tidak perlu lagi membuat website pribadi untuk mengunggah karya tulisan Anda.

Cara Menulis Artikel di Medium

Sebelum mulai menulis artikel di Medium, pastikan Anda telah membuat akun Medium. Jika sudah, Anda dapat dengan mudah mengikuti cara menulis artikel di Medium berikut ini:

  • Akses situs Medium dan login ke akun terdaftar.
  • Setelah berhasil login, klik tombol Write di bagian kanan atas halaman untuk mulai menulis artikel.

  • Kemudian, Anda akan langsung dialihkan ke halaman untuk menulis artikel di mana Anda akan menemukan bagian untuk menulis judul artikel dan bagian lainnya untuk menulis isi artikel. Sehingga, langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah menulis judul artikel pada bagian Title.

  • Lalu, langkah selanjutnya adalah menulis isi artikel pada bagian kosong di bawah judul.
  • Untuk mengedit teks artikel menjadi bold, italic, rata tengah, dan lainnya, Anda dapat block teks yang ingin diedit dan memilih opsi yang akan secara otomatis muncul di atasnya seperti pada gambar di bawah ini.

  • Selain teks, Anda juga bisa menambahkan media lainnya, seperti gambar dan video, pada halaman artikel dengan klik ikon tanda tambah yang berada di sebelah kiri halaman kertas artikel Medium.

  • Setelah selesai menulis, Anda dapat langsung menerbitkan tulisan Anda dengan klik tombol Publish di bagian kanan atas halaman.

  • Apabila Anda belum ingin menerbitkannya, Anda dapat langsung meninggalkan halaman tersebut dan tulisan Anda akan otomatis tersimpan sebagai draft. Untuk melihatnya kembali, Anda dapat masuk ke halaman daftar cerita Anda dengan klik ikon profil di pojok kanan atas halaman Medium dan pilih Stories.

  • Pada halaman tersebut, Anda dapat melihat semua artikel Anda yang masih berupa draft, published, dan respon pengguna Medium lainnya pada artikel Anda.

Demikian panduan cara menulis artikel di Medium untuk Anda yang menekuni hobi atau profesi sebagai blogger dan content writer. Bagaimana? Mudah, bukan? Selain melalui situs Medium seperti pada tutorial di atas, Anda juga dapat menulis artikel melalui aplikasi Medium di smartphone dengan cara yang serupa. Selamat mencoba!

Strategi “New-Age Hospitality” Mengantar RedDoorz Capai BEP di 2022

Startup jaringan perhotelan di Asia Tenggara, RedDoorz, berhasil membuktikan strategi mereka dalam bertahan di masa pandemi. Di tahun 2022, perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan hingga 5x lipat dibandingkan sebelum pandemi.

Sebelumnya, mereka sempat mengumumkan rencana perubahan strategi bisnisnya untuk menjadi perusahaan new-age hospitality. Salah satu strategi utama perusahaan adalah membangun merek hotel baru “Sans Hotel” di akhir tahun 2020.

Melalui ‘brand’ ini, RedDoorz membidik pelancong dari generasi Z dan milenial dengan mengedepankan konsep akomodasi yang youthful, design-inspired, dan warmth dengan memadukan teknologi pintar dan harga terjangkau.

Perubahan strategi ini terbukti mendorong pengembangan jumlah properti perusahaan mencapai 55 persen sejak tahun 2019. Hingga saat ini, RedDoorz telah mengakomodasi sekitar 3 ribu properti di 257 kota di seluruh Indonesia. Pencapaian ini menjadi sebuah pembuktian resiliensi bisnis RedDoorz di tengah masa pandemi.

Diluncurkan sejak tahun 2015, Indonesia menjadi pasar terbesar RedDoorz. Meskipun begitu, RedDoorz juga beroperasi  di Singapura, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Di bulan Oktober 2022, RedDoorz Indonesia dan Filipina disebut telah mencapai break even point (BEP) atau tidak lagi merugi.

Regional VP Marketing RedDoorz Henry Manampiring mengungkapkan, “Melalui implementasi strategi dan fundamental bisnis yang berfokus kepada property owners dan customers, kami berhasil memenuhi janji kami untuk mencapai BEP di tahun 2022.” Dengan pencapaian ini, setiap pemasukan yang didapatkan perusahaan ke depannya akan terhitung sebagai keuntungan.

Memasuki tahun 2023, RedDoorz membagikan beberapa strategi dan rencana untuk meningkatkan kinerja bisnis ke depannya. Salah satunya dengan memperbarui sistem loyalty program menjadi lebih sederhana untuk meningkatkan pengalaman pemesanan dan menginap. RedDoorz juga akan memperkuat jaringan offline seller dan memperluas jangkauan propertinya.

VP of Multibrands RedDoorz Adil Mubarak juga menambahkan, “Melalui berbagai strategi dan inisiatif, perusahaan menargetkan untuk meningkatkan jumlah properti hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan mencapai BEP untuk RedDoorz Southeast Asia di Q4 2023.”

Industri budget hotel di Indonesia

Berdasarkan data BPS, jumlah usaha penyedia akomodasi, termasuk hotel berbintang di Indonesia pada tahun 2021 tercatat sebesar 24.1 ribu, menurun dari tahun sebelumnya di tengah tekanan dari pandemi Covid-19. Angka tersebut menurun 10,43% dari tahun sebelumnya. Walaupun tren penurunan terjadi di seluruh kategori, akomodasi seperti hotel melati dan vila terpukul lebih keras.

Memasuki tahun 2022, industri pariwisata mulai kembali bangkit. Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), pergerakan wisatawan domestik di tahun 2022 sudah menunjukkan angka yang positif. Tercatat per November 2022 terdapat 800 juta pergerakan, di atas target yaitu 550 juta pergerakan.

Dari sisi online travel agent (OTA), kebangkitan juga tengah dirasakan beberapa pemain di tanah air. Salah satunya Tiket.com yang di masa pandemi telah meluncurkan beberapa inovasi baru dengan menawarkan pengalaman online. Dalam wawancara bersama DailySocial.id, CEO Tiket.com George Hendrata mengungkap bahwa di masa pandemi sekalipun, pasarnya masih bertumbuh.

Dalam pasar hotel budget Indonesia, OYO sebagai pesaing langsung RedDoorz tengah mengembangkan jumlah pilihan akomodasi segmen premiumnya. Perusahaan juga menargetkan untuk melengkapi properti dengan perangkat teknologi yang dapat membantu pelanggan merancang, dan menjalankan penawaran promosi mereka sendiri untuk meningkatkan okupansi dan mendukung pemaksimalan pendapatan.

Di Indonesia sendiri, selain RedDoorz dan OYO, beberapa perusahaan yang menawarkan fasilitas hotel budget adalah Bobobox dan ZenRooms. Startup sejenis lainnya, Airy, sudah lebih dulu gulung tikar. Platform tidak lagi menampilkan listing untuk pemesanan di atas tanggal 31 Mei 2020.

Application Information Will Show Up Here

Bio Farma Luncurkan “Medbiz”, Platform Marketplace B2B Farmasi

Bio Farma, perusahaan pelat merah farmasi, meresmikan kehadiran marketplace B2B khusus farmasi Medbiz (Medicine Distribution Business Zone). Solusi ini berkat kolaborasi perseroan dengan SIRCLO sebagai penyedia solusi omnichannel commerce.

Medbiz merupakan strategi Bio Farma untuk mendigitalisasi distribusi produk obat-obatan dan alat kesehatan secara menyeluruh. Tak hanya itu, dalam rangka menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan produk farmasi yang terintegrasi, cepat, dan efisien guna mendorong terciptanya ekosistem kesehatan berbasis digital di Indonesia.

“Hari ini kita launching beberapa produk yang luar biasa dan revolusioner, yang kita harapkan menjadi new revenue stream bagi Bio Farma. Tapi yang terpenting adalah produk yang kita launching hari ini dapat menjadi solusi kesehatan bagi masyarakat Indonesia dan global,” ucap Direktur Transformasi dan Digital Bio Farma Soleh Ayubi dalam keterangan resmi, Kamis (2/2).

Menurut dia, Medbiz bukan sekadar digitalisasi tapi merevolusi cara Bio Farma berjualan di ranah farmasi. Oleh karenanya, pihaknya mendorong industri farmasi, mulai dari klinik, apotek, dan rumah sakit untuk bertransaksi melalui Medbiz dalam memenuhi pengadaan mereka.

Diklaim solusinya dapat menghemat waktu hingga 20% dari yang biasanya dipakai untuk menangani penjualan. “Di mana nantinya waktu tersebut dapat digunakan untuk mencari pelanggan baru. Tapi kita tidak akan berhenti di sini, we are going to continue, we will not stop here.”

Sebelumnya Medbiz sudah melakukan soft-launching pada 31 Agustus 2022 dan memiliki distributor resmi, yakni Bio Farma, Kimia Farma, dan Indofarma. Pada tahap awal, Medbiz menggandeng 11 distributor yang tersebar di Bandung, Jabodetabek, dan Purwokerto. Disampaikan Medbiz telah menjangkau 100 pembeli terdaftar di aplikasinya.

Selama empat bulan, dari September hingga Desember 2022, diklaim Medbiz telah mencatatkan 3.807 transaksi dengan 3.309 pengguna terdaftar, dan 56 distributor yang tersebar di seluruh Indonesia. Soleh menerangkan, dengan kekuatan ekosistem healthcare yang dimiliki Holding BUMN Farmasi dan komitmen seluruh pihak, diharapkan Medbiz dapat menjadi solusi untuk memudahkan proses pengadaan obat, alat kesehatan, dan produk kesehatan lainnya.

Kemitraan dengan SIRCLO

Medbiz memosisikan dirinya sebagai one-stop medical supplies, yang menghadirkan fitur di aplikasi maupun situs, untuk membantu para penyedia jasa farmasi dalam menjelajah lebih banyak kategori produk dan pilihan distributor resmi. Kehadiran fitur-fitur tersebut merupakan hasil dari konsultasi yang dilakukan dengan ICUBE by SIRCLO, serta personalized solutions yang ditawarkan oleh SWIFT by SIRCLO.

ICUBE by SIRCLO menghadirkan layanan konsultansi strategi dan implementasi teknologi omnichannel berbasis Magento. Seiring dengan meningkatnya permintaan dari pemilik merek untuk memperkuat pengelolaan laman penjualannya, Swift by SIRCLO hadir sebagai penyedia solusi pengembangan teknologi omnichannel. Kedua produk dan solusi di bawah naungan SIRCLO Group inilah yang turut berperan dalam pengembangan Medbiz.

Chief Technology Officer Enterprise Solutions SIRCLO Muliadi Jeo menuturkan, perusahaan terus berupaya membantu berbagai lini bisnis dalam bertransformasi secara digital. Hal ini diwujudkan dengan mendukung upaya bisnis, termasuk di skala BUMN, untuk dapat terus bertransformasi.

“Melalui produk yang ditawarkan seperti ICUBE by SIRCLO dan Swift by SIRCLO, kami menghadirkan kemudahan bagi para pelaku bisnis melalui ekosistem teknologi yang terintegrasi dan dengan solusi yang berbasis custom,” ujarnya.

Kerja sama SIRCLO dengan korporasi bukanlah yang pertama. Sebelumnya, perusahaan bekerja sama dengan MNC Group, melalui unit bisnis e-commerce AladinMall. Solusi yang dimanfaatkan adalah SIRCLO Commerce, yakni solusi end-to-end channel management dari SIRCLO untuk brand berskala besar yang ingin memperluas pasarnya secara online.

SIRCLO Commerce menawarkan opsi bagi brand untuk memperluas jangkauannya melalui AladinMall. Tak hanya itu, brand yang bergabung di AladinMall lewat SIRCLO Commerce dapat melakukan penambahan produk atau product assortment ke platform AladinMall.

Pendekatan Omnichannel untuk Imbangi Perubahan Tren Belanja Ritel di Indonesia

Sepanjang pandemi, jargon omnichannel mungkin terkubur. Berbagai aktivitas offline terhambat. Perusahaan teknologi mencoba beradaptasi. Dengan asumsi adanya perubahan perilaku yang lebih memilih menjaga jarak, layanan-layanan difokuskan ke arah go online. Sejak tahun 2022 lalu, kondisinya membaik. Masyarakat kembali ke mall, restoran, salon untuk merasakan pengalaman beraktivitas.

Strategi omnichannel, yang mengombinasikan kehadiran offline dan online, kembali mencuat dengan pendekatan berbeda.

Menurut hasil riset yang dirilis The Trade Desk pada Februari 2022, konsumen Indonesia kembali berbelanja secara offline setelah pandemi mulai terkendali. Namun, percepatan adopsi online di industri ritel tidak serta merta ditinggalkan. Kehadiran saluran berbelanja online dan offline jadi saling melengkapi.

Kondisi ini didukung hasil survei McKinsey berjudul “Indonesian consumer sentiment during the coronavirus crisis” pada Agustus 2022. Survei menunjukkan ada 60%-90% responden Indonesia menggunakan solusi omnichannel di tahap pembelian. Kedua riset ini memvalidasi bahwa omnichannel akan tetap ada untuk sekarang dan yang akan mendatang bagi bisnis ritel.

McKinsey : Indonesian consumer sentiment during the coronavirus crisis

Di sisi lain, menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, 90% dari anggotanya telah mengadopsi strategi omnichannel. Akan tetapi, sebagian besar peritel fisik di seluruh Indonesia masih tidak memiliki keahlian dan sumber daya internal yang memadai maupun investasi teknologi yang substansial untuk menjalankan model ritel omnichannel secara efektif. Oleh karenanya, hanya sejumlah kecil peritel besar mampu menerapkan inisiatif omnichannel.

Bagi perusahaan yang sudah mengadopsi konsep ini, pekerjaannya tidak bisa dilakukan sekali. Usaha terus dilakukan secara berkelanjutan, karena harus ada nilai tambah yang diciptakan agar tetap unggul. Perusahaan perlu mencermati target konsumen yang diinginkan dari perspektif omnichannel.

“Dengan menanamkan prinsip-prinsip ini ke dalam strategi ritel mereka, para pemimpin ini dapat menggunakan momentum—dan urgensi— pada saat ini untuk menentukan keuntungan yang ingin dicapai,” tulis laporan McKinsey dalam laporan terpisah bertajuk “Omnichannel: The path to value”.

Blibli

DailySocial.id menghubungi dua pemain e-commerce, Blibli dan Sociolla, yang menerapkan strategi omnichannel untuk memahami hipotesis masa depan dalam rangka mendukung posisi perusahaan.

SVP O2O Blibli David Michum menyampaikan, hipotesis Blibli dalam memulai strategi ini selalu dilihat dari perspektif konsumen Indonesia yang terus berevolusi. Di satu sisi, omnichannel adalah masa depan bagi bisnis ritel, terutama setelah melihat potensi pasar di sektor ini semenjak pandemi. Prospek tersebut menjadi langkah bagi Blibli untuk menjadi perusahaan berkelanjutan.

“Strategi physical (physical-digital) atau omnichannel dalam hal ini menjadi salah satu fokus utama kami yang bertujuan meningkatkan customer journey untuk berbelanja dan bertransaksi secara seamless di setiap touchpoints pelanggan, baik secara online maupun offline,” terang David.

Riset yang dirilis The Trade Desk dan McKinsey tersebut menjadi alasan kuat bagi Blibli untuk menguatkan strategi omnichannel. Perusahaan berambisi ingin menjadi omnichannel commerce dan platform gaya hidup terdepan di Indonesia.

Peresmian Toko Tukar Tambah pertama yang berlokasi di Dago, Bandung / Bali

Dalam membangun misi tersebut, perusahaan mencoba menjawab tantangan yang ada, di antaranya: membangun multiple touchpoints, menstandarkan pengalaman konsumen, mengintegrasikan keberadaan toko online dengan fisik, dan menciptakan pengalaman ritel yang lebih baik untuk pelanggan.

Perjalanan awal Blibli membangun omnichannel dimulai pada 2016 melalui peluncuran fitur Blibli Instore dan diikuti Click & Collect pada 2018, dengan menggandeng para mitra bisnis dalam menjawab kebutuhan immediate omnichannel presence, dan opsi pembayaran yang beragam dalam satu platform terintegrasi. Layanan Click & Collect semakin terintegrasi sejak diluncurkan Bliblimart sebagai toko offline pertama Blibli pada 2020, serta akuisisi Ranch Market pada 2021.

Inovasi terus berlanjut hingga tahun lalu dengan memperkuat kehadiran di toko fisik untuk flagship store. Inisiatif toko fisik ini dijalankan oleh anak usaha Blibli, Blibli Omnichannel Mobility Group (Blibli OMG). Terdapat monobrand store, seperti Samsung Experience Store dan Hello (monobrand store Blibli untuk Apple, khusus untuk partner tier-1 di Indonesia). Bila ditotal, saat ini perusahaan telah mengoperasikan lebih dari 100 flagship stores dan 70 gerai Ranch Market yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, terdapat multibrand store, seperti Blibli Store dan toko Tukar Tambah yang jumlahnya lebih dari 27 ribu titik per September 2022. Lokasinya tersebar di tujuh kota, temasuk Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya.

David optimistis sinergi tiga layanan di bawah Blibli: e-commerce, OTA (Tiket.com), dan groceries (Ranch Market) menempatkan perusahaan tetap di posisi relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

“Melalui ekosistem Blibli Tiket, kami dapat memenuhi hingga 90% kebutuhan masyarakat Indonesia, mulai dari belanja kebutuhan harian hingga leisure. Kami memahani kesibukan para pelanggan, untuk itu pelanggan kian dimudahkan dengan pemesanan kebutuhan harian lewat aplikasi Blibli.”

Sociolla

Pendekatan yang mirip juga ditempuh Sociolla agar tetap relevan dengan konsumennya. Co-Founder dan President Social Bella (perusahaan pengelola Sociolla) Christopher Madiam menyampaikan, sejak awal meski Sociolla beroperasi sebagai platform e-commerce kecantikan, mereka paham betul bahwa pengalaman belanja offline akan selalu relevan bagi konsumen di segmen ini.

“Karena para pecinta kecantikan ingin dapat menyentuh dan mencoba produk secara langsung sebelum membeli produk. Memahami hal tersebut, pada 2019 kami memperkenalkan toko berkonsep omnichannel, yang memadukan pengalaman berbelanja online dan offline secara seamless dan terintegrasi bagi konsumen kami,” kata Chris.

Dari pengamatan perusahaan, saat ini konsumennya —yang mayoritas adalah perempuan— mengharapkan tempat belanja yang dapat memberikan pengalaman berbelanja yang seamless dari URL ke IRL (In Real Life), memiliki spesialisasi dalam hal produk yang dijual, dan menawarkan pengalaman berbelanja yang unik. Perusahaan menyebut tren ini sebagai Future Commerce 3.0 dan sudah dihadirkan melalui toko omnichannel-nya.

Menurutnya, konsep omnichannel harus menawarkan pengalaman online ke offline atau sebaliknya, seamless dan mudah bagi konsumen. Kunci utama untuk memberikan pengalaman kecantikan yang seamless dan holistik di omnichannel Sociolla terletak pada kemampuan dalam membangun kolaborasi yang solid, berjalan secara seamless dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk fungsi internal dan eksternal (brand, supplier, layanan pengiriman, dll).

“Kedua, being agile is a must. Kami selalu berusaha untuk beradaptasi dan berkembang agar dapat memenuhi perubahan permintaan yang konstan dari konsumen yang sangat digital.”

Gerai Sociolla / Sociolla

Chris tidak memungkiri perjuangan untuk mewujudkan omnichannel tidaklah mudah. Namun, ia optimistis berbekal pemahaman yang mendalam tentang perilaku dan kebutuhan pecinta kecantikan yang berkembang secara konstan, serta didukung dengan kapabilitas teknologi yang kuat, mampu mengisi kesenjangan antara kebutuhan konsumen dan solusi yang tersedia di pasar.

“Sejak pertama kali didirikan, Social Bella telah berinvestasi dengan kuat tidak hanya dalam peningkatan teknologi front-end tetapi juga pengoperasian back-end, dengan warehouse pusat yang dilengkapi dengan sistem teknologi end-to-end.”

Disebutkan, jangkauan toko offline Sociolla meningkat hingga 30 kali lipat dibandingkan sebelum pandemi dengan total 49 toko omnichannel di 29 kota di seluruh Indonesia. Di Vietnam sendiri, kini mencapai 13 toko sejak ekspansi perdana di 2020 lalu.

“Rencana kami berikutnya di tahun 2023 adalah terus memperluas jangkauan dan melayani konsumen untuk berbelanja dengan cara yang mereka sukai, baik itu secara online, offline, ataupun keduanya melalui aplikasi SOCO, situs Sociolla, serta gerai omnichannel.”

Beberapa fitur yang sudah dihadirkan untuk mendukung omnichannel di antaranya:

● Click and Collect: Belanja produk dari berbagai brand melalui aplikasi SOCO atau web Sociolla dan konsumen dapat memilih untuk mengambil barang langsung di gerai Sociolla sesuai pilihan.
● Shop and Deliver: Belanja berbagai brand dan produk di gerai Sociolla yang konsumen kunjungi saat ini, lalu hanya dengan memindai Kode QR dari aplikasi SOCO. Kemudian kirim barang ke rumah/tujuan sesuai keinginan konsumen.
● Store Page on SOCO App: Ketika mengunjungi gerai Sociolla mana pun, konsumen dapat mengetahui informasi tentang promosi atau hal baru yang ditawarkan pada hari itu dengan memindai Kode QR di stasiun check-in SOCO dan menggunakan voucher khusus yang tersedia untuk transaksi.

“Kami terus berinovasi dengan fitur-fitur baru di omni stores kami untuk memastikan bahwa konsumen akan mendapatkan pengalaman belanja kecantikan terbaik sesuai keinginan dan preferensi mereka,” pungkas Chris.

Pengertian dan Keunggulan Akuntansi Cash Basis

Tentunya, Anda sebagai pemilik bisnis harus memahami dasar-dasar akuntansi, terutama saat membuat laporan keuangan. Salah satu metode untuk melakukan pencatatan keuangan, yaitu cash basis. Maka dari itu, Anda harus memahami pengertian dari cash basis ini.

Simak selengkapnya pada artikel ini mengenai pengertian cash basis, kelebihan dan kekurangan, hingga contoh metode ini.

Pengertian Cash Basis

Credit Photo by : Vectorjuice

Cash basis adalah metode akuntansi dimana transaksi dicatat pada saat menerima kas atau pada saat mengeluarkan kas. Dengan kata lain, cash basis tidak mengenal piutang karena pendapatan akan dicatat setelah menerima atau mengeluarkan uang.

Contoh Cash Basis

Untuk memudahkan dalam memahami cash basis, berikut DailySocial akan sajikan contoh sederhana metode ini.

Perusahaan Anda menjual produk kepada klien pada tanggal 24 Januari 2023 sebesar Rp 10.000.000. Kemudian, klien memiliki 14 hari untuk membayar faktur dan akhirnya membayar pada 7 Februari 2023. Bagaimana pencatatannya?

Dengan model cash basis, Anda akan mencatat kasnya pada laporan bulan Februari karena Anda baru menerima uangnya dari klien. 

Cash Basis: Cocok Untuk Siapa?

Anda bisa menggunakan metode cash basis apabila memenuhi syarat di bawah ini : 

  • Seseorang yang memiliki bisnis kecil dan sedikit melakukan transaksi.
  • Ketika seseorang memiliki jumlah karyawan yang sangat sedikit.
  • Jika tidak ada persyaratan untuk Laporan Laba Rugi, Neraca Saldo, atau Neraca Keuangan.
  • Seseorang memiliki modal yang sangat terbatas.
  • Sebagian besar transaksi diselesaikan dalam bentuk tunai.

Keunggulan Cash Basis

Berikut adalah keunggulan yang Anda dapatkan dari metode ini : 

  • Tak perlu menjadi ahli akuntansi, sebab pemilik bisnis kecil termasuk UKM dapat dengan mudah mencatat transaksi mereka di buku catatan kecil tanpa menyiapkan satu set pembukuan sistematis yang terpisah.
  • Biaya administrasi cash basis lebih murah dibandingkan accrual basis. Alasannya, accrual basis mengikuti sistem pembukuan double-entry, yang mencatat setiap transaksi secara sistematis, sedangkan cash basis mengikuti sistem single-entry.
  • Karena metode ini simpel dan sedikit membutuhkan perekaman dibandingkan accrual basis, maka menggunakan metode ini akan sedikit memakan waktu.

Kelemahan Cash Basis

Berikut adalah kelemahan dari cash basis : 

  • Beberapa pemberi pinjaman mungkin memerlukan persiapan akun sesuai ketentuan GAAP dan karenanya, akan menolak untuk meminjamkan uang.
  • Laporan keuangan yang disajikan tidak dapat memperlihatkan potensi laba dan rugi yang sebenarnya.
  • Sulit dalam melakukan transaksi yang tertunda pembayarannya, karena pencatatan diakui pada saat kas atau uang masuk atau keluar.
  • Sulit bagi manajemen untuk menetapkan suatu kebijakan ke depannya karena selalu berpatokan kepada kas.

Sekian artikel pengertian dan keunggulan dari cash basis. Semoga Anda sudah memahami dengan baik metode ini dan dapat membuat laporan keuangan dengan benar.

Kompetisi Startup Tahunan “TOP100” dari e27 Kembali Dibuka Tahun Ini

Program kompetisi startup TOP100 dari e27 kembali diselenggarakan pada tahun ini setelah hiatus selama tiga tahun. Program yang menjadi bagian dari konferensi tahunan Echelon Asia Summit ini akan diselenggarakan pada 31 Mei dan 1 Juni 2023 mendatang di Singapura.

TOP100 merupakan program kompetisi yang menyediakan platform bagi startup tahap awal untuk bermitra, mendapat peluang pendanaan, dan dukungan pertumbuhan bisnis lainnya di kawasan Asia Pasifik. Sejak awal kehadirannya, kompetisi pitching TOP100 menghadirkan startup terbaik untuk tampil dan mempresentasikan rencana bisnisnya. Jajaran alumnusnya mulai dari 99.co, Softinn, dan Carousell.

Setelah hiatus selama tiga tahun, pada tahun ini TOP100 bakal memanfaatkan platform e27 Pro Connect yang telah mendukung hampir 20 ribu koneksi online antara startup dan investor.

Dalam pelaksanaannya, pertemuan TOP100 2023 akan mengadopsi format hybrid, termasuk saat pendaftaran dan penilaian, tetapi sambil tetap mempertahankan aktivitas berjejaring secara offline di berbagai kota di Asia Tenggara.

Ada dua hal baru yang diterapkan dalam program tahun ini, yakni menambahkan kategori untuk solusi teknologi bencana (D-Tech) yang bermitra dan didukung oleh SAFE STEPS D-Tech Awards dari Prudence Foundation, dan yang kedua adalah penyertaan startup Web3.0, khususnya proyek yang menargetkan perusahaan teknologi Web2.0 sebagai pengguna atau pelanggan mereka.

Co-founder e27 Thaddeus Koh menyampaikan, kendati pitching dan showcase sebagian besar telah berevolusi secara online untuk memaksimalkan efisiensi dalam perjalanan dan manajemen waktu, namun terdapat permintaan yang kuat bagi startup, investor, dan perusahaan untuk tetap bertemu secara offline dan jaringan.

“Kami berharap untuk melihat hal-hal menarik yang telah dilakukan oleh startup Asia dan terhubung dengan komunitas secara langsung,” ucap Koh.

Selama periode seleksi, semua peserta TOP100 akan diberikan akses e27 Pro Connect agar mereka dapat terhubung dengan lebih dari 500 ribu investor yang sudah terverifikasi di dalam platform. Dari seluruh peserta yang daftar, nantinya akan dipilih 100 startup terbaik untuk dipamerkan di Echelon Asia Summit 2023 dan presentasi di panggung yang akan disaksikan banyak orang.

Dari hasil sebelumnya, banyak startup yang berhasil mengumpulkan putaran pendanaan tambahan dalam 18 bulan ke depan untuk mencapai status tahap pertumbuhan mereka.

“TOP100 selalu menjadi program yang memfasilitasi startup dapat terhubung dengan pemangku kepentingan yang paling dapat membantu bisnis mereka. Dengan memberikan peserta akses ke e27 Pro Connect dan menampilkan semi-finalis selama Echelon, kami bertujuan untuk membantu memulai dan meningkatkan perjalanan penggalangan dana mereka,” lanjut Kho.

Startup yang tertarik dapat mendaftar terlebih dahulu melalui situs resmi TOP100. Echelon Asia Summit menyatukan startup, perusahaan, pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan investor terkemuka APAC ke Singapura. Konferensi ini dijadwalkan berlangsung pada tanggal 31 Mei hingga 1 Juni di Singapura. Pada tahun ini, konferensi dua hari ini diperkirakan akan menarik lebih dari 5.000 orang untuk membahas inovasi terbaru, kewirausahaan, pendanaan, dan lainnya.

Startup Coworking Space “CoHive” Resmi Kolaps

Startup coworking space CoHive diputus pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Putusan ini tercantum dalam putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Register No: 231/Pdt/Sus-PKPU/2022/PN.Jkt.Pst, tertanggal 18 Januari 2023.

“Menyatakan termohon PKPU (PT Evi Asia Tenggara) dalam keadaan Pailit dengan segala akibat hukumnya terhitung sejak putusan ini diucapkan,” tulis pengumuman tersebut, dikutip Rabu (1/2).

Berdasarkan pengumuman itu, Rio Sadrack M. Pantow dan Benny Marnala Pasaribu ditetapkan sebagai tim kurator. Debitor pailit, para kreditur, dan kantor pajak diminta menyaksikan sidang dan rapat lainnya.

Adapun sidang perdana diselenggarakan pada hari ini (1/2) di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pukul 10.00 WIB. Sedangkan batas akhir pengajuan kreditor adalah 9 Februari 2023 pada pukul 10.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Mengutip dari Katadata, sebelumnya Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan CoHive, PUKPS atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sementara pada 2 September 2022. PKPU adalah mekanisme penyelesaian utang untuk menghindari kepailitan.

Debitur dapat mengajukan rencana perdamaian dengan tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang pada kreditur selama periode yang telah ditetapkan oleh pengadilan. CoHive diberi waktu 45 hari sejak putusan.

Belum ada keterangan resmi yang diberikan oleh salah satu investor awal CoHive, East Ventures, mengenai kabar tersebut kepada media. Akan tetapi bila mengacu dari situsnya, saat ini CoHive masuk ke dalam kategori exit portofolio.

Perjalanan CoHive

Selain East Ventures, CoHive juga didukung oleh investor lainnya, seperti Insignia, Naver Corp, dan lain-lain. Terakhir, startup tersebut mengumumkan putaran seri B pada 2019 dengan total dana ekuitas sebesar $40 juta. Menurut sumber, pendanaan ini melambungkan valuasi perusahaan mencapai lebih dari $100 juta.

CoHive didirikan pada 2015 sebagai proyek internal East Ventures, yang awalnya dinamai EV Hive. Kemudian pada 2017 diambil alih oleh Jason Lee, Carlson Lau, dan Ethan Choi yang mengganti namanya menjadi Cocowork, kemudian diganti lagi menjadi CoHive.

Perusahaan semakin ekspansif masuk ke berbagai kota. Pada 2020, perusahaan mengoperasikan 30 lokasi dengan total luas area mencapai 60 ribu meter persegi, di Jakarta, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya. Layanan yang disuguhkan cukup beragam melalui keanggotan CoHive, mulai dari workspace, coworking, private office, meeting room, sampai dengan coliving.

Ekspansi terakhirnya di Surabaya diumumkan pada 2019 menggandeng Tanrise Property dan TIFA Property sebagai mitra strategis. Pada akhir 2020, salah satu investor CoHive, Chris Angka mengambil alih sebagai CEO perusahaan.

Industri coworking space

Menurut Coworking Space Global Market Report 2022, memprediksi ukuran pasar industri coworking space global bertumbuh dari $13,60 miliar di 2021 menjadi $16,17 miliar di 2022 dengan CAGR 18,9%. Laporan tersebut juga menggarisbawahi, pertumbuhan bisnis ini sangat dipengaruhi dengan peningkatan jumlah startup, termasuk tren ruang kerja fleksibel di kalangan pekerja muda.

Faktanya, bisnis ini juga mengalami turbulensi saat dampak virus corona memuncak pada pertengahan 2020. Diperkirakan jumlah penurunan permintaan coworking space melebihi 50%, ditengarai kebijakan bekerja dari rumah yang diberlakukan oleh para pegiat startup. Di era ini, kemudian muncul tren kerja hybrid –memadukan remote working dan bekerja di kantor—membuat para pekerja lebih fleksibel untuk menentukan tempat.

Besar kemungkinan CoHive terlalu ekspansif sehingga gagal mencapai unit economy sebelum pandemi meluluhlantakkan bisnisnya.

Pemain sejenisnya, GoWork masih beroperasi di Indonesia. Perusahaan tersebut mengantongi tambahan amunisi Seri C1 pada 2021. Sejumlah investor bergabung, termasuk Gobi Partners lewat Meranti Asean Growth Fund, dan telah mengumpulkan $3,6 juta.

Salah satunya investor GoWork, Indogen Capital, menyampaikan pandangannya terkait prospek industri ini.

“Hipotesis kami melihat bahwa permintaan terhadap coworking space akan bounce back dan tetap bertumbuh secara modest. Kami melihat future of working itu akan hybrid, orang sudah terbiasa dengan produktivitas kerja yang baru selama pandemi tapi secara bersamaan tidak mau kehilangan fungsi sosial untuk bertemu tatap muka. Alhasil akses multi-lokasi dari coworking space akan menjadi strong moat dalam jangka panjang untuk address change of behavior ini,” ucap Vice President Indogen Capital Kevin Winsen.

Survei Literasi Digital 2022: “Digital Culture” Meningkat, Namun “Digital Safety” Masih Rendah

Kementerian Kominfo bersama Katadata Insight Center meluncurkan Hasil Survei Status Literasi Digital 2022. Dalam laporan tersebut terungkap beberapa fakta menarik, di antaranya Indeks Literasi Digital Nasional mendapatkan skor 3,54. Pilar Digital Culture secara umum mendapatkan skor indeks tertinggi (3,84), sedangkan pilar Digital Safety mendapatkan skor indeks terendah (3,12).

Pengukuran Indeks Literasi Digital dilakukan melalui survei tatap muka yang dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2022. Survei Status Literasi Digital Indonesia melibatkan 10.000 di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota responden dengan metode multistage random sampling.

Menurut Direktur Pemberdayaan Informatika Bonifasius W. Pudjianto, hasil survei ini yang menghasilkan data berupa indeks, menjadi acuan bagi pemerintah untuk melihat kesuksesan kinerja dan melakukan perbaikan di area yang masih kurang. Dengan demikian bisa meningkatkan kolaborasi dengan kementrian lainnya hingga pihak terkait untuk meningkatkan literasi digital masyarakat Indonesia.

“Indeks ini penting untuk mengukur apa yang sudah kita hasilkan selama beberapa tahun terakhir. Literasi digital sebagai program nasional yang kita lancarkan sampai tahun 2024 mendatang, kami memiliki target bisa menjangkau sekitar 50 juta masyarakat Indonesia diberikan literasi digital. Dan semua bisa dilakukan melalui kolaborasi dengan semua pihak terkait.”

Pengukuran Indeks Literasi Digital Indonesia 2022 mengacu kepada kerangka kerja dalam Road Map Literasi Digital 2020-2024. Kerangka kerja ini digunakan sebagai basis untuk merancang program dan kurikulum Program Gerakan Nasional Literasi Digital Indonesia 2020-2024.

Akses penggunaan internet

Dalam laporan tersebut terungkap, kebanyakan responden (85%) mengakses internet melalui handphone, sehingga mereka bisa mengakses internet di mana saja. Responden paling sering mengakses internet pada waktu petang di pukul 19.01 s/d 21.00 waktu setempat setelah mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, intensitas penggunaan internet cenderung menurun, khususnya setelah pukul 07.00.

Tercatat Gen-Y dan Z cenderung mengakses internet lebih lama dibandingkan kelompok usia lainnya. Pada kelompok muda ini, lebih banyak responden yang mengakses internet lebih dari 6 jam per harinya, sedangkan kebanyakan GEN-X dan Boomers mengakses selama 1 s/d 4 jam.

Dalam laporan juga terungkap media sosial merupakan sumber informasi terbesar bagi 72,6% responden. Begitu juga dengan televisi dan berita online yang secara konsisten menempati posisi sumber informasi kedua dan ketiga, dengan persentase 60% dan 27,5% di tahun ini.

Media sosial secara konsisten menjadi sumber informasi terpercaya kedua selama tiga tahun terakhir. Persentase responden yang mempercayai media ini secara signifikan meningkat. WhatsApp, Facebook, dan YouTube adalah tiga media sosial yang digunakan oleh lebih dari 70% responden selama tiga tahun terakhir.

Menurut Ketua Umum Siberkreasi Donny Budi Utoyo, besarnya kepercayaan masyarakat Indonesia kepada media sosial dalam hal pencarian informasi patut dicermati secara khusus. Hal ini memungkinkan besarnya penyebaran berita yang tidak benar atau disinformasi, dilihat dari cara kerja media sosial yang bukan hanya memberikan informasi yang benar namun juga berita yang tidak benar atau Hoax.

“Media sosial menjadi sumber informasi yang dipercaya nomor dua setelah televisi patut diperhatikan. Hal ini tentunya menjadi tidak masalah jika informasi yang dicari adalah benar atau konten positif, namun akan berbahaya jika berita tersebut adalah hoax,” kata Donny.

Menurut Donny penting bagi instansi pemerintah hingga pihak terkait seperti pemberitaan televisi lainnya memperhatikan hasil laporan ini. Meskipun ada kecenderungan penurunan jumlah responden yang mempercayai televisi sebagai sumber informasi di tahun 2022, namun media ini masih menjadi media yang paling banyak diakses oleh 43% responden.

Pentingnya digital safety

Hal menarik yang kemudian terungkap dalam laporan tersebut adalah, Digital Safety merupakan salah satu pilar yang mengalami kenaikan paling sedikit. Pada
pilar ini, sebagian besar dikontribusikan pada indikator terbiasa membuat password yang aman dengan kombinasi angka, huruf, dan tanda baca. Sedangkan indikator kemampuan membedakan e-mail berisi spam/virus/malware berkontribusi paling kecil.

Persoalan tentang data pribadi juga menjadi salah satu poin yang dibahas dalam laporan tersebut. Makin maraknya kasus kebocoran data-data pribadi yang terjadi saat ini, menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan perlindungan terhadap data pribadi mereka. UU No. 27 tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi yang disahkan pada Oktober 2022 diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari kebocoran dan penyalahgunaan data dan risiko kejahatan siber lainnya.

Survei terhadap 10.000 responden secara nasional ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk tidak mengunggah data pribadi ke media sosial sudah relatif baik. Namun masyarakat masih perlu lebih berhati-hati agar terhindar dari berbagai kemungkinan serangan siber.

Menurut Donny menjadi penting bagi pihak terkait untuk memberikan dukungan dan panduan secara hands-on atau secara langsung kepada masyarakat Indonesia terkait dengan perlindungan data dan membagikannya secara online. Dengan demikian bisa meningkatkan kesadaran mereka terkait dengan pentinganya digital safety.

“Penerapan digital safety harus hands-on. Artinya akan lihat bagaimana menyesuaikan program yang terkait dengan digital security, bukan sekadar cara menggunakan Zoom saja, tapi untuk praktik harus hands-on, mulai dari cara install terkait dengan digital safety,” kata Donny.

Apa itu Analisis SOAR Sebagai Strategi Bisnis yang Tepat

SOAR merupakan singkatan dari Strengts (kekuatan), Opportunities (peluang), Aspirations (aspirasi), dan Results (hasil). Analisis SOAR merupakan salah satu metode strategic planning yang banyak digunakan oleh suatu kelompok organisasi atau pelaku bisnis untuk melakukan analisis dengan tujuan menetapkan strategi pengembangan bisnis.

Berbeda dengan analisis SWOT, dalam analisis SOAR hanya melihat unsur positif sehingga tidak menganalisis weakness (kelemahan) dan threats (ancaman) yang mungkin akan dihadapi oleh bisnis di masa mendatang.

Dalam thinkinsights.net dijelaskan bahwa analisis SOAR merupakan suatu pendekatan yang berfokus pada strengths (kekuatan), termasuk bagaimana kekuatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan peluang (opportunities) yang ada di masa depan agar bisa menjadi faktor pendorong untuk pengembangan bisnis Anda.

Organisasi atau pelaku bisnis yang melakukan analisis SOAR dimulai dengan mencari tahu apa kekuatan dari bisnis atau kegiatan yang dijalankan, menganalisis peluang apa saja yang ada di masa depan dan bagaimana cara memanfaatkan peluang tersebut, memberikan aspirasi berupa rencana atau langkah yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau bisnis, dan menetapkan hasil apa yang ingin dicapai serta bagaimana cara mengukur hasil tersebut.

 

Ke-empat unsur dalam analisis SOAR dikategorikan dalam faktor internal dan eksternal. Unsur strengths (kekuatan) dan aspirations (aspirasi) merupakan faktor internal yang berasal dari dalam organisasi atau bisnis, sedangkan unsur opportunities (peluang) dan results (hasil) merupakan faktor eksternal yang berasal dari luar.

Dengan melakukan analisis SOAR, pelaku bisnis bisa melihat gambaran bisnis secara lebih luas. Hasil dari analisis yang didapatkan bisa menjadi panduan dalam membuat rencana pengembangan bisnis di masa depan.

Cara Melakukan Analisis SOAR

Analisis SOAR tidak hanya dilakukan oleh individu seorang diri melainkan didapat dengan melakukan brainstorming (diskusi tukar pendapat) bersama anggota tim.

Beberapa unsur yang harus dianalisis dalam melakukan analisis SOAR adalah unsur strengths (kekuatan), opportunities (peluang), aspirations (aspirasi), dan results (hasil). Simak penjelasan berikut.

Analisis SOAR

Strengths

Hal yang perlu dianalisis dari unsur ini adalah menentukan dan menemukan apa yang menjadi kekuatan dari bisnis Anda dan bagaimana Anda akan memanfaatkan kekuatan tersebut untuk memaksimalkan produktivitas bisnis Anda. Anda dapat menganalisis kekuatan dari berbagai unsur internal mulai dari aset, keunikan bisnis atau produk hingga sumber daya yang dimiliki.

Opportunities

Anda perlu mengidentifikasi peluang apa yang ada di masa depan bagi pengembangan bisnis Anda, misalnya dengan menganalisis seberapa besar market yang dimiliki, tren apa yang saat ini ada atau kemungkinan kemunculan tren di masa mendatang, dan apakah ada peluang untuk memperluas market. Dengan begitu Anda dapat membuat strategi untuk memanfaatkan peluang tersebut secara optimal dan menjadikannya kekuatan untuk bisnis Anda.

Aspirations

Aspirasi merupakan salah satu faktor internal dimana setiap individu dalam tim dapat memberikan pendapat, ide, strategi, atau inisiatif yang dapat digunakan untuk menunjang pengembangan bisnis di masa mendatang.

Aspirasi ini harus didasarkan pada hasil analisis strengths dan opportunities yang ada, serta harus sejalan dengan visi misi yang telah ditetapkan untuk mencapai goals.

Results

Pada bagian ini, Anda menentukan hasil yang ingin dicapai dan menetapkan standar penilaian hasil. Standar penilaian akan memudahkan Anda untuk melakukan pengawasan sejauh mana hasil yang sudah dicapai.

East Ventures Pimpin Pendanaan Startup Keamanan Siber Peris.ai

Startup keamanan siber lokal Peris.ai berhasil meraih pendanaan baru yang dipimpin East Ventures. Magic Fund berpartisipasi pada pendanaan ini. Peris.ai menawarkan produk dan layanan yang bertujuan untuk memastikan keselamatan dan keamanan data, serta infrastruktur digital di kawasan Indonesia dan Asia Pasifik.

Rencananya, dana segar yang didapat akan difokuskan untuk membangun dan meningkatkan platform keamanan sibernya, meningkatkan kemampuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan machine learning, serta membina komunitas peretas (hacker) etis.

Co-Founder &  CEO Peris.ai David Samuel adalah mantan Co-Founder & CTO Ritase. Ia mendirikan Peris.ai bersama mantan Cybersecurity Head di perusahaan yang sama, Deden Gobel, yang kini menjabat sebagai CTO Peris.ai. Pengalaman dan keahlian dari keduanya telah terbukti di industri teknologi, utamanya dalam keamanan siber.

Peris.ai menawarkan 4 produk utama yaitu Pandava, Korava, Bima, dan Ganesha. Masing-masing fitur menawarkan solusi yang berbeda. Salah satunya Korava yang menyediakan platform pencari celah keamanan perusahaan (platform bounty) yang didukung oleh peretas etis, pemantauan dan perlindungan tanpa henti terhadap jaringan, sistem, dan data, serta respons insiden dan layanan pemulihan.

Selain itu, perusahaan juga mengintegrasikan AI dan machine learning untuk memungkinkan perlindungan yang lebih efisien dan efektif karena sistem dapat terus belajar dan beradaptasi dengan ancaman baru. Penggunaan AI dan machine learning memungkinkan analisis dan interpretasi data yang masif, menyediakan ragam informasi dan rekomendasi yang lebih dipersonalisasi.

Saat ini, solusi yang ditawarkan oleh Peris.ai berbasis langganan dengan paket Starter seharga $350/bulan dan paket Pro di harga $413/bulan. Sementara untuk paket Enterprise, tingkatan harga akan berbeda disesuaikan kebutuhan organisasi. Perusahaan juga menyediakan platform berbasis SaaS khusus untuk industri berisiko tinggi dan perusahaan dengan infrastruktur TI yang kompleks.

Perusahaan memiliki misi untuk menghubungkan organisasi dengan peneliti keamanan TI independen di seluruh dunia dalam satu platform dengan satu tujuan, untuk menyediakan lingkungan digital yang lebih aman. Beberapa perusahaan yang sudah menggunakan layanan Peris.ai termasuk Xfers, CrediBook, Fita, dan lainnya.

Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengungkapkan, “Tingkat keamanan suatu organisasi hanya sekuat titik terlemahnya. Hal ini membutuhkan pendekatan yang holistik, termasuk relevansi ke pasar lokal. Kami yakin Peris.ai membangun solusi keamanan siber berdasarkan kearifan lokal dan regional.”

Keamanan siber di Indonesia

Indonesia dengan 210 juta pengguna internet saat ini telah menjadi salah satu penggerak ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Meskipun begitu, pertumbuhan digital yang cepat ini juga diikuti dengan ancaman keamanan siber atau cyber security yang juga meningkat secara signifikan.

Berdasarkan data dari Laporan National Cyber Security Index (NCSI), skor indeks keamanan siber Indonesia tercatat sebesar 38,96 poin dari 100 pada 2022. Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-24 pada Global Cybersecurity Index dari 194 negara di seluruh dunia dengan skor 94,88. Angka ini juga menempatkan Indonesia di posisi ke-6 dari negara-negara di ASEAN.

Di Indonesia sendiri, isu keamanan siber bukanlah hal baru. Mulai dari perusahaan teknologi hingga internal lembaga pemerintahan tidak imun terhadap ancaman siber. Masalah kebocoran data menjadi salah satu yang paling sering terjadi di Indonesia, seperti pada Bukalapak dan Youthmanual di tahun 2019.

Pemerintah melalui BSSN juga telah menyusun strategi keamanan siber Indonesia sebagai acuan bersama seluruh pemangku kepentingan keamanan siber nasional. Fokus dari strategi ini meliputi tata kelola, manajemen risiko, kesiapsiagaan dan keamanan, perlindungan infrastruktur informasi vital, kemandirian kriptografi nasional; pembangunan kapasitas, kapabilitas, dan kualitas; kebijakan keamanan siber; dan kerja sama internasional.

Tepat pada tanggal 20 September 2022, pemerintah juga telah resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) yang telah dibahas sejak 2016. Pengesahan ini disebut sebagai sesuatu yang baik dalam hal kepastian hukum. Harapannya, UU PDP ini bisa memberi titik terang bagi kelamnya dunia maya di Indonesia.