Ikhtiar CarbonEthics Bantu Masyarakat Pesisir Sembari Pulihkan Keseimbangan Iklim

Kerusakan lingkungan global terus berlanjut mengancam habitat seluruh makhluk hidup. Langkah kecil pun dimulai oleh Agung Bimo Listyanu (CEO), Innandya Irawan (COO), dan Jessica Novia (CMO), yang bertemu di One Young World Summit 2018 di Belanda untuk memulai CarbonEthics. Saat itu, ketiganya bertugas sebagai delegasi dari masing-masing perusahaan, berusaha mencari jalan keluar untuk mengurangi emisi karbon.

“Dari situ kita aware bahwa iklim enggak bisa nunggu. Makanya, we need to do something beyond our office dan ignite the spirit dari tiap korporasi untuk mengambil aksi. Akhirnya mulai bangun CarbonEthics di Mei 2019,” kata Agung Bimo Listyanto, atau lebih akrab disapa Bimo saat dihubungi DailySocial.id.

Masing-masing co-founder ini datang dari latar belakang yang beragam. Bimo punya pengalaman sebagai geothermal engineering ditambah pernah bekerja di dunia komersial untuk sales dan marketing, serta pernah bertanggung jawab memegang fund khusus ESG. Sementara, Jessica punya segudang pengalaman di dunia kreatif, digital marketing, dan manajemen konsultasi.

Terakhir, Innandya mendalami industri energi didukung dengan pengalaman lainnya di bidang commercial and investment appraisal, strategi dekarbonisasi, dan lainnya. Seluruh kemampuan dari ketiganya mendukung satu sama lain dalam merancang visi dan misi CarbonEthics. Sebagai catatan, ketiga co-founder ini baru akan full time di CarbonEthics per Januari 2023 mendatang.

“Sejak awal kami melabelkan diri sebagai corporate activist, yang punya privileges mendorong korporasi dari dalam. Tapi perlu juga untuk dorong dari luar, seperti mengevaluasi kebijakan dari perusahaan yang dirasa masih kurang bagi lingkungan. Kami buat CarbonEthics karena kami ingin reach lebih banyak pihak turut serta.”

Site visit di Kepulauan Seribu / CarbonEthics

Berdayakan masyarakat sambil mengurangi emisi karbon

Dalam upaya mengurangi emisi karbon, perjalanan CarbonEthics dimulai dengan menemui para petani di pesisir pantai untuk memulai fokus pada restorasi ekosistem biru. Salah satunya, dengan menanam mangrove, lamun, dan rumput laut. Kelompok masyarakat ini paling rentan terhadap isu lingkungan, sebab apabila permukaan air laut naik, rumah merekalah yang pertama akan tenggelam.

Terlebih, selama pandemi kesejahteraan para petani ini sangat terdampak. Penghasilan mereka bahkan turun hingga 90% karena penurunan permintaan dari restoran yang tutup, menurut temuan CarbonEthics.

“Mangrove, lamun, dan rumput laut ini bisa menyerap karbon antara 4-10x lebih banyak dari hutan di darat. Namun bukan itu yang ingin kita coba selesaikan. Tapi dari sisi isu ESG, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan economic value dari apa yang ditanam.”

Tim CarbonEthics, dibantu oleh 100 relawan, perlahan mendekati para petani pesisir untuk mulai menanam mangrove, dengan program pendampingan dari awal hingga pemantauan rutinnya. Proses menyeluruh ini dilakukan selama satu hingga dua tahun. Mangrove, lamun, atau rumput laut yang ditanam ini merupakan pesanan yang dibeli oleh konsumen CarbonEthics, entah dari konsumen ritel atau korporat.

Para petani inilah yang bertugas untuk merawatnya, dibantu oleh tim CarbonEthics dalam pendampingan. Untuk menjaga kepercayaan dari seluruh pihak, tim juga melakukan intervensi dari sisi ekonomi untuk mencegah para petani menebang atau menjual mangrove yang telah ditanam. Sejak awal pendampingan, tim mulai membentuk kelompok tani sebelum diedukasi. Kemudian bangun bedeng, pilih site, semuanya dilalui lewat izin resmi dari pemerintah setempat.

“Berjalan satu tahun kita lihat apakah mereka bisa kita edukasi untuk next step, biasanya setelah tanam mangrove, istrinya [petani] ngapain? Kita ajarkan mereka buat sabun dari bibit bekas mangrove agar bisa punya penghasilan. Lalu bisa juga buat batik dari bibit mangrove yang sudah layu, ini bisa jadi pewarna batik alami.”

Sumber: CarbonEthics

Ia tidak setuju dengan program yang on off, semua harus berkelanjutan sampai masyarakat di pesisir itu teredukasi. Bahwa mereka dapat hidup, memperoleh nilai ekonomi dengan mengandalkan mangrove.

Sejauh ini, menurut Bimo, CarbonEthics telah memiliki tiga area penanaman yang tersebar di Pulau Harapan, Kep. Seribu, Pulau Dompak, Kep. Riau, dan Padangbai, Bali. Khusus Bali, CarbonEthics menanam terumbu karang. Kendati terumbu karang ini tidak termasuk ekosistem karbon biru, namun penanaman ini diharapkan dapat merestorasi keanekaragaman hayati di dalam laut yang sudah terlanjur rusak karena ulah manusia.

Dalam menciptakan dampak pengurangan emisi karbon secara lebih luas, CarbonEthics menggaet lebih banyak korporasi agar dapat turut serta. Bimo menuturkan, pihaknya menyediakan kalkulator jejak karbon di dalam situsnya agar konsumen dapat melihat seberapa banyak emisi karbon yang terbuang dalam kehidupan sehari-hari.

Konsumen dapat menghitung jejak karbon dari kendaraan darat dan udara, listrik, makanan, dan plastik. Misalnya, akses dari rumah ke kantor dapat dihitung jaraknya dan diekstrapolasi selama satu tahun. Begitu pun dari makanan yang dikonsumsi per porsinya selama satu minggu, konsumsi plastik, dan tagihan listrik. Setelah seluruh data dimasukkan, tim akan mengirimkan dasbor yang dapat dilihat konsumen beserta rekomendasi ekosistem karbon biru yang perlu ditanam untuk restorasi emisi yang terbuang.

“Kalau konsumen korporat ada jasa servis berbayar untuk perhitungan jejak emisi sesuai dengan protokol ESG. Lalu dari situ ada rekomendasi berapa banyak karbon yang harus dikurangi, dan sisa dari emisi terbuang ini dikompensasi dengan restorasi ekosistem karbon biru.”

Sejauh ini, paket ekosistem karbon biru yang dijual CarbonEthics di situsnya telah dibeli oleh 2 ribu orang dan lebih dari 80 perusahaan turut berpartisipasi. Garnier – L’Oréal Indonesia, PT Allianz Indonesia, The Body Shop, Nike, dan lainnya adalah beberapa nama korporasi besar sudah bergabung.

Indikator dampak yang dihasilkan

Sumber: CarbonEthics

Dalam mengukur dampak bagi lingkungan, CarbonEthics mengandalkan Social Return of Investment (SROI). Setiap Rp1 yang diinvestasikan ke perusahaan akan menghasilkan nilai Rp4. Alhasil perbandingannya 1:4, hasil mengukur dari tiga aspek, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Dari aspek sosial, tim mengukur berapa banyak petani yang ikut dan teredukasi, juga berkomitmen dalam menjalankan aksi iklim. Tak lupa mengukur dari anggota keluarga dari petani yang ikut terdampak dalam program. Lalu, dari sisi ekonomi, mengukur seberapa jauh penambahan penghasilan dari dan sebelum petani ikut program. Terakhir, dari aspek lingkungan, menghitung berapa banyak karbon yang terserap, baik itu dari mangrove, lamun, atau rumput laut.

Dari laporan perusahaan saat ini, dari aspek lingkungan, CarbonEthics telah menyerap lebih dari 5,3 juta kg gas CO2e diasingkan, 68.357 pohon bakau ditanam, 3.025 bibit lamun ditanam, 4.050 bibit rumput laut ditanam, dan 4.270 karang bayi ditanam. Berikutnya dari aspek sosial, sebanyak 184.933 orang pengguna, 2.709 aksi iklim dijanjikan, 16 orang dengan peningkatan pendapatan, dan 91 langsung dan tidak langsung penerima manfaat pesisir anggota komunitas. Dari aspek ekonomi, sebanyak 22% peningkatan rata-rata pendapatan petani.

Dalam keseluruhan proses bisnis di CarbonEthics, mayoritas masih menggunakan pendekatan tradisional. Namun, kini tim sudah melengkapi aspek teknologi berbentuk platform yang digunakan petani untuk memasukkan informasi dari mangrove, baik dalam bentuk foto dan ukuran pohon selama enam bulan sekali. Informasi tersebut nantinya dipakai untuk konsumen yang membeli mangrove dari CarbonEthics.

Pasalnya, perusahaan memberlakukan jaminan garansi, bakal melakukan penanaman ulang apabila yang berlaku selama dua tahun. “Kami akan transparan memberi tahu pertumbuhan mangrove lewat situs. Ada garansi proteksi selama dua tahun sebelum mangrove stabil, apabila sebelum periode tersebut mangrove mati, akan segera kita ganti. Namun value yang selalu kita tekankan adalah kepastian mereka hidup lewat proses iterasi yang terus kita improve.”

Bimo pun memercayai prospek startup impact seperti CarbonEthics punya ruang pertumbuhan yang sangat lebar. Saat ini pangsa pasar bisnis keberlanjutan memang masih niche, tapi dari waktu ke waktu pertumbuhannya begitu pesat. Karena masih niche, timbul tantangan dari segi harga jual yang lebih mahal, membuat adopsi terasa sulit untuk menjangkau pasar yang lebih umum.

“Sekarang demand ada tapi harga masih mahal. Tapi seiring waktu, masyarakat kian teredukasi, harapannya economic of scale dapat tercipta sehingga tercipta harga jual yang sama.”

Maka dari itu, untuk menyambut pertumbuhan yang bakal lebih pesat, para co-founder CarbonEthics siap menjadi full time di bisnis ini. Ditargetkan ke depannya, perusahaan dapat memperluas area karbon biru di beberapa titik di Indonesia.

Sumber: CarbonEthics

Saat ini CarbonEthics juga tengah melakukan penggalangan dana, ditargetkan sampai dengan Desember 2022.

Disclosure: Artikel ini terbit atas kerja sama DailySocial.id dan ANGIN untuk seri Startup Impact Indonesia. ANGIN turut membantu melakukan proses kurasi startup terkait.

Rencana Startup E-commerce Enabler “Graas” Garap Pasar Indonesia

Layanan e-commerce di Indonesia hingga kini masih terus mengalami pertumbuhan. Tercatat internet ekonomi tumbuh dari $40 miliar di 2019 menjadi $70 miliar di tahun 2021. Dari nilai tersebut, $53 miliar berasal dari sektor e-commerce.

Melihat peluang tersebut saat ini banyak platform e-commerce enabler yang hadir, menawarkan teknologi hingga pengelolaan bisnis layanan e-commerce dari berbagai segmen.

Salah satu platform yang kemudian ingin menyediakan teknologi terpadu kepada layanan e-commerce adalah “Growth-as-a-Service” atau yang juga dikenal dengan Graas.

Kepada DailySocial.id Co-founder & CEO Graas Prem Bhatia menyebutkan, perusahaannya didukung oleh para profesional yang sudah memiliki pengalaman terbaik di layanan e-commerce. Setelah mendapatkan pendanaan seri A senilai $40 juta, Graas melakukan ekspansi di Indonesia.

Didukung teknologi artificial intelligence (AI)

Secara khusus Graas meluncurkan solusi “Growth-as-a-Service” untuk membantu brand meningkatkan layanan e-commerce mereka. Dengan mengedepankan visi untuk mengurangi kerumitan melalui penggunaan satu dasbor saja, diharapkan dapat mengurangi waktu brand untuk memasarkan dan menciptakan pendekatan pemasaran, inventaris, dan manajemen konten yang efisien dan terinformasi.

Saat ini Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat untuk e-commerce di dunia, dengan GMV $200 miliar. Namun demikian menurut Prem, meskipun ada potensi pertumbuhan yang signifikan, kebanyakan brand berada di bawah tekanan margin yang untuk dapat mengoptimalkan operasional layanan e-commerce mereka. Melihat hal tersebut Graas mencoba untuk mengatasi tantangan yang dihadapi para brand dalam tiga cara berbeda.

Pertama, Graas menghubungkan segmen bisnis yang sebelumnya tertutup untuk mengurangi kompleksitas data. Dengan demikian, dapat menciptakan kumpulan data terpadu yang membantu brand mengidentifikasi peluang pertumbuhan. Kedua, Graas menerapkan proprietary AI engine, untuk menganalisis kumpulan data ini dan memprediksi tren. Terakhir, Graas mengubah insight ini menjadi tindakan.

“Dengan model plug-and-play, solusi ini membuat pertumbuhan dapat diakses oleh brand dari semua ukuran, dengan kebutuhan minimal untuk menyesuaikan struktur internal mereka,” kata Prem.

Teknologi artificial intelligence (AI) yang mereka kembangkan diklaim menjadi faktor pembeda Graas dengan platform serupa lainnya. Mesin AI Graas mencakup seluruh bisnis e-commerce, end-to-end, di seluruh periklanan, etalase (konten & promosi), inventaris dan rantai pasokan.

Saat ini Graas telah mengantongi pendanaan Seri A senila $40 Juta. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Galaxy (Kejora-led SPV), Performa (multi-billion European Asset Manager-led SPV), Integra Partners, Yuj Ventures (Xander Group) dan AJ Capital. Beberapa angel investor dan pemimpin industri turut terlibat.

“Ashwin Puri (Co-founder) dan saya adalah veteran di bidang MarTech. Kami memiliki pengalaman secara dekat lanskap yang semakin kompleks yang dinavigasi oleh brand e-commerce, kami memahami potensi solusi seperti Graas,” kata Prem.

Dalam rangka mendukung laju pertumbuhan e-commerce, salah satu yang memiliki peran penting adalah perusahaan e-commerce enabler. Pada dasarnya, e-commerce enabler adalah perusahaan yang menyediakan layanan strategi digital A-Z (end-to-end) ke unit bisnis lain yang ingin menjual produknya secara online. Ragam layanan yang ditawarkan meliputi produksi konten, pembuatan halaman Official Store di marketplace, eksekusi pemasaran, integrasi kanal penjualan online, hingga pengiriman produk ke pelanggan.

Selain Graas, platform e-commerce enabler yang sudah hadir di Indonesia di antaranya adalah, aCommerce, SIRCLO, 8Commerce, JetCommerce dan Anchanto.

Ekspansi ke Indonesia

Graas telah memiliki lebih dari 350 karyawan, di 11 kantor di 7 negara. Dengan bertambahnya anggota baru dalam tim, perusahaan optimis dapat meningkatkan jumlah tersebut. Saat ini Graas berfokus untuk mempercepat pertumbuhan di kawasan ini dan membawa solusi ke lebih banyak brand besar dan kecil. Baru-baru ini perusahaan juga telah menunjuk pegawai senior utama untuk menjadi ujung tombak bisnis di Indonesia. Yaitu VP, Head of Business Indonesia Trisnia Anchali Kardia.

Trisnia Anchali Kardia selaku VP, Head of Business Graas Indonesia

Sebelumnya Trisnia menjabat sebagai CMO LINE Indonesia. Ia juga pernah bekerja di Zomato Indonesia dan Telkomsel Digital Advertising. Dengan pengalamannya yang luas di media dan industri digital di Indonesia, Trisnia akan fokus mengembangkan bisnis di salah satu pasar utama Graas.

“Layanan e-commerce di Indonesia tumbuh pada tingkat yang eksponensial dan merupakan salah satu pasar utama Graas. Setelah menunjuk Trisnia Anchali Kardia sebagai VP, Head of Business Indonesia, Graas bersemangat untuk mempercepat pertumbuhannya di Indonesia. Solusi Graas ditargetkan untuk semua brand dan pedagang yang ingin meningkatkan skala bisnis e-commerce mereka,” kata Prem.

Disinggung seperti apa strategi growth yang ideal menurut Graas, Prem menegaskan dengan growth atau pertumbuhan, hal yang rumit adalah tidak adanya strategi ;satu ukuran cocok untuk semua’. Hal ini terjadi karena semakin kompleksnya menjalankan bisnis e-commerce saat ini.

“Cara kami mengatasi ini adalah dengan memanfaatkan data untuk membuat keputusan paling optimal di setiap inci rantai. Secara tradisional, ini akan membutuhkan seluruh dukungan dari tim data science,” kata Prem.

Mau Dapat Penghasilan Dengan Berbelanja? Begini Syarat dan Cara Daftar Jadi Mitra Titipku

Titipku merupakan aplikasi yang dapat membantu penggunanya yang ingin berbelanja kebutuhan harian tanpa harus pergi ke pasar. Selain dapat membantu pengguna berbelanja ke pasar, Titipku juga membantu Anda yang ingin mendapatkan penghasilan dengan cara daftar jadi Mitra Titipku.

Mitra Titipku atau yang juga disebut dengan Jatiper berperan sebagai orang yang mewakili pengguna berbelanja ke pasar dan mengirimkan pesanan ke alamat pengiriman pengguna. Mudah, bukan? Jadi, bagaimana cara jadi Mitra Titipku?

Syarat Menjadi Mitra Titipku

Sebelum daftar menjadi Mitra Titipku atau Jatiper, terdapat beberapa persyaratan yang perlu Anda penuhi untuk menunjang proses kerja Mitra, antara lain:

  • Modal minimal sebesar 300 ribu rupiah.
  • Kendaraan sendiri dan SIM C.
  • HP Android.

Cara Daftar Jadi Mitra Titipku

Untuk menjadi Mitra Titipku, Anda dapat melakukan pendaftaran pada aplikasi Titipku Jatiper yang bisa Anda unduh secara gratis di Play Store. Kemudian, simak dan ikuti panduan berikut ini:

  • Buka aplikasi Titipku Jatiper.
  • Lalu, Anda akan masuk ke halaman login. Untuk mendaftar akun baru, klik Daftar jadi Jatiper.

  • Selanjutnya, Anda akan diminta untuk mengizinkan akses lokasi device.

  • Berikutnya, aplikasi Titipku Jatiper akan menampilkan persyaratan untuk menjadi Mitra Jatiper. Apabila Anda telah memahami dan bersedia memenuhi persyaratan tersebut, klik Mengerti.

  • Setelah itu, Anda akan masuk ke halaman form pendaftaran Mitra Titipku yang terdiri dari tiga langkah.
  • Pertama, lengkapi data diri mulai dari nama lengkap, nomor KTP, email, nomor handphone, jenis kelamin, alamat, tanggal lahir, frekuensi pergi ke pasar, hingga foto diri dan KTP. Jika semua sudah terisi, klik Lanjut.

  • Kedua, lengkapi informasi terkait modal yang dimiliki dan pasar yang dapat dijangkau oleh Mitra Titipku. Klik Lanjut.
  • Ketiga, lengkapi informasi kendaraan dan unggah foto SIM C Anda. 
  • Apabila semua informasi telah dilengkapi, klik Daftar dan pendaftaran Anda akan segera diproses.

Nah, demikian informasi mengenai cara jadi Mitra Titipku atau Jatiper bagi Anda yang ingin mendapatkan penghasilan dengan berbelanja di pasar. Menjadi Mitra Titipku sangat cocok bagi Anda yang tengah mencari ide usaha jasa untuk memperoleh pendapatan tambahan karena Titipku memiliki konsep layaknya jastip. Bagaimana? Tertarik mencoba? 

Tutorial Facebook Business Suite: Hubungkan Facebook dan Instagram Bisnis

Facebook Business Suite atau Meta Business Suite merupakan salah satu fitur dari Meta, perusahaan induk yang menaungi Facebook, Instagram dan WhatsApp. Business Suite ini menjadi alat yang membantu para pelaku usaha dalam mengelola bisnisnya secara digital.

Sebelumnya, Facebook juga memiliki fitur serupa yakni Facebook Business Manager, yang kemudian diganti dengan Business Suite. Business Suite ini menyediakan beragam layanan, mulai dari tools untuk unggah konten bisnis, kirim pesan kepada pelanggan, analisis performa konten bisnis hingga beriklan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari penggunaan Business Suite ini, pelaku usaha direkomendasikan untuk menghubungkan laman Facebook bisnis ke Instagram bisnis yang dimiliki. Ada pun langkah-langkahnya akan dijelaskan berikut ini.

Cara Menautkan Facebook Page ke Instagram Bisnis

Dengan Business Suite, pelaku usaha dapat mengelola semua aktivitas bisnis dengan saling terintegerasi. Business Suite ini berupaya menghemat aktivitas pelaku usaha, dengan membantu menghubungkan dua platform, yakni Facebook dan Instagram.

Berikut cara menambahkan akun Instagram bisnis ke akun bisnis milik pelaku usaha di desktop Meta Business Suite.

facebook business suite

  • Pilih menu ‘Settings’ atau pengaturan di sebelah kiri. Klik aset bisnis, lalu tambah aset. Pilih ‘Instagram’ dan klik ‘Connect Account’ atau hubungkan akun.

  • Tinjau dan setujui persyaratan untuk menghubungkan akun Instagram, lalu klik ‘Confirm’ atau konfirmasi. Setelah itu, masukkan nama pengguna dan kata sandi Instagram bisnis Anda, dan klik Masuk.

  • Jika sudah login di Instagram, Anda juga bisa mengklik ‘Continue as [Pemilik Akun]’ jika itu adalah akun yang ingin Anda hubungkan. Jika tidak, pilih ganti akun untuk masuk ke akun lain.
  • Jika otentikasi dua faktor diaktifkan, Business Suite meminta Anda untuk memasukkan kode keamanan.
  • Klik ‘Confirm’ atau konfirmasi.

Setelah semua tahapan telah dilalui, maka akun Instagram bisnis telah terhubung ke halaman Facebook milik pelaku usaha. Dengan begitu, pelaku usaha dapat langsung mulai mengelola aktivitas bisnis di Facebook dan Instagram secara terintegrasi.

Keuntungan Facebook Business Suite bagi pelaku UMKM

Aktivitas bisnis yang saling terintegrasi di Business Suite memberi keuntungan bagi pelaku usaha, termasuk UMKM dalam mengelola usahanya. Beberapa keuntungan yang diperoleh, antara lain sebagai berikut:

  • Segala Aktivitas Saling Terhubung

Pelaku usaha dapat menghubungkan aktivitas bisnis antara halaman Facebook dengan Instagram bisnis. Mulai dari penjadwalan posting, menanggapi pesan dan komentar, membuat iklan, dan melihat wawasan di Facebook dan Instagram.

  • Menghemat Waktu

Dengan Business Suite, pelaku usaha dapat mengakses segala tools yang digunakan dalam menjalankan bisnis, hanya melalui satu tampilan secara sederhana dan cepat.

  • Bisnis Berkembang

Dengan fitur seperti ‘Insights’ dan ‘Inbox’ atau kotak masuk, pelaku usaha dapat terbantu dalam menentukan prioritas dan menganalisis dampak bagi bisnis.

Laporan Populix: 86% Masyarakat Belanja Melalui Platform Media Sosial

Social commerce selama dua tahun terakhir melejit menjadi platform yang paling banyak digunakan untuk melakukan pembelian. Salah satu alasan mengapa social commerce makin banyak dilirik, karena konsumen ingin mencari lebih banyak pengalaman yang menarik saat berbelanja, dan juga kecepatan serta efisiensi saat pengiriman barang. Pilihan belanja di media sosial juga saat ini makin banyak dipilih oleh generasi muda.

TikTok Shop pilihan Gen Z

Dalam laporan bertajuk “The Social Commerce Landscape in Indonesia” yang dirilis oleh Populix terungkap, 52% masyarakat Indonesia sudah mengetahui akan tren transaksi jual beli melalui media sosial. Survei tersebut juga mengungkapkan 65% responden menyebutkan social commerce adalah belanja memanfaatkan media sosial.

Sementara 17% menyebutkan transaksi secara group memanfaatkan media sosial. Selebihnya melihat social commerce adalah belanja memanfaatkan teman dan melihat konten.

Sebesar 86% masyarakat Indonesia pernah berbelanja melalui platform media sosial dengan TikTok Shop (45%) sebagai platform yang paling sering digunakan, diikuti WhatsApp (21%), Facebook Shop (10%), dan Instagram Shop (10%). Kategori produk yang paling banyak dibeli oleh masyarakat melalui platform media sosial adalah pakaian (61%), produk kecantikan (43%), dan makanan dan minuman (38%).

Dalam laporan tersebut disebutkan, 4 dari 5 orang responden telah melakukan pembelian memanfaatkan media sosial. Platform yang paling banyak mereka gunakan adalah TikTok Shop dan WhatsApp. Rata-rata uang yang dikeluarkan untuk kegiatan belanja tersebut adalah Rp 200 ribu lebih. Selain TikTok dan WhatsApp, platform lainnya yang juga banyak digunakan adalah, Facebook Shop (10%), Instagram Shop (10%), Telegram, Line Shop dan Pinterest (1%).

Meskipun saat ini WhatsApp masih banyak digunakan sebagai platform pilihan kedua untuk belanja online, namun ke depannya di prediksi posisinya akan tergeser dan tergantikan oleh Instagram Shop. Riset tersebut juga menyebutkan generasi lebih tua yang kemungkinan paling banyak menggunakan WhatsApp, dibandingkan dengan generasi muda.

Dari sisi demografi pengguna terbanyak berasal dari usia 18-25 tahun. Surabaya (59%) menjadi lokasi paling banyak pengguna memanfaatkan media sosial untuk kegiatan belanja. Disusul oleh Medan (55%) dan Jakarta (54%).

Evermos menjadi “top of mind” platform social commerce

Social commerce kian populer karena menjadi opsi baru untuk berbelanja online secara mudah dan memungkinkan interaksi langsung dengan penjual sambil menjelajahi media sosial, tanpa harus berpindah aplikasi. Sementara di sisi penjual, social commerce memungkinkan mereka untuk menjangkau calon pelanggan yang lebih luas.

Dalam laporan tersebut terungkap, sebesar 46% masyarakat Indonesia masih belum mengetahui tentang kehadiran platform social commerce di Indonesia. Di antara masyarakat yang mengetahui platform social commerce, 35% dari mereka mengatakan bahwa mereka belum pernah menggunakan platform tersebut.

Informasi menarik yang kemudian juga di bagikan oleh Populix adalah, mereka yang telah menikmati layanan social commerce, kebanyakan adalah pengguna yang tinggal di wilayah secara spesifik dan menggunakan platform yang mereka sudah kenal sebelumnya. Evermos (22%), Kitabeli (14%) dan Dusdusan (12%) adalah tiga platform social commerce yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Bandung menjadi wilayah terbesar pengguna Evermos. Sementara kebanyakan pengguna KitaBeli berasal dari Surabaya.

Platform social commerce lainnya yang juga telah digunakan oleh para responden di antaranya adalah, Dagangan (9%), mapan (8%), Selleri (7%), grupin (7%), CrediMart (5%), Woobiz (5%). Usia 26-35 (24%) adalah pengguna terbanyak yang telah menggunakan platform social commerce.

Sementara Bandung menjadi lokasi paling banyak, penggunanya sudah terbiasa menggunakan platform social commerce. Disusul oleh Semarang (25%), Medan (21%) dan Jakarta (21%). Kelas bawah (24%) menjadi pengguna terbanyak untuk layanan social commerce.

“Sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui dan pernah mencoba berbelanja melalui social commerce untuk transaksi sehari-hari seperti membeli pakaian dan produk kecantikan. Lebih dari itu, pesatnya tren social commerce yang dibawa oleh pandemi Covid-19 ini, juga turut mendorong kemunculan platform-platform jual beli berbasis interaksi sosial sebagai alternatif pilihan medium berbelanja bagi masyarakat,” kata Co-Founder dan CEO Populix Timothy Astandu.

Menurut data yang dihimpun DSInnovate dalam “Social Commerce Report“, ukuran pasar platform social commerce akan mencapai $8,6 miliar di tahun 2022 ini. Social commerce menjadi relevan untuk menargetkan konsumen di luar kota metropolitan. Pendekatan online dan offline yang dilakukan menjembatani gap literasi digital berbagai kalangan yang belum terjamah layanan e-commerce.

Gabungan Sensorial dan Komunitas, Hipotesis Female Daily Buka Toko Offline

Berawal dari hobi Hanifa Ambadar menulis blog soal kecantikan dan fesyen di 2005, kini Female Daily turut meramaikan industri ritel kecantikan dengan masuk ke toko offline. Toko pertamanya berlokasi di Trans Icon Mall Surabaya yang diresmikan pada awal Agustus kemarin.

Keputusan ekspansi ini menurut Hanifa tak terlepas dari keyakinan awal bahwa industri kecantikan itu sangat sensorial. Artinya, konsumen perlu melihat, mencium, meraba tekstur, dan mencoba-coba produk agar lebih yakin dengan apa yang dibeli. Pengalaman tersebut tentunya berbeda jauh saat beli barang fesyen atau kuliner yang cukup dilihat dari visual secara online yang menarik dapat langsung menarik minat beli.

Dalam wawancara singkat bersama DailySocial.id, Co-founder dan CEO Female Daily Hanifa Ambadar bercerita, atas dasar keyakinan tersebut makanya perusahaan kerap rutin membuat acara tahunan “xBeauty”, baik dalam skala maupun kecil. Yang terbesar adalah Jakarta x Beauty yang terlaksana pada Juli 2022, sukses mendatangkan 93 ribu pengunjung.

“Female Daily kuat dengan konten, komunitas, dan beauty review dalam platform-nya. Jadi it’s only a natural expansion kami akhirnya punya e-commerce sendiri dan juga retail store-nya,” kata Hani, sapaan akrab Hanifa.

Perusahaan pertama kali merilis situs e-commerce Beauty Studio pada Juli 2020, saat awal pandemi. Adapun toko pertamanya “Female Beauty Studio” ini diklaim terbesar di vertikal toko kecantikan di Indonesia seluas 1.300 meter persegi. Katalog produknya mayoritas adalah merek lokal dengan SKU terlengkap, sisanya juga ada merek internasional.

Dalam toko tersebut secara rutin di akhir pekan membuat aktivitas bersama komunitas Female Daily atau komunitas lainnya di Surabaya. Tak hanya produk kecantikan, perusahaan juga menyediakan salon. Konsumen dapat cuci blow, potong rambut, manicure, pedicure, dan blow treatment. “Jadi benar-benar everything in one place.”

Nantinya, toko akan didukung dengan teknologi digital yang perlahan akan direalisasikan. Namun gambaran intinya adalah omnichannel, menggabungkan pengalaman online dan offline. Mulai dari scan barcode di offline untuk melihat review di aplikasi, menyatukan points antara pembelanjaan offline dan online, serta rencana untuk beli online dan diambil di toko.

Alasan memilih Surabaya, sambung Hani, karna mal ini punya kapasitas yang luas sesuai kebutuhan perusahaan. Ditambah lagi, ini adalah mal baru sehingga belum ada toko kecantikan untuk para pengunjung. Kebetulan lainnya, Trans Icon Mall Surabaya dimiliki oleh CT Corp, induk Female Daily, sehingga ada privilege untuk memanfaatkan ekosistem dalam grup.

“Pasti kami akan memprioritaskan juga mal-mal milik CT Corp karena kerja samanya akan lebih mudah. Pastinya kami akan ke kota-kota besar lainnya dulu, sebelum masuk ke kota yang lebih kecil. Karena HQ kami di Jakarta, harus segera ada di Jakarta juga dong ya.”

Sebagai catatan, Trans Icon Mall Surabaya merupakan bagian dari Trans Shopping Mall Group CT Corpora. Hingga kini, Trans Shopping Mall Group membawahi Trans Studio Mall Bandung, Trans Studio Mall Makassar, Trans Studio Mall Bali, Trans Studio Mall Cibubur, Transpark Mall Bintaro, Transpark Mall Juanda, Transmart Mall di seluruh Indonesia, dan kini Trans Icon Mall Surabaya.

Sudah cetak untung

Kebutuhan produk kecantikan saat ini tidak lagi melihat gender. Alias laki-laki pun perlu merawat diri, meski cakupan produknya tidak seluas kebutuhan perempuan. Alhasil cakupan pangsa pasarnya semakin luas dan semakin menarik untuk digeluti.

Dalam data Female Daily misalnya, profil pengguna yang terekspos dengan produk kecantikan dan bergabung semakin muda. Rata-rata berumur 14 tahun. Kelompok usia ini sudah mulai memakai produk perawatan kulit dan make up secara tipis-tipis. Secara umum, traffic dan jumlah anggota komunitas Female Daily tumbuh 200% tiap tahunnya.

“Selain itu, market laki-laki juga meluas, semakin banyak laki-laki yang aware dengan pentingnya merawat kulit dan mereka pun ingin kulitnya sehat. Apalagi kan mereka enggak pakai make up jadi lebih penting lagi untuk kulitnya terlihat terawat. Ini turut didukung dengan serbuan Hallyu (Korean wave) yang tentunya makin membuat para laki-laki ini melihat bahwa memang normal untuk laki-laki merawat kulit.”

Dalam upaya menjadi perusahaan yang berkelanjutan, Hani mengaku saat ini perusahaan sudah mencapai titik untung dan tidak aktif mencari kebutuhan pendanaan baru. Meski begitu, ia tidak menutup potensi investasi atau kerja sama lainnya yang dapat mendukung Female Daily bergerak lebih cepat dan tumbuh lebih pesat lagi.

“Female Daily hadir sebelum industri startup bermunculan dan venture capitals berdatangan. Jadi dari awal mindset kami masih cukup konvensional, di mana yang namanya bisnis harus self sustained dan harus profitable. Jadi saat ini kami sudah profitable,” pungkasnya.

Solusi “End-to-End” SolarKita untuk Pemanfaatan Tenaga Surya

Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap menjadi salah satu strategi pemerintah meningkatkan pengembangan energi terbarukan di tanah air. Hal ini terkait target yang ditetapkan pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Hingga Juni 2022, terhitung realisasi bauran EBT tersebut baru mencapai 12,8%.

Pada tahun 2018 silam, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terkait PLTS atap di Indonesia melalui Permen ESDM No. 49/2018. Hal ini terbukti berhasil meningkatkan adopsi PLTS atap dari hanya 592 pelanggan di bulan November 2018 menjadi 3.781 pelanggan di bulan Mei 2021. Lanskap yang ada mendorong kehadiran sejumlah layanan untuk mendukung pemanfaatan teknologi tersebut, salah satunya SolarKita.

SolarKita didirikan tiga orang yang melihat peluang di industri ini, yaitu Amarangga Lubis sebagai Co-Founder & CEO, Aldamanda A. Lubis sebagai Co-Founder & Chairman of The Board, dan Bambang S. Nugroho sebagai Co-Founder & Head of Technology.

Amarangga, yang lebih akrab disapa Rangga, mengungkapkan hasil kajiannya dari semua format energi baru terbarukan (EBT). Menurutnya yang paling mudah diimplementasi adalah PLTS atap. Sebelum memulai SolarKita, ia telah mencoba menggunakan teknologi ini, namun merasa sisi layanannya masih kurang memuaskan.

“Saya melihat loophole-nya ada pada kebanyakan penyedia layanan yang fokus hanya sampai program instalasi. Padahal, dari sisi pengguna, pengalamannya baru dimulai ketika PLTS-nya dipasang. Di sinilah peran kita untuk memastikan penggunaan PLTS yang optimal. Kita kembangkan platform SolarKita untuk memonitor secara aktif dan memastikan semua performance solar panel dari pengguna berjalan dengan baik,” jelas Rangga.

SolarKita menawarkan layanan end-to-end atau menyeluruh, dimulai dari konsultasi dan edukasi terkait PLTS, diikuti survei ke rumah dan memperhitungkan kondisi dan situasi untuk instalasi PLTS. Tidak berhenti di situ, timnya juga akan membantu proses transisi ke PLN. Untuk pengawasan dan pemeliharaan, perusahaan memiliki platform yang bisa digunakan para pengguna.

Gambaran cara kerja PLTS Atap. Sumber: SolarKita

“Sebenarnya tujuan kita ada untuk mempermudah pengalaman pengguna untuk transisi menggunakan PLTS. Salah satu yang ingin kita tekankan di sini adalah solusi end-to-end atau menyeluruh untuk pemanfaatan PLTS. Kita akan dampingi dari awal seiring penggunaan teknologinya,” tambah Rangga.

Sejauh ini, pemain yang berkompetisi langsung dengan SolarKita di industri adalah Xurya.

Model bisnis dan target ke depan

Secara global, pemanfaatan PLTS ini bukanlah hal baru. Meskipun demikian, di Indonesia, teknologi ini masih awam digunakan. Walau sudah mendapat dukungan dari pemerintah, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Dari sisi edukasi, masih ada stigma bahwa teknologi ini mahal sehingga banyak yang enggan memulai.

Selain itu, masih banyak yang belum paham konsepnya. Di sinilah peran SolarKita untuk bisa memberi edukasi lebih dalam. Selain itu, Rangga  menggarisbawahi regulasi yang masih dinamis, yang mempengaruhi eksekusi di lapangan. Hal ini juga terus diupayakan dan dikomunikasikan melalui Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) yang fokus pada percepatan pemanfaatan energi surya di Indonesia.

Terkait model bisnis, Rangga mengungkapkan bahwa operasional bisnisnya cukup sederhana dengan mengambil margin dari penawaran produk dan layanan. Di samping itu, perusahaan juga menyediakan program referral bagi setiap individu yang memberikan rekomendasi. Ketika berjalan lancar, konsumen akan memperoleh success fee.

Selain memberikan dampak melalui energi baru terbarukan, panel  surya dan PLTS ini disebut telah membuka industri baru. SolarKita mengaku juga memiliki potensi sosial dengan membuka lapangan kerja bagi para pekerja lapangan. “Di sini kita ingin semua masyarakat bisa terlibat. Untuk tim instalasi di lapangan, kita bermitra dengan individu/PT yang sudah kita latih. Banyak tim yang dulunya tukang listrik atau buruh. Terkait upah, kita usahakan industri baru ini bisa menyejahterakan mereka lebih dari yang sebelumnya,” tutur Rangga.

SolarKita juga menawarkan program financing yang bekerja sama dengan lembaga keuangan dan non-perbankan, seperti Bank OCBC untuk kredit multiguna dan juga KoinWorks. Untuk menawarkan proses yang lebih sederhana, perusahaan juga menyediakan opsi rent-to-own dengan konsep serupa program cicilan untuk para pengguna yang ingin memanfaatkan PLTS.

Per tahun lalu, SolarKita telah menjadi bagian dari portfolio New Energy Nexus. Perusahaan ini bergerak dan membentuk ekosistem pendanaan, program dan jaringan yang mendukung startup dan pebisnis di bidang energi bersih. Saat ini perusahaan juga telah tergabung dalam jaringan ANGIN, sebagai jembatan yang menghubungkan investor dan entrepreneur.

Hingga saat ini 80% pengguna SolarKita datang dari kaum residensial. Perusahaan memiliki tim perwakilan di Jabodetabek, Surakarta, dan Bali. Ke depannya, Rangga mengungkapkan ingin ekspansi ke kota-kota besar di Indonesia. Targetnya, perusahaan ingin mengakuisisi 1 megawatt melalui sekitar 330 rumah di tahun 2023.

Disclosure: Artikel ini terbit atas kerja sama DailySocial.id dan ANGIN untuk seri Startup Impact Indonesia. ANGIN turut membantu melakukan proses kurasi startup terkait.

Application Information Will Show Up Here

Startup “Biotech” Mycotech Lab Peroleh Dana Pra-Seri A 18 Miliar Rupiah

Startup biotech asal Indonesia Mycotech Lab (MYCL) mengumumkan telah menyelesaikan putaran pendanaan pra-Seri A senilai $1,2 juta (lebih dari 18 miliar Rupiah). Investor yang berpartisipasi di antaranya AgFunder, Temasek Lifesciences Accelerator, Fashion for Good, Third Derivative, Lifely VC, dan Rumah Group.

Modal segar ini rencananya akan digunakan Mycotech membangun dan meningkatkan produksi bahan Mylea Mycotech dari operasinya di Bandung demi memenuhi permintaan dari mitra merek fesyen. Juga, untuk mengembangkan fasilitas penelitiannya dengan membuka laboratorium penelitian di Jepang dan Singapura pada tahun ini. Harapannya, perusahaan dapat meningkatkan kualitas Mylea dan bernilai kompetitif di ranah global.

Sebagai catatan, AgFunder merupakan mitra ventura dari Grow Impact Accelerator yang diikuti Mycotech saat terpilih sebagai salah satu peserta  program tersebut. Selama program berjalan di April kemarin, peserta juga memperoleh dana segar sebesar $100 ribu dan berkesempatan ikut rangkaian pelatihan dan akses pendanaan lanjutan.

Dalam keterangan resmi, Direktur Eksekutif AgFunder Asia John Friedman berkomentar, serupa dengan tren yang telah disaksikan di industri makanan, pihaknya percaya ada peluang signifikan bagi perusahaan untuk memikirkan kembali metode produksi konvensional untuk mengubah ruang material. Perusahaan terkesan dengan semangat dan komitmen tim MYCL untuk mengembangkan produk yang memberikan semua bentuk dan fungsi yang setara dengan hewani tetapi tanpa dampak negatif terhadap etika dan lingkungan

“Dan terlebih lagi mereka berhasil mencapai ini melalui model yang hemat biaya dan sangat skalabel. Kami bangga menghitung MYCL sebagai salah satu investasi pertama kami dari AgFunder SIJ Impact Fund, dan bersemangat untuk bergabung dengan Adi dan tim dalam upaya mereka untuk menginspirasi masyarakat konsumen yang lebih berkelanjutan di persimpangan makanan dan mode,” kata Friedman.

Sementara itu, CEO Temasek Life Sciences Accelerator (TLA) dan Temasek Life Sciences Laboratory (TLL) Peter Chia mengatakan, saat ia pertama kali bertemu Adi dan timnya, begitu terasa dorongan dari mereka untuk membawa perubahan. MYCL berada pada titik belok di mana penelitian bioteknologi transdisipliner siap untuk kontribusi yang signifikan terhadap keberlanjutan.

“Kami senang bergabung dengan mereka dalam perjalanan ilmiah mereka, memberikan keunggulan kompetitif bioteknologi dan modal strategis untuk membantu MYCL berinovasi aplikasi biomaterial di jantung Asia. Kami berharap dapat menjadikan Mylea sebagai produk berkelanjutan berbasis bio yang lengkap untuk dunia yang lebih baik.”

CEO Mycotech Adi Reza Nugroho bersyukur memiliki mitra yang mau tumbuh bersama untuk mengembangkan produk agar siap pasar dan mengurangi kerusakan lingkungan dengan menghadirkan kulit miselium berdampak rendah.

“Kami juga senang bahwa selama COVID-19, MYCL berhasil mengirimkan semua produk ke kampanye Kickstarter, meningkatkan kapasitas produksi hingga 5 kali lipat, dan mendapatkan perjanjian percontohan dengan 6 merek global.” kata Adi.

Produk Mycotech / Mycotech

Perkembangan Mycotech Lab

CEO Adi Reza Nugroho mendirikan Mycotech dengan misi untuk menciptakan bahan berkualitas tinggi yang terbuat dari miselium yang memenuhi standar tertinggi industri biotek. Dia juga ingin membuat dampak nyata dengan mengurangi penggunaan hewan di industri mode dan menghadirkan bahan berkelanjutan yang memenuhi standar industri mode tanpa kompromi.

Sebagai catatan, Mycotech mengembangkan proses ilmiah baru untuk menumbuhkan produk berbasis miselium jamur, bagian vegetatif jamur sebagai perekat alami. Miselium merupakan bahan pengikat untuk membuat komposit biomaterial (Biobo) dan mengolahnya untuk membuat bahan seperti kulit (Mylea) yang kuat. Juga, material lainnya berbasis limbah pertanian yakni jagung hingga kelapa sawit. Seluruh material tersebut digunakan untuk desain produk fesyen bermitra dengan klien.

Sejauh ini, Mycotech telah mengirimkan sampel material Mylea ke 16 negara setelah kampanye Kickstarter aslinya. Portofolionya tersebar, mulai dari kerja sama dengan desainer pemenang hadiah LVMH Masayuki Ino dari Jepang, produknya dipamerkan di Paris Fashion Week S/S 2021 dan F/W 2022. Kemudian, pada Maret dan April lalu, berkolaborasi dengan merek Hijack Sandals ke pasar luar negeri dalam peluncuran sandal kulit miselium yang disebut “Mimic Mylea” secara ekslusif di Jepang.

Ke depannya, Mycotech akan membawa enam merek global, dengan salah satu merek berasal dari Fashion for Good, untuk uji coba membuat prototipe, membawa produk ke pasar, dan membuat koleksi kapsul.

Selain fokus pada Mylea, perusahaan juga akan mengembangkan riset dan penetrasi untuk dua produk lain berbahan miselium untuk jangka panjang. Biobo untuk menciptakan pola struktural termutakhir yang meremajakan ruang perumahan, industri, dan publik, serta penelitian gabungan yang memungkinkan penjelajahan lebih lanjut tentang banyak kemungkinan jamur sebagai kunci masa depan.

Saat ini, Mycotech mengoperasikan pabrik untuk fasilitas produksi berkapasitas 10.000 kaki persegi di Indonesia.

Mycotech didirikan lewat ide para alumni ITB dari usaha Growbox pada 2012, yakni solusi media tanam dari jamur hingga kemudian berkembang jadi inovasi material komposit dari kulit ramah lingkungan. Pendirinya, selain Adi Reza Nugroho, ada Ronaldiaz Hartyanto (Chief Innovation Officer), Robby Zidna Ilman (COO), Arkha Bentangan (CTO), dan Annisa Wibi Ismarlanti (CFO).

Dalam perjalanannya, solusi inovatif ini turut didukung pemerintah dengan melakukan konsolidasi kelembagaan riset dengan kampus untuk meningkatkan kualitas hasil riset dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Difasilitasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama UNS Solo dan Universitas Padjadjaran, riset ini didukung dengan pendanaan multi-tahun sebesar Rp1 miliar per tahunnya.

[Video] Pengembangan Ekosistem Akuakultur eFishery

DailySocial bersama Co-Founder dan CEO eFishery Gibran Huzaifah membahas transformasi bisnis yang dilakukan eFishery dalam melahirkan ekosistem yang mengedepankan kebutuhan para petani ikan di Indonesia.

Gibran mengatakan, saat ini eFishery tidak hanya dikenal sebagai startup pengembangan teknologi IoT untuk sektor akuakultur, tetapi juga menjadi sebuah koperasi yang membantu petani ikan mendapatkan modal pembiayaan, melakukan pembelian pakan, hingga penjualan ikan.

Seperti apa upaya eFishery mengembangkan ekosistem sektor akuakultur di Indonesia? Bagaimana target ekspansi bisnis perusahaan?

Simak pembahasan eFishery yang terangkum di video wawancara berikut.

Untuk video menarik lainnya seputar strategi bisnis dan kontribusi startup di Indonesia, kunjungi kanal YouTube DailySocialTV di sesi DScussion.

KoinWorks Resmi Luncurkan KoinLearn, Platform Belajar Gratis untuk UMKM

Setelah sukses meraih 2 juta pengguna pada hari jadinya yang ke-6, KoinWorks kini menghadirkan satu lagi terobosan baru sebagai bentuk dukungannya terhadap kemajuan UMKM di Indonesia, yaitu KoinLearn.

Platform belajar gratis KoinLearn resmi diluncurkan pada 27 September 2022 dengan tujuan mempermudah akses UMKM terhadap materi pembelajaran yang nantinya dapat digunakan untuk mengembangkan potensi bisnis.

Hadirnya KoinLearn pada aplikasi KoinWorks ini juga sejalan dengan misi pemerintah yang menargetkan 30 juta UMKM masuk ke dalam ekonomi digital di tahun 2024. Selain itu, berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLK) tahun 2019, tingkat literasi keuangan di Indonesia masih berada di 38%. Sehingga, dengan adanya fasilitas belajar gratis diharapkan KoinWorks dapat membantu menaikkan tingkat literasi keuangan di Indonesia karena 2 juta pengguna KoinWorks dapat mengakses berbagai materi untuk meningkatkan skill di bidang keuangan, bisnis, hingga pemasaran.

“Di KoinLearn, pelaku UMKM bisa belajar tanpa dipungut biaya dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan, dan masih di dalam aplikasi KoinWorks. Maka dari itu, dukungan ini akan memudahkan mereka menyelesaikan berbagai pekerjaan sekaligus belajar,” ujar Jonathan Bryan, Chief Platform Officer KoinWorks.

Tidak hanya sekedar menyediakan platform belajar, KoinWorks juga mempertimbangkan berbagai hal agar produk terbarunya ini dapat memberikan dampak yang besar, termasuk bagaimana video pembelajaran akan ditampilkan dan metode yang tepat untuk hasil belajar yang maksimal.

“KoinLearn dirancang sebagai platform belajar singkat dengan bite-sized video sekitar 2 sampai 4 menit yang sangat sesuai untuk pemilik bisnis di app KoinWorks. Kami percaya peningkatan keterampilan digital UMKM harus dijembatani dengan platform yang tepat. Pemilik bisnis adalah seseorang yang sangat sibuk, sehingga metode belajar untuk duduk dalam waktu 1 hingga 2 jam sudah tidak relevan lagi. Saat ini mereka belajar melalui sarana seperti YouTube, Instagram, sampai ke TikTok,” jelas Jonathan.

Untuk membantu meningkatkan skill para UMKM, KoinWorks telah berkolaborasi dengan sejumlah institusi dan business expert sehingga KoinWorks dapat menyediakan 70 video pembelajaran dengan topik strategi bisnis dan manajemen keuangan di KoinLearn. Fellexandro Ruby, seorang Content Creator sekaligus Entrepreneur, adalah salah satu business expert yang turut membagikan materi pada video pembelajaran KoinLearn mengenai konten digital untuk pemasaran bisnis.

“Sebetulnya belajar tidak bisa dipisahkan dari berbisnis karena sebagai pebisnis kita harus selalu upgrade diri dengan perkembangan yang ada. Adanya platform belajar seperti KoinLearn perlu diapresiasi dan menjadi nilai lebih dari KoinWorks sebagai startup fintech yang fokus pada pengembangan UMKM,” kata Fellexandro.

Selain Fellexandro, masih terdapat 15 tutor KoinLearn lainnya yang video pembelajarannya dapat dinikmati secara gratis di aplikasi KoinWorks baik bagi pengguna lama maupun pengguna baru. Meski kini telah bekerja sama dengan banyak tutor, KoinWorks juga masih membuka kesempatan untuk para business expert lainnya yang ingin bergabung di KoinLearn sebagai pengajar dengan mendaftar pada tautan ini.

KoinLearn merupakan salah satu bentuk nyata dukungan KoinWorks terhadap kemajuan bisnis UMKM Indonesia yang diharapkan akan dapat menjangkau 2 juta penggunanya hingga akhir tahun ini. KoinWorks juga tidak akan berhenti sampai di sini dalam mengembangkan produk terbarunya ini sehingga KoinWorks dapat terus menyediakan fasilitas belajar yang lengkap dan berkualitas untuk para penggunanya melalui KoinLearn.